Bangun jiwa bangun raganya

Kami remaja putra dan putri

Kebanggaan Tapian nauli

Kebanggaan bangsa Indonesia

Berbekal hati teguh tegar

MATAULI SMU tenar

Tempat kami rebut ragam ilmu

Tempat kami bersenda gurau

Walau hujan badai panas pun terik

Ku tempuh dengan semangat tegar

Maju dengan tekad menang

Sorak sorai hati senang

– MARS SMUN 1 MATAULI PANDAN SIBOLGA

SMAN 1 MATAULI PANDAN SIBOLGA (Dok. Fadillah)

SMAN 1 MATAULI PANDAN SIBOLGA (Dok. Fadillah)

Sekolah memang bukan sekedar tempat menghabiskan masa remaja. SMU adalah tempat dimana sebagian besar dari kita berubah menjadi pribadi yang lebih dewasa dan lebih bijak dalam mengambil keputusan sekaligus ‘jurang’ bagi sebagian lainnya yang jika sulit membedakan ‘khayalan’ dan ‘realita’.

Berapa banyak dari kita yang menghabiskan masa SMA-nya untuk hal-hal yang tak bermanfaat. Sekolah yang harusnya menjadi tempat paling favorit remaja membuang energi positifnya berubah menjadi neraka karena ambisi dan minimnya akhlak dalam berperilaku.

Mengenang kembali ‘mars sekolah’ di atas membuat saya seperti dikejutkan dengan betapa membosankannya sekolah tanpa dunia eksplorasi, inovasi dan seni. Bayangkan betapa lelahnya hari-hari yang harus dilalui di sekolah jika tidak ada kegiatan yang bisa menyalurkan hasrat dan ambisi remaja.

Mulai dari mendidik, menggembleng hingga menghiasi hari dengan senyum, canda dan tawa yang justru kerap kali terlupakan oleh pendidik maupun sesama murid. Remaja bukan anak-anak juga belum cukup dewasa namun peranan dan dampak dari kegagalan mendidik remaja justru sangat signifikan. Seseorang yang memiliki masa remaja yang buruk karena lingkungannya tentu akan terbawa hingga dia dewasa kelak. Seseorang yang tidak pernah merasa bangga dan bahagia pernah bersekolah sulit membawa aura positif untuk masa depannya.

Mars sekolah adalah salah satu amunisi, pembakar semangat. Bayangkan lagu mars sekolah tiap hari dinyanyikan oleh semua murid di sekolah. Hanya dua alasannya, jika bukan karena penjiwaan yang baik pastilah karena terpaksa. Menyanyikan mars sekolah sambil menghayatinya dalam setiap inchi, detik dan masa di sekolah tentu akan memberi ‘rasa’ yang berbeda. Bukannya mendapatkan kobaran semangat setelah menyanyikan justru kemalasan dan kebosanan yang menghampiri.

Merindukan masa sekolah, merindukan teman-teman, merindukan guru, merindukan kegiatan di sekolah, bahkan mungkin merindukan hukuman juga nilai jelek (angka 5 di raport sekolah). Kerinduan pada sekolah memang tidak bisa datang begitu saja. Bagi sebagian orang yang tidak merasa bahagia di sekolah jangankan merindukannya, kalau bisa minta agar dilumpuhkan ingatannya dari kenangan di sekolah. Karena baginya sekolah adalah mimpi buruk dalam hidupnya.

Ada yang merindukan masa sekolah tapi tak sedikit yang mengumpat dan membenci sekolah dan masa-masa di sekolah. Kenangan buruk takkan mudah dihapuskan dalam kalbu. Bagaimanapun sekolah seharusnya menjadi bagian dari kehidupan anak dan remaja yang diingini, disukai bukan sebaliknya. Jika sekolah masih dijadikan ‘science oriented‘ hanya mengejar angka, menjadikan angka dalam raport sekolah sebagai patokan keberhasilan anak didik lalu melupakan faktor ‘happiness‘-nya. Maka bukan tidak mungkin sekolah menjadi momok yang menyeramkan bak neraka bagi anak didik.

Tekanan batin, stress, gangguan kejiwaan bahkan kematian bukan tidak mungkin efek domino dari rentetan kehidupan sekolah yang tidak menyenangkan itu. Membunuh kreatifitas, mengebelakangkan akhlak, menikam hati dan pikiran dengan kejadian di sekolah maka bersiaplah mendapatkan generasi muda yang menusuk bangsanya sendiri baik secara blak-blakan maupun tersembunyi. Hanya masalah waktu saja!

Saya dan mungkin yang lainnya yang sudah menghabiskan sekitar 18-20 tahun di sekolah tentu bertanya-tanya, akan dibawa kemana sistem pendidikan di Indonesia ini. Mulai dari sistem hingga pola dan metode mendidik di sekolah. Mulai dari rasa hormat ‘kebiasaan mencium tangan guru atau kakak kelas yang dihormati’ hingga ‘aksi bully‘ yang kian merusak moral dan menyebabkan trauma mendalam. Mulai dari orientasi sekolah sampai kekerasan fisik yang mengakibatkan kematian dan duka mendalam pada pihak keluarga. Akankah mars sekolah masih dirindukan dan dihayati setiap saat atau mars sekolah sudah dinilai tidak penting karena dinilai tak efektif membangun jiwa positif pada anak didik.

Membangun jiwa yang positif tentu tidak mungkin dalam sehari, sebulan atau setahun.

Menciptakan generasi penerus yang berakhlak mulia adalah omong kosong tanpa pendidik dan lingkungan sekolah yang baik dan mulia.

Apapun metode yang kita pilih untuk membangun jiwa positif dan menciptakan generasi penerus yang berakhlak mulia, kita tidak boleh lupa adalah ‘PROSES‘-nya.

Proses yang benar, proses yang tepat, proses yang baik, proses yang anak didik ingini dan butuhkan untuk tumbuh kembangnya menuju kedewasaan yang positif, itulah yang harus kita ingat bersama. Mendidik bukan pekerjaan mudah dan tidak akan selesai selama kita hidup di dunia. Demikianpun dengan belajar yang tidak pernah ada kata selesainya. Butuh saling memahami antara pihak yang terlibat (pendidik dan anak didik) juga sistem pendidikan yang digerakkan oleh pemerintah termasuk lingkungan sekolah yang baik. Yang terbaik untuk generasi penerus bangsa kita adalah yang terpenting yang harusnya menjadi prioritas dunia pendidikan. Kita menuntut generasi penerus yang berakhlak dan berprestasi sementara itu kita entah dengan sengaja atau tidak sengaja melupakan unsur ‘happiness‘ mereka.