Sebagai pembuka saya ingin berbagi tentang kegalauan saya terhadap penulisan yang benar, silaturahmi atau silaturahim. Rasa penasaran saya akhirnya menemukan penjelasan berikut ini, menurut eramuslim.com:

Yang benar adalah Silaturahim bukan silaturahmi sebagaimana disebutkan didalam nash-nash hadits tentangnya, diantaranya :

Dari Abu Ayyub Al Anshari radliallahu ‘anhu bahwa seorang laki-laki berkata; “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke surga.” Orang-orang pun berkata; “Ada apa dengan orang ini, ada apa dengan orang ini.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Biarkanlah urusan orang ini.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan sabdanya: “Kamu beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya, menegakkan shalat, dan membayar zakat serta menjalin tali silaturrahim.” Abu Ayyub berkata; “Ketika itu beliau berada di atas kendaraannya.” (HR. Bukhari)

Semoga teman-teman yang lain yang juga bingung seperti saya sekarang sudah tidak bingung lagi dengan penulisan yang benar. Tanpa menggurui karena kita kan niatnya saling berbagi dan saling belajar. Ada juga yang menyebutkan bahwa maknanya sama saja, semua kembali kepada masing-masing, namun saya sendiri lebih memilih kata silaturahim. Maka dalam penulisan pun saya akan seterusnya menggunakan silaturahim bukan silaturahmi. Demikian, semoga tulisan saya berikut ini tidak mengurangi makna dari Giveaway yang diselenggarakan mak Irowati.

***

Saya sangat yakin orang dewasa sudah paham betul tentang arti dan pentingnya silaturahim dalam kehidupan. Silaturahim bersama keluarga, teman, tetangga yang mungkin sudah kita anggap seperti saudara sendiri. Penting atau tidaknya kembali ke niat masing-masing. Bagi saya, niat ketika akan silaturahim itu justru tidak kalah pentingnya dibandingkan bersilaturahim itu sendiri. Segala hal yang diniatkan untuk semata-mata karena ibadah tentu akan membawa keberkahan tersendiri.

Menjadi seorang ibu adalah hal yang membahagiakan, meskipun di balik hal tersebut terselip tugas yang berat yakni mendidik anak tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga agar berakhlak mulia. Oleh karenanya, peranan ibu menjadi yang utama disebut-sebut ‘Ibu adalah madrasah pertama anak‘. Saya yakin meski tak mudah tapi setiap ibu tentu akan berusaha memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya. Salah satu pendidikan yang juga bermanfaat untuk menciptakan anak yang berakhlak mulia tersebut adalah mengajarkan silaturahim sejak dini.

Kita semua mengetahui bahwa anak adalah peniru ulung. Jika orang dewasa memperlihatkan perilaku yang baik maka itu jugalah yang ditiru si anak dan sebaliknya jika yang buruk maka hal buruk pulalah yang menjadi cerminannya. Seperti halnya orang tua rajin melakukan silaturahim maka anak pun akan menirunya. Silaturahim juga mengandung beberapa makna mulai dari bersosialisasi, berinteraksi, berkomunikasi bahkan menjali tali kasih.

Makna dari silaturahim itu sendiri sangat luas, itulah sebabnya kita dianjurkan untuk bersilaturahim. Bagi anak pun demikian, anak memiliki kebutuhan bersosialisasi, berinteraksi, berkomunikasi untuk tumbuh kembangnya. Saya yakin seorang anak yang senang melakukan ketika hal tersebut tentu akan memiliki kepribadian yang lebih luwes dalam bergaul, terbuka, mudah berteman sehingga kelak ketika dewasa anak akan tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan, mampu bekerjasama dan memiliki kemampuan memimpin yang baik.

Mengajarkan anak silaturahim sejak dini memang baik dan penting namun kita sebagai orangtua juga perlu mempertimbangkan dan memilih dengan baik kepada siapa anak kita menjalin silaturahim tersebut. Lingkungan, lagi-lagi lingkungan yang buruk akan mempengaruhi perkembangan mental anak, karenanya menurut saya silaturahim anak juga harus dibarengi dengan pengawasan dari orang dewasa agar ketika bersosialisasi, berinteraksi dan berkomunikasi anak melakukan yang benar sesuai norma yang ada.

Silaturahim terdekat dan termudah selain kepada keluarga adalah tetangga. Meskipun memang di perumahan terkadang sulit menjalin silaturahim tetapi saya yakin selalu ada jalan untuk bisa bersilaturahim dengan tetangga. Jika tidak setiap hari bertemu, mungkin di acara-acara khusus seperti pengajian, ke posyandu atau rapat RT/RW, kita bisa sekalian bersilaturahim dengan tetangga yang mungkin jarang kita temui karena kesibukannya. Saya sendiri karena lebih banyak menghabiskan waktu di rumah maka hampir setiap bisa bersilaturahim dengan tetangga terutama anak-anak tetangga, karena kebetulan para orangtuanya memang pekerja dan mereka selalu dijaga oleh asisten rumah tangga. Oleh karenanya, anak saya pun bisa bersilaturahim bersama anak-anak tetangga yang beberapa memang hampir seumuran dengannya.

Mulai belajar jalan bersama-main babywalker bersama-dorong mobilan (Dok. RodameMN)

Belajar jalan-babywalker-dorong mobilan (Dok. RodameMN)

Mengajarkan anak silaturahim bisa dilakukan dengan membawanya bermain bersama teman-temannya. Memintanya berbicara, berbagi makanan, berbagi mainan, saling meminjamkan mainan, menari bersama juga bersalaman. Biasanya anak-anak akan keluar di pagi dan lebih sering di sore hari. Ketika waktu itu datang, anak akan dengan sendirinya meminta untuk keluar rumah karena sudah terbiasa bersilaturahim dengan teman-temannya. Memupuk kebiasaan silaturahim pada anak tentu akan membantunya dalam bergaul di masa-masa ketika harus mulai bersekolah dan bertemu banyak orang baru.

Renang bersama (Dok. RodameMN)

Renang bersama (Dok. RodameMN)

Kebiasaan baik seperti silaturahim ini jika diteruskan tentu saja akan terbawa hingga dia dewasa kelak. Saya sangat yakin silaturahim akan membawa dampak positif bagi anak. Oleh karena itu, saya mengajak para orangtua untuk menjadikan silaturahim bagian rutin dalam kehidupan sehari-hari dan mari kita ajarkan pada anak-anak agar mereka tumbuh menjadi generasi yang peduli, senang berbagi dan penuh kasih pada sesama.

“GiveAway Indahnya Silaturahmi, Lavender Art”