Ah lagi-lagi masalah demam pada anak. Semoga kali ini lebih bermanfaat  buat semuanya. Karena beberapa kali mengalami demam pada anak, saya akhirnya putuskan untuk berbagi tentang cara menurunkan demam pada anak yang pernah saya lakukan pada anak saya sendiri. Bagaimana pun, demam pada anak masih menempati posisi yang cukup atas yang bikin orangtua ikut panik. Makanya, perlu sekali menggali banyak informasi tentang demam pada anak, agar setidaknya kita sudah berusaha melakukan yang terbaik dan maksimal di rumah sebelum ‘terpaksa’ membawanya ke Rumah Sakit, Bidan atau Dokter.

Ada 3 cara menurunkan demam pada anak yang sudah pernah saya lakukan selama ini :

1. Membalur anak dengan minyak bawang 

Ini koq kesannya gimana gitu ya..tapi bener loh saya sudah mencobanya setiap badan anak saya terasa kurang fit, gak cuma buat nurunin demam tapi juga pas dia lagi batuk, pilek atau rewel karena sesuatu hal yang dirasa gak nyaman di badannya. Demam pada anak bisa juga diturunkan dengan cara membaluri anak dengan minyak bawang. Bagaimana pun saya yakin memulai cara dengan yang alami adalah yang terbaik sebelum memberikan obat-obatan. Cara sederhana, cukup 1 bawang merah berukuran sedang-besar boleh dikupas boleh tidak, campurkan dengan minyak baru yang biasa kita pakai untuk menggoreng. Itu yang asli begitu, tapi saya biasanya suka menambahkan minyak telon ke dalamnya.

Setelah saya cek ke beberapa situs kesehatan ternyata aroma bawang itu luar biasa manfaatnya untuk menjaga kesehatan, diantaranya adalah :

– Minyak yang mudah menguap pada air bawang merah ternyata berguna untuk membunuh sebagian besar mikroba staphylococci, diphtheria, amuba disentri dan mikroba TBC.

– Uap bawang merah ternyata juga bermanfaat untuk membersihkan dan menyembuhkan luka.

– Menghirup aroma bawang merah dapat mengobati rasa pusing dan pingsan.

Bawang merah mengandung zat sikloaliin, sangat ampuh untuk menurunkan suhu tubuh. Termasuk zat lainnya pada bawang merah, yaitu metialiin, kuersetin, kaemfreol, dan floroglusin. Kelimanya merupakan obat alami penurun panas yang sangat bisa diandalkan.

Entah sejak kapan orangtua kita menggunakan minyak bawang sebagai cara untuk menurunkan panas, tapi yang jelas saya sudah menerima perlakukan itu sejak bayi, kami semua termasuk di keluarga mertua saya juga memiliki kebiasaan yang sama. Ternyata hasil riset Depkes pun mendukung kebiasaan orangtua kami itu, minyak bawang merah atau menghirup bau yang dikeluarkan bawang merah banyak manfaatnya untuk kesehatan.

2. Mengompres anak

Nah, cara ini masih jadi andalan saya juga untuk menurunkan demam pada anak. Banyak sekali versi tentang cara mengompres dan penggunaan air yang tepat untuk menurunkan demam pada anak ini. Saya saja sempat bingung dibuatnya. Setelah pernah melakukan kesalahan karena mengompres anak dengan air dingin atau air yang mengalir dari keran, akhirnya saya menghentikannya karena membuat anak saya justru kaget. Perbedaan suhu dari kain kompres yang diletakkan ke badannya malah membuatnya kedinginan dan menggigil. Ini sempat bikin saya panik luar biasa. Saya berganti ke air yang hangat kuku. Setelah mencoba mengompres lipatan ketiak, paha dan leher dengan kain yang sudah direndam dengan air hangat kuku, demam anak saya pun menurun. Selain tidak bikin kaget, dia tetap bisa nyaman beristirahat sambil terus mengompres tanpa henti.

3. Memberikan obat penurun panas

Senjata terakhir saya adalah obat penurun panas. Kalau suhu panasnya masih belum turun juga malah cenderung naik turun, barulah saya bantu dengan memberikan obat penurun panas. Sekali lagi, saya tidak pernah memberikan obat penurun panas ketika anak saya berusia di bawah 6 bulan. Bahkan ketika anak demam akibat imunisasi pun, hingga berusia 2 tahun saya tak pernah menurunkannya dengan obat penurun panas. Obat penurun panas saya berikan hanya jika anak demam di luar jadwal imunisasi, ‘terpaksa’ ketika dua cara di atas belum bisa menurunkan demamnya. Cara mengatasi demam pada anak akibat imunisasi berbeda dengan demam umumnya. Pokoknya obat ini biasanya senjata terakhir. Waspada jika anak punya riwayat kejang demam karena akan berbeda perlakuannya. Obat penurun panas bisa menjadi senjata awal bukan senjata akhir, karena anak yang memiliki riwayat kejang demam tidak sama dengan anak yang hanya demam saja.

Mungkin ketiga cara di atas bisa dicoba di rumah. Cukup stok bawang merah dan obat penurun panas saja. Sambil terus diawasi dengan termometer untuk mengukur suhu panasnya. Saya kalau anak demam, biasanya tidak tidur karena saya pernah ketiduran dan mendadak panasnya sudah mencapai 39 derajat celcius. Ini pengalaman saya dalam menurunkan demam pada anak. Cara menangani anak kejang demam juga berbeda, nanti akan saya ceritakan di postingan lainnya.

Intinya, kalau anak demam orangtua jangan panik. Lakukan cara-cara di atas dengan tenang dan kalau harus memberi obat penurun panas, pastikan takarannya sesuai, cek label kadaluarsanya dan berikan sesuai aturan pakai. Saya yakin ketika demam anak pun ikut berjuang melawannya sehingga kerjasama antara orangtua dan anaklah menjadi kekuatannya. Yakin kalau demam itu normal pada anak, hanya perlu dihadapi dan berusaha menurunkannya. Demikian, semoga bermanfaat.