Saya masih ingat kejadian siang itu. Saya sudah berangkat kerja sejak pukul 7.00 WIB dan sudah menyiapkan semuanya dengan baik, makanan, susu, cemilan, mencuci botol susu, memberi makan dan memandikan anak-anak. Sebagai seorang ibu, semua itu sudah menjadi rutinitas saya. Ya, itulah bentuk rasa sayang dan cinta saya pada mereka, buah hati tercinta. Tentu saja terkadang terasa lelah tapi hati tenang karena saya tidak meninggalkan mereka begitu saja. Semua sudah saya siapkan. Ya, hampir semua!

Sampai akhirnya siang itu, HP saya bergetar. Jam mengajar saya hari itu cukup banyak, HP silent dan saya sering lupa menyalakan nada dering kembali. Ketika waktunya makan siang, saya pun membuka HP saya, dan ada 10 panggilan tak terjawab dari suami.

Saya telpon balik, nada suara suami menguatirkan, dia meminta saya untuk segera pulang ke rumah. Suami saya biasanya tidak menelpon kalau tidak terdesak. Dia selalu berusaha menangani apapun terutama masalah anak-anak tapi kalau urusan anak panas tinggi, dia paling panik.

Belum sempat sesuap nasi pun mendarat di mulut saya, saya buru-buru mengabari mahasiswa saya untuk izin tidak masuk, karena anak sakit. Jarak dari kampus ke rumah lumayan (20-30 menit). Naik angkutan umum yang selalu ngetem bahkan bisa makan waktu 50-60 menit. Saya pun bergegas. Setibanya di gerbang rumah, saya berlari dengan cepat. Tampak suami saya sedang menggendong Shanza

Biasanya dia riang sekali, menyambut saya ketika datang, meraih tangan saya dan mengajak saya masuk ke dalam rumah, memeluk saya dan kami saling memonyongkan mulut, saling berciuman. Sayangnya, semua itu tidak saya dapatkan saat dia sedang sakit. Dia terlihat lemah.

“Sudah dikasi penurun panas?”, tanyaku pada suami.

“Baru mau bilang, penurun panasnya disimpan dimana, tadi juga nyari tapi adanya yang sisa sedikit, ya udah itu dikasiin aja, tapi ya udah gak ada lagi, perasaan obat penurun panasnya selalu ada stoknya, tapi tadi malah gak nemu”, jawabnya.

“Aku sudah beli koq, harusnya masih ada sebotol lagi”, balasku.

Siang itu, saya merasa bersalah sekali. Ya, HARUSNYA ADA, kenyataannya tidak ada. Saya lupa kalau obat penurun panas yang dibeli kemarin sudah dikasiin ke tetangga waktu anaknya demam tinggi. Jadi memang tidak ada stok lagi. ‘Lupa’ jadi bukti betapa tak sempurnanya saya sebagai ibu. Akhirnya, saya minta suami membeli obat penurun panas di mini market dekat rumah. Dia pun bergegas dan saya masih penuh dengan rasa kesal dan sesak. Harusnya saya tidak boleh lupa. Meski begitu, saya berusaha merawatnya sebaik mungkin saat sakit.

Akhir-akhir ini, Shanza makin pandai berbicara dan selalu mengulang apa yang dikatakan orang lain walaupun belum sempurna. Dia juga sudah pandai cari perhatian mamanya, ya seperti pura-pura sakit sambil nunjukkin kakinya lalu bilang, “ammaaa, atit”. Itu salah satu tanda kalau Shanza sehat, sudah bisa pura-pura sakit lagi. Haha.

Seorang penulis buku, Asmadi menyatakan bahwa anak yang dibesarkan dengan cinta kasih sayang akan tumbuh rasa kasih sayang pada dirinya sebab anak akan meniru apa yang dilihat dan dirasakan [1]. Selanjutnya sebuah penelitian di Washington University yang dipublikasikan pada portal berita online Inggris menyebutkan bahwa ada periode sensitif dimana otak merespon lebih pada dukungan ibu, hubungan orang tua dengan anak pada masa pra sekolah sangat penting. Bahkan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa semakin cepat (dilihat dari usia) anak menerima dukungan seorang ibu, maka akan memengaruhi perkembangan otak anak [2].

So, banyak-banyaklah mengungkapkan cinta pada anak. Meski bunda adalah seorang pekerja, banyak kesibukan dan banyak kekurangan, tetaplah berusaha mengungkapkan cinta pada anak, sesederhana apapun bentuknya. Agar anak tau bahwa selalu ada cinta di hati bunda.

Mungkin anak-anak belum bisa menunjukkan rasa terima kasihnya pada kita saat ini, tapi saya selalu yakin mereka mengerti dengan melihat dan bisa merasakan ketulusan bundanya. Jika pun belum, dibandingkan rasa terima kasih dari mereka, bukankah kita akan jauh lebih bahagia ketika dewasa nanti mereka tumbuh menjadi orang-orang yang penuh kasih sayang.

Saya dan Shanza, demam turun dan nyeri hilang berkat Tempra syrup-rodame.com

Saya dan Shanza sehabis panas turun (abaikan wajah judes Shanza dan warna kulit kami yang berbeda, Haha) (Dok. rodame.com)

Referensi :

[1] Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta : Penerbit Salemba Medika.

[2] http://www.telegraph.co.uk/good-news/2016/04/27/motherly-love-helps-childrens-brains-grow-bigger-scientists-find/, diakses 27 Desember 2017.