Ibu saya seorang pegawai negeri sipil istilah membuminya adalah ‘abdi negara’ di bidang kesehatan. Ibu sudah bekerja cukup lama hingga kini disebut senior di Puskesmas Pembantu dimana ia mengabdikan diri. Hal menarik dari Ibu adalah kami sejak kecil sudah dikenalkan dengan menabung. Di sebuah celengan kaleng yaitu kaleng-kaleng bekas biskuit yang ditutup lalu diberi lubang memanjang untuk kami bisa memasukkan uang baik logam maupun kertas. Kami bertiga anak-anaknya memiliki masing-masing sebuah celengan kaleng. Ibu memberikan kami celengan kaleng tersebut agar kami kelak terbiasa untuk menabung. Herannya kami antusias sekali, padahal saya sendiri sebenarnya tidak paham untuk apa uang yang ditabung itu nanti. Mainan dan jajan, ketika itu hanya kedua hal itu yang saya pahami.

Betapa terkejutnya saya, ketika tahu bahwa celengan kalengnya ternyata sudah berat, kami pun diminta membongkar masing-masing dan menghitungnya bersama-sama. Sepertinya saya yang paling antusias ketika itu. Dengan percaya diri saya membongkar dan menghitungnya, masing-masing logam lima puluh rupiah, seratus rupiah disatukan, lima ratus puluh rupiah dan seterusnya. Kami bertiga sibuk dan tidak mengacuhkan lagi ibu yang sedang memperhatikan kira-kira celengan kaleng siapa yang isinya paling banyak.

Kecewa setengah mati ternyata isi celengan kaleng saya bukan yang terbanyak nilai nominalnya. Perasaan saya sudah paling irit, paling hemat dan paling pintar menyisihkan uang jajan. Percaya diri saya dipatahkan oleh kenyataan dimana rekor tabungan terbanyak justru dipegang oleh adik saya yang nomor dua. Karena tidak percaya saya sampai menghitung ulang dan membandingkan dengan tabungannya. Berapa kalipun diulang-ulang tetap saja itu tidak mengubah kenyataan bahwa adik laki-laki  pertama saya memegang rekor sebagai anak yang paling pintar menabung.

Pelajaran berikutnya tentang finansial yang pernah diajarkan ibu sejak kecil adalah membedakan mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang hanya keinginan semata. Intinya agar kami juga tidak boros. Pesannya hidup akan selalu dipenuhi dengan berbagai macam mainan, makanan, pakaian, dan lain-lain jadi pergunakanlah uang tabungan itu untuk hal yang benar-benar dibutuhkan bukan diinginkan. Kami bertiga dibukakan tabungan di bank dengan jumlah nominal sesuai isi celengan kaleng kami yang sudah dihitung sebelumnya. Kali ini ibu berjanji memberikan reward berupa tambahan uang tabungan sebagai apresiasi kepada anak yang memiliki tabungan paling besar hingga akhir tahun.

Akhirnya saya punya kesempatan untuk membuktikan pada ibu kalau saya juga bisa menabung bukan hanya adik laki-laki pertama saya saja yang jago. Tiap bulan ibu mengajak kami ke bank untuk menyetorkan berapapun isi dari masing-masing celengan kaleng kami. Ketiga buah buku tabungan kami dipegang oleh ibu, jadi kami tidak tahu-menahu berapa jumlah uang kami masing-masing. Hingga tiba akhirnya pengumuman pemilik uang tabungan terbanyak. Apa?? saya kaget bukan kepalang. Bukan saya! rasanya geram, kesal dan tidak terima kenyataan bahwa lagi-lagi adik laki-laki pertama saya yang memegang dua rekor sekaligus.

Padahal saya merasa sudah menabung dengan benar, menyisihkan uang jajan dengan jumlah yang lumayan dan tidak boros. Tapi kenyataannya saya masih saja kalah cerdas dibandingkan adik laki-laki pertama saya. Ada apa ini? rasa penasaran tak terbendung, meski gengsi sebagai kakak perempuan, saya beranikan diri untuk memulai pembicaraan tentang apa rahasianya sehingga dia selalu bisa punya tabungan yang lebih banyak jumlahnya daripada saya dan adik laki-laki kedua saya.

Rahasianya cuma satu. Dia pun dengan wajah super serius mengatakannya pada saya dan adik laki-laki kedua saya. Kami berdua tidak kalah seriusnya mendengarkan apa yang akan disampaikannya. Apa rahasia itu? saya terus bertanya-tanya di dalam hati. Tidak jajan! saya dan adik laki-laki kedua saya terkejut dengan jawabannya. Mana mungkin? selama ini kami memang mengelola uang yang diberikan ibu masing-masing jadi tidak pernah saling mengganggu uang jajan masing-masing. Pokoknya ibu mempercayakan uang yang diberikan pada kami.

Sementara adik laki-laki kedua saya mulai bosan dan ingin main. Wajar karena memang dia ketika itu masih TK sementara kami berdua sudah Sekolah Dasar. Saya masih serius mendengarkan penjelasannya. Apa yang dimaksud dengan tidak jajan itu? saya makin penasaran. Jajan itu hanya keinginan bukan kebutuhan, dari rumah kita sudah dibekali makanan dan minum itu artinya kebutuhan makan dan minum di sekolah sudah ada, lalu untuk apa kita jajan lagi? jajan itu hanya akan menghabiskan uang, apalagi jajan mainan yang sekarang dibeli besok juga sudah rusak dan habis. Saya kaget masih merasa tidak percaya dengan kecerdasan mentalnya, bagaimana mungkin dia seumur itu sudah paham bahwa jajan itu keinginan bukan kebutuhan.

Saya kemudian berlari ke arah ibu dan dengan antusias bertanya lebih kepada ibu tentang keberhasilan adik laki-laki pertama saya dalam menabung. Ibu senyum-senyum lalu mengambil sekotak dus besar bekas milik saya dan mengambil sebuah dompet yang bukan milik saya dari dalam kamar. Pertama ibu menunjukkan dus besar milik saya, saya senang sekali dengan bangga menceritakan bahwa saya baru saja membeli mainan baru tadi di sekolah. Kemudian ibu membuka dompet lusuh berwarna hitam bekas dompet ayah yang hampir dibuang ibu karena sudah robek disana-sini. Dompet itu jelas bukan milik saya. Lalu milik siapa?

Dompet itu dibuka oleh ibu sambil menunjukkan isi di dalam resleting yang tertutup rapat. Saya kaget, wah banyak uangnya ada uang logam tetapi kebanyakan adalah uang kertas. Saya menduga ibu pasti ingin memberikan tabungan tambahan pada saya karena saya anak perempuan satu-satunya. Dompet ini milik adikmu, adik laki-laki pertamamu. Apa?? saya terdiam lalu merenung kenapa dia bisa punya uang sebanyak itu, kan uang diberikan ibu kepada kami bertiga jumlahnya selalu sama. Ibu menjelaskan lebih lanjut, bahwa adik laki-laki pertama membagi-bagi uang yang diperolehnya dalam 2 tempat yang berbeda, pertama adalah celengan kaleng seperti yang kami semua punya isinya adalah uang yang diterima orangtua dan sanak keluarga yang sering memberikan uang ketika bertamu ke rumah. Kedua adalah dompet hitam lusuh itu yang diisinya dengan uang jajan harian dimana ibu selalu rutin berikan setiap berangkat ke sekolah. Selama sebulan penuh uang jajannya tidak tersentuh, tidak dibelikan apa-apa, utuh tersimpan di dompet hitam lusuh yang penuh sejarah itu.

Saya lalu melihat dua benda di hadapan saya, yang satu adalah kotak dus besar berisi mainan saya dan benda kedua adalah dompet hitam lusuh milik adik laki-laki pertama saya. Saya akhirnya sadar dimana letak kesalahan saya. Saya semakin paham bahwa cara saya mengelola uang jajan yang diberikan ibu ternyata belum sepenuhnya berhasil, malah terbilang lebih banyak keinginan daripada kebutuhannya. Karena mainan itu semuanya kini sebagian besar hanya pajangan dan rusak jadi tidak ada nilainya sama sekali. Berbeda dengan isi dompet hitam lusuh milik adik laki-laki pertama saya. Bentuknya boleh lusuh, kecil seperti tidak ada nilainya. Namun kenyataannya itulah bukti yang menunjukkan dia telah berhasil dalam menerapkan edukasi  finansial yang diberikan ibu kepada kami bertiga, anak-anaknya.

Setelah saya pikir-pikir kembali, ternyata edukasi finansial dari ibu dan keberhasilan adik saya menabung ketika kecil memberikan banyak pelajaran tentang bagaimana cara mengelola keuangan pribadi dengan bijak. Dengan jumlah uang jajan dan edukasi finansial yang sama ternyata hasil akhirnya bisa berbeda-beda. Penyebabnya ada beberapa hal, diantaranya adalah :

  1. Cara berpikir (mind set) : ketika menurut saya uang jajan itu boleh untuk membeli apa saja yang saya butuhkan saya justru memilih membeli mainan dan menurut saya mainan itu adalah kebutuhan bukan keinginan. Jadi saya membelinya sebagian dan sisanya baru saya tabung.  Berbeda dengan adik laki-laki pertama saya, yang menganggap uang jajan itu bukan untuk jajan tapi untuk ditabung. Jajan makanan atau minuman itu tidak perlu apalagi membeli mainan yang hanya akan menghabiskan uang ke benda yang tidak berharga sama sekali. Ini membuktikan kami berdua dengan edukasi finansial yang bersumber sama, yaitu dari ibu, bisa memiliki persepsi terhadap uang jajan dan menabung yang berbeda.
  2. Cara mengelola (management) : ketika saya sibuk mengumpulkan mainan untuk kesenangan sesaat saya, adik laki-laki pertama saya justru sibuk mengumpulkan uang jajannya di dalam dompet hitam lusuhnya. Saya mengelola uang jajan tanpa memikirkan jangka panjang sedangkan dia justru kebalikan dari saya.
  3. Cara merencanakan (planning) : ketika saya tidak memiliki rencana apa-apa dengan uang tabungan saya, adik saya justru sudah berpikir uang tabungannya itu untuk berbagai macam hal termasuk membeli kamus, membeli sepeda, membeli baju untuk nenek dan rencana-rencana lainnya tanpa ingin memberatkan kedua orangtua.

Akhirnya saya menyimpulkan bahwa melek finansial itu memang harus dimulai sejak dini. Edukasi finansial sejak dini yang diberikan ibu saya ternyata  terbukti memberi pengaruh yang signifikan kepada saya dan adik-adik saya. Meski kami diberi edukasi finansial yang terbilang sangat sederhana sejak kecil dan dalam penerapannya pun bermacam-macam, namun kami menjadi tidak buta sama sekali tentang mengelola uang, menabung dan merencanakan impian kami masing-masing. Edukasi finansial dari ibu seolah-olah bekal yang berharga kepada kami.

Hingga detik ini, saya masih terus membuka mata agar semakin melek finansial. Saya juga berencana akan meneruskan edukasi finansial yang diberikan ibu saya kepada anak-anak saya tentu saja harus ditambah dengan pengetahuan-pengetahuan keuangannya lainnya seperti asuransi dan investasi. Sebagai orangtua dan seorang ibu saya dituntut agar mampu mengedukasi anak-anak saya dalam hal finansial. Karena ternyata kesuksesan mereka juga ditentukan oleh seberapa cerdas mereka dalam mengambil keputusan keuangannya kelak.

Syukurlah saya tidak sendirian dan saya juga tidak perlu bingung harus berguru dan belajar pada siapa sekarang ini. Karena sekarang ada Sun Life Financial Indonesia di dekat saya. Kapanpun ingin belajar keuangan, saya yakin Sun Life Financial Indonesia siap membantu saya menjadi ibu yang melek finansial demi anak-anak saya agar kelak mereka memiliki pengetahuan dasar tentang keuangan dan ketika dewasa, mereka pun mampu menerapkannya dalam kehidupannya. Tentu saja tujuan utamanya adalah untuk mencapai kesejahteraan dan agar mampu memberikan perlindungan kepada keluarga, seperti yang diimpi-impikan semua orangtua pada anak-anaknya.

Jika kau tidak memiliki harta, maka ajarkanlah ilmu kepada anak-anakmu

Kelak kau akan melihat betapa ilmu mampu menjadikanmu dan anak-anakmu hidup sejahtera