Setelah saya menceritakan tentang beberapa cara ibu-ibu menyapih anak ASI yang masuk akal, kali ini saya ingin berbagi juga tentang beberapa cara ibu-ibu menyapih anak ASI yang tidak masuk akal artinya sebaiknya jangan dilakukan karena ada dampak buruknya. Banyak sekali cara menyapih anak ASI tapi selalu saja ada cara-cara yang diajarkan atau disebarkan oleh sebagian besar ibu-ibu yang jauh dari logika manusia.

Awalnya saya pikir, mereka kan cuma ingin memberi masukan saja, tapi setelah dipikir-pikir ada baiknya diceritakan saja melalui blog, supaya setidaknya ada awareness dari kita kaum ibu sebelum mentah-mentah menerima begitu saja cara menyapih anak ASI yang tidak masuk akal ini. Karena alasan itu, akhirnya saya coba ingat-ingat kembali ke masa dimana saya akan menyapih anak saya untuk pertama kalinya. Bahwa berat memang tapi bagaimanapun semua ibu dan semua anak ASI harus melaluinya, cepat atau lambat akan tiba waktunya.

Beberapa cara ibu-ibu menyapih anak ASI yang tidak masuk akal itu adalah sebagai berikut :

1. Bawa ke dukun anak

Nah, ini cara yang cukup banyak disebut-sebut oleh nenek-nenek di sekitar saya. Awalnya kaget pas baru pertama denger, eh begitu ada yang bilang cara yang sama juga akhirnya saya paham bahwa masih banyak yang percaya akan keberhasilan cara ini. Saya coba tanya detil bagaimana caranya dukun anak itu melakukannya. Beberapa akhirnya bercerita bahwa nantinya anak akan dijampi-jampi setelah diberikan sesuatu ke mulutnya. Sesuatu itu apa? saya pun lupa menanyakannya, karena dari awal saya tidak percaya dan ingin tahu saja jadi saya hanya menjadi pendengar yang baik saja. Lalu berhasilkah? ya langsung berhasil karena mereka yang memilih cara ini adalah mereka percaya akan hal itu.

Mohon maaf sekali, tapi saya takut pada Allah, jadi saya tidak percaya dengan dukun anak juga jampi-jampinya. Kepercayaan saya mengajarkan untuk menjauhkan diri dari hal seperti itu. Jadi, menurut saya cara ini sebaiknya tidak dilakukan, memang berhasil tapi saya yakin ada cara lain yang lebih baik dan masuk akal daripada cara ini meskipun memang tidak langsung berhasil seperti yang mereka ceritakan itu.

2. Mengolesi dengan obat biru

Ini kebiasaan di kampung suami sana, menurut kebiasaan disana area tersebut diolesi dengan yang namanya obat biru. Seperti apa obat biru yang jelasnya bentuknya cair berwarna biru keunguan. Biasanya dipakai untuk mengobati luka, lecet dan sejenisnya kalau di kampung. Meski mertua juga pernah menyampaikan cara ini, tapi saya tolak baik-baik karena bagi saya cara ini tidak masuk akal. Itukan obat luar bukan obat oral yang aman jika tertelan anak, jadi saya tidak mencobanya. Berbahaya!

3. Mengolesi dengan antiseptik atau obat merah

Cara ini dengan cara sebelumnya yang obat biru sebenarnya tujuannya sama, ingin membuat anak geli dan jijik saat akan minum ASI. Tetapi keduanya termasuk berbahaya karena bukan obat yang sifatnya oral melainkan obat luar. Jadi, berbahaya kalau tertelan atau terhisap oleh anak kalau ternyata anak tersebut tetep nyosor mau ASI. Sebaiknya jangan lakukan cara menyapih anak ASI yang seperti ini. Saya pernah coba oleskan antiseptik atau obat merah itu anak saya malah penasaran dan ingin minum ASI, bukannya jijik. Akhirnya saya bersihkan saja daripada terhisap olehnya karena berbahaya.

4. Berbohong mengatakan ASI-nya tidak ada atau habis

Menurut saya cara yang terakhir ini juga tidak masuk akal. Karena anak diajarkan untuk percaya kebohongan ibunya. ASI masih ada, masih menempel di badan sang ibu, air susunya pun masih mengalir lalu karena sedang menyapih anak dari ASI, si ibu berkata “ASI-nya udah habis, udah gak ada nak?”. Secara tidak sadar ibu berbohong kepada anaknya, dan kalau anak yang cerdas itu tau betul kalau ibunya berbohong karena dia akan menyentuhnya dan mencari tau, apa benar sudah habis. Bahanyanya sang anak tau dan mendapati kenyataan bahwa ibunya berbohong, setelah membongkar baju si ibu dan bilang ‘inih, mau, mau’. Nah loh? jangan lakukan ini saat menyapih anak ASI.

Kalau saran saya, sebaiknya sampaikan hal yang jujur dan benar kepada anak ketika ingin menyapih anak ASI. Misalnya ‘nak, kamu kan sudah 2 tahun lebih, tugas ibu menyusuimu sudah selesai, kamu sekarang sudah besar dan minum susunya dari gelas/botol susu ya sayang?’. Meski gagal karena dia tak mau terima, tak apa terus saja sebutkan kata-kata itu, saya yakin ini lebih baik daripada berbohong kepada anak bilang ASI-nya habis atau tidak ada.

Bagaimanapun anak tumbuh bersama ibu, jadi yang tau betul bagaimana kondisi sang anak ya ibunya. Saya yakin semua ibu ingin yang terbaik untuknya anaknya. Jika memang sudah waktunya untuk menyapih anak ASI, maka lakukanlah dengan cara-cara yang benar yang masuk akal tentu saja. Jangan hilangkan akal sehat hanya karena buru-buru ingin anak berhenti dari ASI. Lebih baik perlahan tapi benar caranya daripada instan tapi menyakitkan anak dan berdosa. Memperhatikan kesehatan anak dan ibu baik secara psikis maupun fisik adalah hal utama. Semoga bermanfaat.