“ibu, ibu harus hati-hati, anak ibu gak boleh kejang lagi, nanti sel-sel di otaknya rusak dan mengalami gangguan loh bu, ini berbahaya sekali bu!”

Kata-kata itu adalah kata-kata seorang dokter di sebuah rumah sakit di Bogor, tempat dimana saya pernah membawa anak saya untuk dirawat inap setelah sebelumnya anak saya mengalami kejang demam disertai diare. Di ruangan VIP, si dokter dengan gagahnya datang, memeriksa anak saya, setelah saya bersikukuh ingin membawa anak saya pulang ke rumah karena yakin anak saya sudah baik-baik saja.

Saya tak tahu apa maksud dari perkataan si dokter. Tapi yang jelas sebagai masyarakat awam, kata-kata si dokter bikin saya terdiam dan tak tahu harus berkata apa lagi. Si dokter membujuk saya untuk tidak pulang dulu sampai dokter anak yang bertugas memeriksa anak saya datang keesokan harinya. Tapi saya sudah tak tahan lagi melihat anak saya kesakitan dan  risih karena infus yang melingkar di tangannya. Apalagi di usianya itu dia tidak bisa diam, ingin berjalan dan berlari kesana-kemari.

Meski akhirnya saya pulang atas permintaan sendiri, ditambah lagi dengan feeling dan keyakinan seorang ibu bahwa anak saya akan baik-baik saja setelah pulang dari rumah sakit, saya pun diberi resep dokter lalu pulang ke rumah.

Kembali lagi saya teringat dengan kata-kata si dokter itu. Ibu saya pun sempat mengatakan hal yang sama, Menambah kepanikan dan rasa kuatir saya. Tapi saya tidak serta merta percaya pada kata-kata si dokter ataupun ibu saya. Akhirnya saya mencari informasi di internet. Berharap ada penjelasan ilmiah yang bisa saya terima agar saya tidak jadi panik berlebihan karena kejang demam yang menyerang anak saya.

Dan saya pun menjadi tenang setelah menemukan kata-kata di bawah ini (sumber: parenting.co.id) :

Hingga kini, tidak terbukti bahwa kejang demam mengakibatkan kerusakan pada otak anak

Artinya, semua yang dikatakan dokter atau ibu saya itu sebenarnya baru sekedar ‘katanya’ saja, belum ada bukti ilmiah yang membuktikan bahwa kejang demam pada anak berbahaya atau dapat merusak otak anak. Rasa lega menghampiri saya. Meski begitu, tetap saja saya berdoa agar kejang demam jangan terjadi lagi, karena setiap anak demam saya tetap saja merasa deg deg an dan panik.