Satu-satunya memori yang selalu membekas di ingatan saya tentang penghargaan adalah ketika Presiden Direktur tempat saya magang yang dipanggil dengan Sachou di Jepang berkata,”ichinenkan ishokenmei ganbatta kara, arigatou ne mero chan”. Artinya kira-kira begini, kamu telah sungguh-sungguh dan bekerja keras selama setahun, terima kasih ya Rodame. Kalimat itu, ke luar dari orang asing yang baru saja saya kenal setahun terakhir sebelum saya kembali ke Indonesia. Air mata saya menetes dan penuh rasa haru. Bisa dibilang kata-kata dan selembar sertifikat selama magang di Jepang adalah penghargaan terbaik yang pernah saya rasakan dalam hidup saya.

Penghargaan Magang Kerja dari Perusahaan di Jepang (Dok.Rodame)

Penghargaan Magang Kerja dari Perusahaan di Jepang (Dok.Rodame)

Sejujurnya, saya tidak pernah merasa telah melakukan sesuatu yang ‘wah’. Bagi saya, melakukan yang terbaik itu sudah seharusnya. Apalagi memang segala kebutuhan sudah terpenuhi, maka motivasi untuk mendapatkan kebutuhan lainnya seperti pengalaman adalah apa yang saya impikan. Ketika saya berhasil terpilih sebagai salah satu mahasiswa yang magang kerja ke Jepang sebagai perwakilan kampus, rasanya saya tak habis mengucap syukur. Saya selalu yakin penghargaan itu akan datang seiring dengan besarnya usaha dan kesungguhan kita. Maka ketika saya diutus ke Jepang, saya memang berniat untuk belajar banyak dan bersungguh-sungguh selama magang. Kalau diekspresikan dalam hati perasaan saya waktu menerima penghargaan di Jepang ya senang sekali.

Ekspresi Ketika Menerima Penghargaan (Dok.Rodame)

Ekspresi Ketika Menerima Penghargaan (Dok.Rodame)

Entah kenapa, saya merasa ucapan dari orang Jepang itu tulus sekali. Padahal saya baru mengenal mereka, saya buta tentang Jepang, tidak lancar berkomunikasi, tidak paham apapun tentang produk pertanian herbal, tidak tahu cara berkomunikasi dengan orang Jepang pokoknya saya benar-benar tidak tahu apa-apa. Saya dimarahin iya, dikatain ‘baka’ a.k.a goblok iya, hasil kerja dibilang jelek iya. Menangis, sedih dan merasa tak berguna, itu terjadi di masa-masa awal magang di Jepang. Apa saya berhenti dan menyerah? Tidak sama sekali. Kata-kata itu sangat membekas hingga saya selalu merasa saya harus bisa lebih baik, saya harus bekerja lebih keras dan saya harus memberikan yang terbaik. Saya menyadari bahwa itu semua untuk saya dan jika berhasil tentu dampaknya akan kembali kepada saya. Penghargaan itu ibarat pepatah yang mengatakan bahwa ‘apa yang kau tanam itu yang kau tuai’.

Bagi saya pribadi, kata-kata sederhana seperti : terima kasih atas usahamu, terimakasih atas kerja kerasnya, bisa menjadi kekuatan yang besar. Bukan hanya merasa sudah dihargai tetapi juga dianggap ada, bahwa keberadaaan kita memberikan dampak positif. Inilah letak penghargaan itu. Meskipun banyak orang yang menganggap penghargaan berupa kata-kata itu tidak penting atau kurang penting tapi bagi saya kata-kata yang tulus, yang dikeluarkan dari hati yang bersih dengan niat yang baik sangat penting.

Saya masih ingat, dulu saya juga sering dikirimi memo atau surat dari kakak asuh juga sahabat saya. Ketika saya membaca kata-kata seperti : ‘terima kasih sudah menjadi sabahat yang baik‘ atau ‘terima kasih sudah menjadi kakak asuh yang baik‘. Rasanya luar biasa, meskipun itu hanya sekedar kata-kata yang tertulis di kertas tapi bagi saya isi memo atau surat yang mengungkapkan perasaan itu berkesan sekali. Saya merasa hal seperti itu sering kali dilupakan. Mengucapkan kata-kata sebagai bentuk penghargaan kita kepada seseorang sering kali dianggap sepele. Ucapan yang tertulis di kertas memo yang sebenarnya hanya kertas biasa itu selalu teringat dalam benak saya. Iya, memang hanya kertas biasa tapi kata-kata di dalam kertas itu membuat saya menjadi merasa berguna dan berharga. Saya jadi termotivasi untuk menjadi lebih baik dengan kata-kata tersebut.

Don’t forget, a person’s greatest emotional need is to feel appreciated (H. Jackson Brown)

Nah, kalau sekarang ini penghargaan berwujud kertas sudah lebih elegan, bukan cuma sekedar ucapan atau selembar kertas biasa saja. Iya, saya jadi ingat saya pernah mendapatkan hadiah sebagai pemenang lomba dan meskipun bukan pemenang utama tapi hadiahnya bikin sumringah. Apa itu? itu adalah voucher belanja Sodexo. Tapi ya waktu itu saya belum tau kalau ternyata voucher belanjanya bisa dipakai di lebih dari 14.000 merchant Sodexo. Bisa dibelanjakan untuk berbagai keperluan rumahtangga, anak, keluarga besar, teman atau siapa saja. Mulai dari kebutuhan primer seperti pangan (beras, gula, minyak) sampai susu anak, obat gosok nenek, pisau cukur bapak mertua, kado untuk teman, semuanya bisa dibeli dengan menggunakan voucher belanja Sodexo bahkan di mini market AlfaMart sekalipun, yang kini banyak tersebar hingga ke daerah-daerah di Indonesia.

Berbagai Cara untuk Memberikan Penghargaan dari Sodexo

Berbagai Cara untuk Memberikan Penghargaan dari Sodexo

Kalau boleh saya bilang ya voucher belanja Sodexo itu ya merakyat dan mengerti sekali keinginan semua orang di berbagai kalangan. Karena tidak ada istilah voucher kelas atas. Semua orang jadi merasa beruntung memiliki voucher belanja. Karena gini sedikit curhat, saya pernah juga dapat voucher belanja selain Sodexo dan saya kesulitan menggunakannya juga kesulitan menjualnya. Meski awalnya saya senang mendapatkannya tapi akhirnya terselip rasa kecewa karena tidak bisa menikmati penghargaan tersebut. Sedih sekali rasanya.

Berbeda rasanya ketika saya memperoleh hadiah berupa voucher belanja Sodexo selain merasa senang sekali, saya juga merasa dihargai ‘lebih’, saya semakin ingin melakukan hal-hal yang lebih baik. Usaha saya diapresiasi dan dinobatkan menjadi salah satu yang layak diberi gelar ‘pemenang’. Saya juga bisa membantu orang yang membutuhkan juga menyenangkan keluarga dengan berbagi. Inilah yang menjadi poin penting lainnya, bahwa sebuah penghargaan itu bukan cuma menyenangkan dan memuaskan diri sendiri tetapi juga membantu dan membahagiakan orang lain. Saya yakin penghargaan adalah cara memotivasi terbaik untuk melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar ‘baik’ atau ‘bagus’. Hadiah itu juga yang memacu semangat saya untuk belajar menulis agar bisa memenangkan berbagai lomba menulis lainnya.

Voucher belanja Sodexo adalah cara menghargai yang ‘lebih’. Karena ketika kita memilikinya kita tidak sekedar menghargai diri sendiri dengan menggunakannya sesuai kebutuhan dan keinginan kita tetapi juga bisa menjadi cara untuk menghargai siapapun dengan membelikan sesuatu yang berharga dan bermanfaat. Cara menghargai di era digital memang beda ya. Dengan voucher belanja Sodexo, semua orang bisa menciptakan berjuta kebahagiaan. Orang-orang akan termotivasi untuk berbuat ‘lebih’ karena kebutuhan akan penghargaannya sudah tercapai.

Oke, jadi seberapa penting sebuah penghargaan itu bagi saya?

Sangat-sangat penting sekali. Bukan karena kata, barang, nilai, angka atau nominal di balik penghargaan itu tapi justru karena di dalamnya ada sebuah pengakuan. Karena itu, penghargaan akan sangat memengaruhi emosional saya dalam belajar dan bekerja. Saya menginginkan penghargaan atas usaha dan kerja keras yang saya lakukan karena itu sangat berarti bagi hidup dan karir saya. Bagaimanapun penghargaan adalah motivator terbesar dalam hidup saya. Meskipun saya menyadarinya untuk meraihnya memang tidak mudah. Disana ada proses, segala tenaga, waktu, pikiran bahkan air mata.

Terbayang apa yang terjadi kalau usaha dan kerja keras kita tidak dihargai, pasti sangat kecewa rasanya.

Ekspresi ketika tidak dihargai (Dok.Rodame)

Ekspresi ketika tidak dihargai (Dok.Rodame)

Karena penghargaan adalah keindahan dari sebuah pengakuan dengan kebesaran hati atas usaha dan kerja keras seseorang dimana semua orang mengingininya namun hanya sedikit yang berhasil memilikinya. Karenanya wajar saja kalau Abraham Maslow penemu teori hierarki kebutuhan mengurutkan ‘penghargaan’ di level keempat dari lima level kebutuhan manusia. Saya sendiri yakin kalau penghargaan memang sudah jadi kebutuhan manusia. Bagi saya, nilai sebuah penghargaan bukan sekedar kata dan kertas tapi pelajaran hidup berharga yang sulit digadaikan dengan apapun.