Dua kali sudah anak saya kena kejang demam. Setiap kena kejang demam, selalu saja saya merasa deg deg an. Iyalah, mana ada orangtua yang gak merasa panik ketika melihat anak batitanya tiba-tiba kejang saat demam. Apalagi untuk seorang perantau seperti saya ini, hidup jauh dari orangtua membuat saya harus lebih siap dalam menghadapi segala masalah termasuk masalah kejang demam yang tidak pernah terjadi dalam sejarah keluarga saya. Menurut penuturan ibu saya, saya dan kedua orang adik laki-laki saya sewaktu kecil tidak pernah terkena kejang demam. Berbeda dengan keluarga suami saya, yang ternyata salah satu adiknya sering mengalami kejang demam sewaktu balita.

Masih menjadi pertanyaan buat saya sendiri, apakah kejang demam diturunkan atau tidak? atau apakah kejang demam pada anak berbahaya?

Terlepas dari itu, bagaimanapun kejang demam sudah datang dan sudah terjadi pada anak saya. Apapun alasannya, yang jelas, siapapun akan panik jika itu terjadi pada buah hati tercinta. Kejang demam memang selalu datang mendadak, jadi persiapan seperti apapun kalau memang sudah waktunya datang ya datang.

Lalu, bagaimana sih cara menangani anak kejang demam?

Ini beberapa hal yang saya perhatikan dilakukan dokter jaga ketika pertama kali menangani anak saya yang kejang demam di unit gawat darurat :

1. Meletakkan anak di tempat tidur, badannya dimiringkan ke satu sisi.

2. Pakaian anak dilonggarkan, tidak boleh ada yang menganggu jalan pernafasannya.

3. Menanyakan usia dan berat badan anak saya, untuk memberikan dosis stesolid yang akan dimasukkan melalui anus anak.

4. Setelah stesolid dimasukkan ke anus anak saya, anak saya langsung kembali artinya tidak kejang lagi.

5. Biasanya, dokter jaga masih memantau suhu tubuh anak, setiap 15 menit. Karena bisa jadi panasnya naik lagi atau anak kejang berulang. Ini yang harus diwaspadai.

Ada berbagai macam jenis kejang demam. Anak saya, kalau saya perhatikan kejangnya beberapa menit, matanya melotot ke atas, sebagian badannya agak kaku. Nah, sementara itu untuk jenis kejang demam lainnya kalau saya baca ada yang kejang berulang misalnya dalam selang beberapa waktu anak kejang lagi atau disebut dengan kejang demam kompleks.

Waktu anak saya kejang demam pertama, saya menolak melakukan rawat inap, jadi setelah anak demamnya turun, saya meminta diberi resep dan rawat jalan saja. Entah kenapa, saya yakin anak saya akan baik-baik saja setelah kejadian kejang demam itu. Alhamdulillah, memang sesampainya di rumah anak sehat kembali, tapi saya diberi stesolid dan penurun panas untuk berjaga-jaga di rumah.

Berbeda ceritanya waktu anak saya demam kejang kedua. Saya tidak bisa menolak untuk rawat inap. Ada perasaan yang berbeda yang saya rasakan waktu itu. Karena anak saya juga mengalami diare, dan sepertinya dia mulai kekurangan cairan. Karena kuatir saya pun merelakan anak saya diinfus. Kasusnya sedikit berbeda, karena hasil laboratorium menunjukkan bahwa di perut anak saya ada banyak sekali bakteri jahat. Itu diduga dokter penyebab demam dan diare yang dialami anak saya, sedangkan kejang adalah reaksi dari panas yang tinggi di dalam tubuhnya.

Ternyata feeling seorang ibu itu penting ya, saya selalu merasa sesuatu ketika anak masuk unit gawat darurat. Saya bisa sangat yakin bahwa anak akan baik-baik saja dan tak perlu diinfus atau dirawat inap ada juga perasaan anak harus dirawat inap. Menurut saya, ketika anak kejang demam yang paling utama dilakukan adalah menyuntikkan stesolid. Stesolid memang tidak dijual sembarangan, sebagian apotik meminta surat dari dokter jika ingin membeli stesolid. Padahal seharusnya, jika ini untuk kebutuhan mendadak harusnya dipermudah saja. Jangan sampai orangtua terlambat menangani anaknya. Itulah sebabnya, jika memang tak tertangani atau kesulitan menangani anak kejang demam, jangan panik segeralah ke unit gawat darurat di rumah sakit terdekat.

Semoga bermanfaat.