Apa yang lebih berharga dari keluarga?

Pertanyaan itu memang sederhana. Namun untuk menjaga keluarga, tidak semudah mengucapkannya. Sebenarnya ada begitu banyak cara untuk bisa meraihnya. Sayangnya kebanyakan dari kita mengabaikan cara-cara yang sederhana dan cenderung berpikir bahwa cara yang rumit itu lebih baik.

Ini tentang saya, anak saya dan bagaimana saya begitu sepele terhadap kuman yang ternyata terus berevolusi. Di pikiran saya, kuman itu mudah ditaklukkan. Kuman itu cukup dengan menjaga kebersihan tubuh saja dan semuanya pun akan aman terkendali. Tapi nyatanya tetap saja saya kecolongan. Terlalu percaya diri hingga harus menyerah pada rasa sakit dan mengorbankan banyak hal demi kesehatan.

Anak saya Alimikal, pernah masuk rumah sakit karena demam yang tinggi, selain diare dia sempat kejang demam juga. Saya pun tanpa ragu segera membawanya ke Rumah Sakit terdekat yang notabene adalah Rumah Sakit Swasta. Setelah ditangani dengan sigap di ruang darurat akhirnya saya diminta untuk memberi izin agar anak saya dirawat disana karena ada yang mesti diperiksa lebih lanjut kuatirnya itu DB atau sejenisnya. Tidak ada kamar kelas 3 atau yang lebih murah dari itu. Hanya ada kelas VIP. Terbayangkan berapa biaya kelas VIP semalam? yes, 2,5 juta rupiah semalam. Demi kesehatan anak dan senyum bahagianya saya dan suami merogoh kocek yang tidak sedikit. Kami pasrah.

Keesokan harinya, setelah sehari sebelumnya sampel darahnya diambil akhirnya hasil pemeriksaan laboratorium di Rumah Sakit pun keluar. Mencengangkan. Bukan DB atau sejenisnya. Ada banyak bakteri jahat di dalam perut anak saya. Sangkin banyaknya, sistem kekebalan tubuh anak saya pun bereaksi hingga demam tinggi. Dia kalah oleh si bakteri jahat tersebut.

Saya coba flashback lagi, apa yang terjadi di hari-hari sebelumnya? dimana saya kecolongannya? kenapa bisa sampai banyak bakteri jahat di perut anak saya? Dokter menyarankan saya untuk melakukan satu hal. Satu hal ini sangat penting meski kebanyakan orangtua menganggapnya sepele yaitu menjaga kebersihan tubuh anak termasuk rajin mencuci tangannya setelah main, setelah dari luar rumah, setelah buang air besar dan yang lainnya.

Ternyata kunci meraih kesehatan itu sederhana. Itu adalah pencegahan yang paling mudah dan paling mungkin dilakukan setiap hari. Mencuci tangan dan mandi 2 kali sehari dengan sabun keluarga yang dapat melindungi tubuh dari kuman. Tidak cukup hanya dengan sabun biasa, kenapa? seperti yang sudah saya sebutkan di awal tadi, karena kuman terus berevolusi. Saya merasa sudah mencuci tangan dan memandikan anak dengan benar nyatanya sabunnya tak mampu melindungi anak dari berbagai kuman yang ada disekitarnya. Karena itulah dibutuhkan perlindungan lebih. Ibarat tameng untuk melindungi diri dari pedang lawan saat perang, maka sabun anti kuman adalah tameng saya untuk melindungi keluarga dari kuman.

Saya tak mau kelak menyesal lagi karena merasa sudah melakukan yang benar nyatanya tidak. Kali ini, saya memilih menggunakan sabun keluarga yang tidak sekedar membersihkan tubuh dari kotoran tapi juga sekaligus sabun anti kuman.

Apa yang kita tanam tentu itu yang kita tuai, betul? saya percaya memulai hal baik dengan mengubah kebiasaan mandi dengan sabun keluarga menjadi sabun anti kuman adalah bentuk pencegahan yang dini yang bisa dilakukan. Jangan ada lagi penyesalan. Itu kata-kata yang selalu terngiang di telinga saya. Anak, suami adalah bagian dari keluarga dan sebagai ibu, saya punya tugas untuk melindungi seluruh keluarga agar tetap sehat.

Saya selalu ingat kejadian itu, tidak pernah lupa. Sebagai ibu, tentu melihat sang buah hati tumbuh sehat adalah sebuah kebahagian yang luar biasa. Melihat anak-anak bisa bermain dan tersenyum bahagia adalah nikmat yang tak bisa digantikan dengan apapun. Keluarga adalah segalanya. Saya ingin semua anggota keluarga sehat, sehat yang membahagiakan, bahagia yang menyehatkan. Karena saya bukan super mom, maka pilihan saya cuma satu yaitu menjadi ibu yang baik, berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarga. Sesederhana memberikan sabun keluarga yang melindungi lebih baik.

Nah, ibu-ibu di rumah bagaimana? Sudahkah melakukan yang terbaik demi kesehatan keluarga?