Morning Sickness atau yang dikenal dengan mual-mual di pagi hari ketika hamil sepertinya sudah menjadi hal normal yang dialami semua ibu hamil. Ketika saya hamil dulu, saya tak pernah mengenal kata-kata morning sickness sampai akhirnya saya menemukannya dari blog-blog dan berita kesehatan online di internet. Sayangnya saya bukannya morning sickness justru noon sickness. Istilah yang saya temukan sendiri untuk kasus mual-mual di masa kehamilan anak pertama saya.

Noon berasal dari afternoon yang artinya sore hari. Ketika memasuki kehamilan 3-5 bulan saya justru mengalami noon sickness ini. Menjelang magrib, saya mulai merasa ingin muntah dan mual-mual. Saya sempat berpikir kenapa gejala saya ini berbeda dengan ibu hamil lainnya. Sampai akhirnya saya berusaha mensyukurinya karena ternyata ada banyak ibu hamil yang mengalami mual-mual sepanjang hari sepanjang masa kehamilan hingga hanya bisa terbaring di tempat tidur dengan bantuan makanan dari selang infus.

Bersyukur. Cara ini cukup ampuh membuat saya untuk tidak menyerah atau stres dalam melewati masa-masa noon sickness ini. Saya yakin sekali jika ibu stres janin justru lebih stres. Oleh karena itu, menemukan cara agar mampu melewati masa-masa tersebut adalah solusi terbaik. Benar saja, kehamilan setiap ibu memang berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahwa kita akan mengalami masa hamil dengan mual dan gejala yang sama dengan ibu yang melahirkan kita. Karena penasaran, saya akhirnya bertanya kepada ibu saya dan memintanya untuk menceritakan bagaimana dulu ketika ibu hamil anak pertama yaitu saya sendiri.

Ada memang yang sama dengan yang saya alami seperti : tidak suka aroma tanakan nasi atau bau nasi yang sudah dimasak. Sisanya berbeda, seperti : tidak suka bau bakso, hanya selera makan jika lauknya daging *bikin suami gemes. Saya paling ingat makan ayam bakar bumbu rujak di dekat rumah kontrakan yang lama. Tempatnya sederhana, rasanya nikmat dengan harga yang relatif terjangkau kala itu. Hampir tiap hari saya makan dengan lauk itu. Barulah ada nasi yang masuk ke dalam perut, jika tidak maka saya akan mogok makan atau mengganti nasi dengan roti dan bihun. Mencari semacam pengganti karbohidrat.

Saya berusaha menemukan cara agar dapat terus mengkonsumsi makanan yang bergizi dan tak sembarangan makan atau jajan di luar demi perkembangan janin di dalam perut saya. Selama hamil saya tak pernah memakan bakso, mie ayam, mie instan juga minuman ringan apapun termasuk kopi. Hanya air putih, susu dan teh. Syukurlah setelah lewat 5 bulan, semua kembali normal saya bisa makan nasi dengan lauk apapun, kalau sayuran tidak berpantang karena ketika mual pun sayuran tetap saya nikmati.

Kita pasti bisa menemukan cara agar bisa menikmati masa kehamilan, saya yakin setiap ibu hamil punya caranya masing-masing. Tentu saja caranya harus tetap logis, masuk akal dan tetap memberi khasiat pada kesehatan. Jangan menyerah apalagi sampai stres. Yuk, nikmati masa kehamilan dengan sukacita dan hati yang gembira demi janin, buah hati kesayangan yang kita idam-idamkan.