“Kesehatan itu mahal harganya”, tentu kita semua ingat dan sepakat dengan pernyataan tersebut. Di dunia ini, kesehatan menjadi sesuatu yang benar-benar tidak bisa ditawar lagi. Ibarat kata, kesehatan itu harga mati. Bisa dibayangkan kan, kalau kesehatan kita terganggu otomatis semua hal terganggu termasuk aktifitas dalam mencari nafkah kalau sebagai suami, aktifitas mengurus rumahtangga kalau sebagai istri dan berbagai aktifitas lainnya. Yang tadinya bisa produktif malah menjadi tidak produktif dan tak berdaya. Rugi! Kesejahteraan pribadi maupun keluarga menjadi sulit dicapai.

Lain ceritanya ketika saya berada di Jepang. Program magang kerja yang digelar oleh kampus membuat saya bisa menikmati manfaat dari asuransi kesehatan pribadi. Saya masih ingat waktu itu, saya sedang berada di greenhouse. Udaranya panas bukan main. Menjelang musim panas, di Jepang memang suhu udara naik drastis. Ketika sedang sibuk panen di dalam greenhouse, seekor lebah berukuran sangat besar terbang ke arah wajah saya. Saya berusaha menangkisnya, apa daya sengatannya tidak terhindarkan, sepertinya saya memang sudah menjadi incarannya. Akhirnya lebah besar itu menyengat jari saya. Rasa sakitnya luar biasa.

Saya langsung terduduk, melipat tangan saya ke perut. Luar biasa rasanya. Tidak sampai beberapa menit, istri dari Presiden Direktur yang saat itu berada di greenhouse yang sama dengan saya menelpon suaminya, Presiden Direktur dari perusahaan tempat saya magang. Seketika itu juga, tidak sampai 10 menit, bunyi sirine ambulan terdengar nyaring, saya sudah ditunggu di depan kantor. Dengan sigap, tenaga medis keluar dari ambulan, memapah saya dan membawa saya beserta Presiden Direktur menuju rumah sakit.

Setibanya di rumah sakit, saya tidak antri. Saya langsung ditangani oleh dokter laki-laki yang kelihatannya masih  cukup muda. Dokter menanyakan berbagai hal terkait sengatan lebah besar itu. Saya menjelaskannya. Kemudian, sang dokter memberikan pengobatan dan membungkus bagian yang tersengat tersebut. Sungguh ini penanganan yang sangat cepat dan tanggap.

Tak lama kemudian, tibalah akan membayar biaya pengobatan di kasir. Saya katakan bahwa saya tidak membawa uang sepeser pun karena tadi terburu-buru dan rasa sakit membuat saya lupa bawa uang. Presiden Direktur yang penuh tanggungjawab akhirnya menyuruh saya duduk sebentar di ruang tunggu sementara beliau mengurus biaya pengobatan saya. Tak lama kemudian, saya diajak pulang kembali ke perusahaan dimana apartemen saya dan mahasiswa lainnya persis bersebelahan dengan perusahaan.

Setibanya di perusahaan, beberapa rekan kerja seruangan saya melihat dan menanyakan keadaannya saya. Mereka cukup terheran-heran karena saya tidak dirawat di rumah sakit, langsung boleh pulang dan beraktifitas kembali. Mereka bercerita, kalau orang Jepang disengat lebah jangankan yang berukuran besar, disengat yang berukuran kecil saja bisa bengkak-bengkak seluruh badan, sampai dirawat berhari-hari di rumah sakit. Tapi, syukurlah itu tak terjadi pada saya. Bagi mereka itu sebuah keajaiban.

Setelah selesai bekerja, akhirnya saya menanyakan perihal pengobatan saya di rumah sakit siang itu. Presiden Direktur alias Sachou-san kemudian menjelaskan bahwa saya termasuk mahasiswa magang kerja lainnya di perusahaan sudah memiliki asuransi kesehatan pribadi. Sebagai mahasiswa magang kerja, kami memang tak memegang kartu asuransi kesehatan tersebut, mungkin menjaga agar tetap aman, kami yang bagai anak Sachou-san dan masih bau kencur soal asuransi kesehatan pribadi itu sangat terbantu dengan hal itu. Karena terkadang saya sendiri masih sering lupa dalam menyimpan barang-barang penting termasuk paspor dan kartu identitas. Bisa kacau kan, kalau kartu asuransi kesehatan pribadi pun hilang. Bisa repot nantinya.

Dengan kata lain, biaya pengobatan saya sudah ditanggung oleh asuransi kesehatan pribadi, 100%. Saya sama sekali tak mengeluarkan biaya sepeser pun atas apa yang terjadi siang itu. Semua dibantu kepengurusannya oleh pihak perusahaan.

Kala itu, saya merasa betapa asuransi kesehatan pribadi sangat membantu saya. Kejadian itu membuat saya tersadar bahwa asuransi kesehatan itu sangat penting. Kita tak pernah tahu kapan musibah menimpa kita, jika sudah terjadi barulah kita menyesal mengapa tak mempersiapkan diri sebelumnya. Setidaknya dengan memiliki asuransi kesehatan pribadi kita sama saja dengan “sedia payung sebelum hujan”. Jangan tunggu musibah menimpa kita, bagaimanapun persiapan jauh lebih baik.

Sama halnya dengan PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life), keberadaannya di Indonesia juga bertujuan memenuhi kebutuhan  masyarakat termasuk dalam mempersiapkan diri menghadapi berbagai musibah yang terkait dengan kesehatan. Agar masyarakat seperti kita ini semakin aware dengan yang namanya asuransi kesehatan pribadi. Saya yakin sekali, Sun Life tidak semata-mata memberikan perlindungan terhadap kesehatan melalui asuransi kesehatan pribadi yang mereka tawarkan tetapi juga Sun Life sangat perduli dengan masa depan seluruh masyarakat Indonesia. Agar tak ada lagi penyesalan di kemudian hari, karena kekurangpedulian kita sebagai masyarakat terhadap pentingnya asuransi kesehatan pribadi. Bagaimanapun “mencegah lebih baik daripada mengobati”, ya kan?