Menjelang usia 2 tahun saya sudah mulai deg degan. Kenapa? karena seperti lazimnya ibu-ibu lainnya saya harus berusaha menyapih anak saya dari ASI. Bener-bener ini tidak semudah kata orang lain. Juga tak seperti yang dibayangkan melaluinya. Jujur saja, saya sudah banyak tanya juga sana-sini, ya ke tetanggalah, ke orangtualah, ke mertualah, ke temen-temenlah dan mbah gugel tentunya. Tapi tetap saja kebanyakan tidak sesuai alias gagal total. Beberapa cara ibu-ibu menyapih Anak ASI bahkan ada yang masuk akal dan ada juga cara ibu-ibu menyapih anak ASI yang tidak masuk akal saya, jadi saya abaikan saja. Bagi saya selama masuk akal akan saya coba tapi kalau udah aneh-aneh kayaknya gak deh, makasih!

Pernah saya membaca artikel di internet, supaya mulai mengurangi pemberian ASI 3 bulan sebelum anak berusia 2 tahun. Oke, saya tertarik mencobanya. Pas udah dicoba, eh sayanya yang merasa gak tega ngasi susu formula. Waktu itu saya belum tahu kalau susu kambing itu adalah susu yang paling mendekati ASI. Jadilah saya korban susu formula yang asalnya dari ternak sapi itu. Gak berhasil, karena saya yakin ASI yang terbaik hingga 2 tahun penuh.

Sukses 2 tahun pun terlewati. Saya mulai mengatur strategi agar dia bisa berhenti dari ASI. Satu per satu masalah baru datang. Tiba-tiba kerjaan saya banyak dan saya kewalahan dalam proses menyapih. Daripada stres akhirnya saya kasih lagi ASI. Terus sampai lewat sebulan, mulai saya kurangi perlahan-lahan dan beri tambahan susu formula kalau dia minta. Terus lewat bulan kedua, masih saya kurangi perlahan dari sebelumnya, kali ini tiap dia nangis dan pegang-pegang saya minta ASI, langsung saya gendong dan ajak main sembari siapkan susunya.

Di usianya yang ke 2 tahun 3 bulan tepat di tanggal 14 tanggal lahirnya dia, hihi. Akhirnya dia pun berhenti. Tiga hari sebelum tanggal 14, inilah yang terjadi pada kami di rumah :

1.  Hari pertama adalah hari yang terberat untuk kami sekeluarga. Suami mulai pusing karena dengar teriakan nangis anak yang mau berhenti ASI. Jam tidur pun terganggu, telat masuk kantor karena ketiduran. Saya juga ikut ketiduran pas anak tidur pulas, begadang semalaman menemani anak dan siaga untuk kasi susu formula. Syukurnya suami terus mendukung soalnya dia tahu lewat 2 tahun anak mulai nyusu dengan eksplorasi. Yang ada emaknya yang kesakitan karena giginya itu.

2. Kepala mulai cenat cenut, pusing, badan gak keurus, karena harus selalu ada di dekat anak. Anak selalu senang deket ibunya meski lagi disapih sekalipun. Kayak orang marahan gitu, berpelukan tapi gak boleh minta ASI lagi. Hehe.

3. Saya mulai mikirin tetangga yang kuatir terganggu dengan teriakan dan tangisan anak saya sepanjang hari sepanjang malam. Setiap dia nangis semalaman, besoknya saya ketemu tetangga dan minta maaf kalau ikut terganggu karena dengar tangisan dan teriakan anak saya. Bagaimanapun mereka juga punya hak untuk hidup tenang kan? Saya ceritakan kalau Alimikal, anak saya sedang dalam penyapihan ASI. Syukurlah mereka cukup paham akan kondisi itu.

4. Hari kedua, seperti mayat hidup. Perjuangan dilanjutkan, setelah sehari sebelumnya berhasil saya semakin percaya diri menyapihnya. Seperti ada kekuatan yang membantu saya melewati proses menyapih ASI ini. Meski kurang tidur dan kurang makan, tetep lakukan penyapihan sampai dia tertidur pulas karena kelelahan nangis dia akhirnya mau minum susu formula. Dipikiran sang anak ‘daripada gak ada ya mendingan susu formula-lah’. Hihi. Yes berhasil!

5. Hari ketiga, jauh lebih bersemangat karena 2 hari sebelumnya sudah berhasil 100 % lepas, percaya diri saya mulai meningkat. Ada keyakinan di dalam diri saya yang membuat saya percaya anak akan berhenti minum ASI. Tiga hari ya cukuplah tiga hari itu saja dramanya, bisik saya dalam hati. Sembari terus berdoa di tiap sholat agar saya dan anak saya diberi kemudahan dalam proses penyapihan ini.

Yeay, alhamdulillah sejak hari ketiga dan seterusnya anak pun sukses dalam proses penyapihan ASI. Memang benar tidak mudah, karena anak akan melakukan segala cara agar kita luluh dan kembali memberinya ASI. Perjuangan saya udah dimulai sejak sebelum dia 2 tahun, jatuh bangun. Berhenti ASI, besoknya kasi ASI lagi dan seterusnya sampai datanglah keyakinan saya untuk memberhentikannya total di usia 2 tahun menuju 3 bulannya.

Itulah istimewanya seorang ibu, dia tahu persis kapan anak bisa berhenti dari ASI. Awalnya saya gak ngeh kalau itu semua berasal dari keyakinan dan doa-doa yang saya panjatkan kepada Allah. Saya yakin apa-apa tanpa seizin Allah ya sia-sia. Jadilah saya membawa persoalan menyapih ASI ini ke dalam doa saya. Alhamdulillah berhasil juga, meski 3 hari itu saya sudah seperti mayat hidup *plis jangan dibayangkan, hahaha. Tapi akhirnya bisa kami lalui bersama-sama.

Buat ibu-ibu yang anaknya menuju 2 tahun atau sedang berusaha menyapih, siapkan mental dan fisik! jangan gentar! Lanjutkan perjuanganmu! meski harus begadangan semalaman, jangan stres nikmati saja semampumu! sambil jaga kesehatan ya. Jangan terlalu percaya dengan cara-cara mudah yang orang-orang bilang karena menurut saya intinya ada di kesiapan mental dan fisik sang ibu juga dukungan suami adalah yang utama saat menyapih anak dari ASI. Yakinlah bahwa anak akan berhenti dari ASI dan yakinlah kalau ibu-ibu bisa melakukannya. Semangat!!