Jadi ibu itu asyik ya? menyenangkan ya? bahagia ya?

Kamu udah jadi ibu, selamat ya, pasti senang sekali punya anak, ya kan?

Udah jadi ibu sekarang, anaknya cewe cowo, udah pinter apa aja? masih kerja atau di rumah aja?

Ya, pertanyaan demi pertanyaan itu datang saat status saya bertambah dari seorang istri sekarang plus seorang ibu. Banyak yang mendoakan, banyak juga yang penasaran tingkat dewa tentang keseharian saya dan keputusan saya menjadi working at home mom. Hey, what’s wrong?? gak ada yang perlu disalahin dengan pilihan hidup, selama saya menikmatinya dan saya tau apa yang menurut saya bisa membahagiakan saya, kenapa saya harus kuatir dengan pembicaraan orang lain.

Kamu kan udah S2? terussss kalau S2 gak boleh jadi working at home mom. Hellowww…

Terlepas dari semua hujaman pertanyaan itu, saya tetap memilih menjadi working at home mom. Meskipun saya gak sepenuhnya sepakat kalau dibilang jadi ibu itu menyenangkan. Kenapa? ya karena memang menurut saya itu gak 100 % menyenangkan. Kalau ada yang bilang jadi ibu itu segala rasa, ini lebih cocok buat saya. Sama halnya waktu saya baca buku Mommylicious, Catatan Dua Mama, Beda Cerita, Kaya Rasa ini. Terdiri dari 43 cerita, dibagi dalam 5 bab berdasarkan tumbuhkembang anak mulai baby born sampai ke persahabatan dua mama lengkap dengan love wishes untuk buah hati tercinta.

Lembar demi lembar saya baca perlahan. Saya yakin membaca buku-buku parenting seperti ini bagus untuk kita para ibu juga orangtua. Bagaimanapun, saya merasa seperti punya teman seperjuangan di luar sana. Serasa ada teman yang mengerti keadaan saya dan menerima saya dengan segala kekurangan saya sebagai ibu.

mommylicious-become-mommy-is-delicious-rodame-com

Tepat ketika membaca buku ini halaman 91 tentang jeritan-jeritan Asa (catatan Mama Arin), saya membuka kilas balik kejadian yang juga saya rasakan ketika anak saya Alimikal suka berteriak-teriak. Waktu mengalami kejadian itu rasanya kata senang saat menjadi ibu hilang seketika. Entah kemana terbangnya. Saya pusing, saya ikut berteriak tertahan persis seperti yang dilakukan Mama Arin. Kira-kira saya juga melakukan hal yang sama persis, ada kesal yang tak tertahan namun berusaha menahan diri dan ada amarah yang ingin diluapkan dan keluar dari mulut.

Aaaagghh, please deh Nak! (hal.91)

Hadeeh, bener-bener ya saya sibuk mondar-mandir kesana kemari, dia semakin kuat berteriak. Unbelieveable! Saya bahkan berpikir, apa yang tetangga pikirkan tentang teriakan anak saya ini. Ah tapi saya sadarkan lagi diri saya lagi, namanya juga anak-anak. Mungkin bicaranya yang belum lancar membuatnya senang berteriak untuk ungkapkan isi hatinya. Tapi alhamdulillah masa-masa itu terlewati, sekarang dia cukup diajak komunikasi saja, dia cukup mengerti maksud dan keinginan saya.

Alimikal yang penuh dengan rasa ingin tahu (Dok.Rodame MN)

Alimikal yang penuh dengan rasa ingin tahu (Dok.Rodame MN)

Tak lama kemudian, saya masuk ke halaman 95 tentang kesalahan besar (catatan Mama Rina), saya kembali lagi seperti flashback. Kejadian yang sama yang saya rasakan. Perasaan bersalah karena gak menjaga anak saya dengan benar. Memang betul kita tak boleh sepenuhnya percaya pada siapapun tentang pengasuhan anak, juga tak boleh selalu merasa baik-baik saja, atau anak akan mengerti jika dibilang jangan. Eh, buktinya, saya gagal melaksanakan tugas menjaganya. Hari itu entah kenapa saya gak memakaikannya popok sekali pakai. Dia pipis persis di area sholat, lalu aksi mengepel pun dimulai. Sesaat akan sholat, bunyi dentuman kencang di depan saya. Dia terjatuh sangat kencang, saya masih melanjutkan sholat, saya pikir semua baik-baik saja tapi saya salah besar. Saya berhenti di tengah-tengah sholat, langsung membuka mukena dan menggendongnya. Mulutnya penuh dengan darah. Dia berteriak sekencang-kencangnya. Kesehatan anak pun menjadi terganggu.

Ya Allah kesalahan saya, ini pasti kesalahan saya. Kali ini giginya yang kena. Sejak itu berhari-hari saya memikirkan kejadian itu, sampai sekarang pun saya merasa itu masih kesalahan saya. Mana mungkin salah orang lain, pasti salah saya, kenapa gak memastikan lantai yang dipel itu kering sempurna barulah sholat. Kenapa merasa anak mengerti dan gak akan lari-larian ke arah situ, saya gak mengawasinya dulu, kalau sudah tenang, lantai kering barulah sholat. Pahit sekali rasanya, menerima kenyataan gigi seri depannya harus berpindah posisi ke atas persis seperti yang dialami Mama Rina. Hanya saja bedanya Dokter gigi Monika, tempat saya membawa anak saya bilang jangan cabut gigi anak sembarangan. Justru membiarkannya saja, karena feeling-nya gigi yang naik ke atas itu perlahan akan turun dan bayi gak boleh cabut gigi sembarangan. Baiklah, saya percaya dan serahkan keputusan terbaik dari Dokter gigi tersebut. Alhamdulillah, giginya yang dulu naik ke atas itu sekarang perlahan mulai turun, saya bersyukur telah mendengar keputusan Dokter gigi Monika waktu itu.

Itu dua kejadian yang sama, saya juga mengalaminya sama seperti dua cerita, serupa tapi tak sama, seperti di dalam buku Mommylicious. Adakah dari dua cerita itu yang menyenangkan? gak sama sekali! bahkan jauh dari rasa senang. Menjadi ibu bukan melulu masalah rasa senang atau memaksakan diri untuk terlihat senang meski hati sama sekali gak senang. Itu menipu namanya. Bagi saya, rasa lain di luar rasa senang adalah juga warna lain dari berbagai cerita bagaimana menjadi ibu. Become mommy is not always happy but it is delicious. Banyak rasa, ibarat masakan, ada rasa manis yang disukai, ada rasa asam yang bikin segar, ada rasa pahit yang berkhasiat dan rasa asin yang selalu dicari. Begitulah rasa menjadi ibu. Makanan dengan berbagai rasa yang kompleks itulah yang bisa dibilang delicious alias enak. Campuran berbagai kejadian yang sedih, senang, pahit dan bahagia itulah isi di balik cerita menjadi ibu.

Awalnya pura-pura tidur,lama-lama ketiduran juga (Dok. Rodame MN)

Awalnya nemenin,lama-lama ketiduran juga (Dok. Rodame MN)

Bagaimanapun, rasa syukur atas semua campuran rasa yang kompleks itu patut disyukuri. Bukankah kita akan bosan dengan makanan yang rasanya itu itu saja, atau diberi jenis makanan yang sama setiap saat. Pastilah kita bosan. Sama, sama dengan menjadi ibu, jika semua terlihat sama dan itu-itu saja, tentulah akan berbeda jadinya, bukan delicious lagi tapi jadi undelicious. Gak mau kan punya hidup yang membosankan? itulah sebabnya menjadi ibu itu memang harus kaya rasa, campur-campur, biar tetap bisa menikmati indahnya jadi ibu.

Become Mommy is Delicious, I do Agree (Dok. Rodame MN)

Become Mommy is Delicious-Buku lecek dibaca dengan berbagai gaya (Dok. Rodame MN)

Terakhir, saya mau ucapin terimakasih atas terbitnya buku Mommylicious, karena berkat buku ini saya semakin percaya diri bahwa bukan kesempurnaan yang dikejar seorang ibu melainkan rasa delicious yang selalu dicari. Bagaimanapun buku ini berhasil membawa saya kepada berbagai kejadian yang juga saya alami, terutama 2 kejadian (jeritan-jeritan Asa-hal 91 dan kesalahan besar-hal 95) yang saya ceritakan di atas yang paling berkesan karena berasa sama persis seperti yang saya alami. Ending-nya mungkin berbeda tapi rasa syukur karena memiliki teman seperjuangan membuat saya bahagia menemukan buku Mommylicious ini.

Mungkin sedikit masukan dari saya untuk perbaikan buku Mommylicious ini, masih saya temukan beberapa penulisan yang typo juga inkonsistensi dalam menulis italic untuk bahasa asing. Tadinya saya juga berharap ada rekam jejak kreasi Cinta, Azka yang lebih banyak ditampilkan dalam buku ini, karena saya penasaran dengan bejibun hasil karya mereka yang sudah diabadikan oleh Mama Arin dan Mama Rina.

Overall buku parenting yang satu ini unik dan menarik, bahasanya jujur dan ringan, menyentuh dan tak dibuat-buat, keliatan betul bagaimana ibu yang apa adanya dalam kesehariannya. Saya menunggu Mommylicious jilid kedua dan seterusnya, yang saya yakini masih banyak cerita yang bisa dibagikan kepada para ibu untuk saling menguatkan dan percaya diri dalam menjalani hidup sebagai ibu. Buat yang belum baca, sebaiknya bacalah bukunya dan temukan bukti bahwa anda tak sendirian di dunia ini. Finally, saya bisa bilang become mommy is delicious! I totally agree.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Reader Awards @Mommylicious_id

mommylicious-rodame-com