Banyak dari kita yang sedang hamil merasa biasa saja ketika dilanda demam. Sama seperti saya, ketika saya belum paham ternyata demam ketika hamil itu berbahaya bagi janin dalam kandungan, saya santai dan cuek saja. Namun, setelah bertanya dengan Dokter kandungan saya ketika di Bogor, barulah dapat pencerahan.

Awalnya karena kelelahan menemani anak pertama saya yang pola tidur malamnya unik itu terus juga didera mual muntah akhirnya tubuh pun menyerah pada kenyataan bahwa saya harus tunduk pada demam. Beberapa hari mengalami demam, saya coba mengukur suhu tubuh saya sendiri dan merasa suhu 37,8 derajat C itu normal-normal saja. Karena sudah lebih dari 2 hari akhirnya saya beranikan diri periksa ke Dokter kandungan. Ketika itu usia kehamilan memasuki bulan ke-4.

Dokter kandungan saya bilang, usia kehamilan itu masih tergolong muda dan harus dijaga betul. Alhamdulillah ketika diperiksa melalui USG, janin berkembang cukup baik dan sehat.

“Janinnya kuat, ibunya yang lemah. Mungkin ini karena kurangnya asupan makanan ke dalam tubuh juga jadi tidak ada pertahanan tubuh yang kuat dari sang ibu.” Begitu penjelasan sang dokter.

Saya bersyukur karena setidaknya dalam keadaan saya yang lemah, janin dalam kandungan saya masih bersahabat dengan baik dan bertumbuh dengan baik. Alhamdulillah. Berita baik itu saya bawa pulang ke rumah. Sambil mengkonsumsi obat dan vitamin dari dokter tersebut saya berharap demam hilang dan saya bisa mulai berselera makan lagi tanpa mual dan muntah.

Sudah selesaikah sampai disitu? ternyata belum saudara-saudara. Setelah lewat masa kritis yaitu 3 hari dari konsumsi obat dan pertemuan dengan dokter. Tengah malamnya saya malah demam lagi dan langsung naik hingga 38,7 derajat C. Saat mengukur suhu tubuh, saya kaget bukan kepalang. Masalahnya, dokter saat periksa bilang kalau ibu hamil itu tidak boleh demam di atas 38 derajat C bisa berbahaya buat janin.

Apaaaa? saya shock karena ingat pesan dokter. Karena tengah malam saya tidak mungkin bepergian ke luar rumah. Akhirnya keesokan harinya saya bergegas periksa ke dokter kandungan saya lagi. Berharap demam tengah malam yang saya alami tidak membahayakan janin dalam kandungan saya yang masih muda. Setelah antri, saya pun menceritakan kronologis demam yang tinggi pada tengah malam sebelumnya yang saya alami. Dokter memeriksa janin melalui USG. Alhamdulillah, lagi-lagi dokter bilang kalau janin saya kuat dan bertumbuh dengan baik. Tidak ada masalah pada janin.

Meski begitu, dokter kandungan tak mau ambil risiko. Dokter menyarankan saya dirawat untuk jaga-jaga si demam itu kembali lagi di tengah malam. Saya dan suami pun menyerah pada saran dokter. Ini demi kebaikan bersama juga. Saya pun dirawat di Rumah Sakit Ibu dan Anak Juliana Tajur Bogor selama kurang lebih 4 hari. Selama dirawat, saya diperiksa dengan rutin oleh perawat maupun dokter kandungan. Terutama jika sudah tengah malam, mereka mengukur suhu tubuh dan keadaan saya. Alhamdulillah, selama dirawat saya memang tidak mengalami lagi yang namanya demam tinggi.

Walau masa-masa itu sudah lewat saya masih terus waspada jika suhu tubuh tiba-tiba menghangat atau tidak seperti biasanya. Ketika hamil suhu tubuh memang cenderung lebih hangat terutama di bagian telapak tangan. Tetapi kalau mencapai 38 derajat C atau lebih, baiknya jangan disepelekan. Karena kuatir menganggu pertumbuhan janin dalam kandungan kita. Setiap ibu hamil yang pernah demam mungkin punya pengalaman yang berbeda-beda tentang penanganan demam ketika hamil. Bagi saya, demam tinggi dan perawatan di rumah sakit tersebut memberi banyak pelajaran dan hikmah.

Meninggalkan anak pertama di rumah, karena harus dirawat di rumah sakit. Rasanya sedih juga tetapi apa daya, ini demi kebaikan bersama juga. Syukurnya waktu itu ada adik iparku yang perempuan di rumah jadilah ada yang menemani dan merawatnya selama saya di rumah sakit. Tiap saat saya berdoa agar demam yang melanda tidak menganggu janin dalam kandungan saya. Rasanya sedih sekali, merasa bersalah karena tak bisa makan, asupan gizi menjadi berkurang, tubuh melemah. Mual muntah di trisemester pertama dan kedua memang sangat menguras tenaga dan pikiran saya. Fiyuhh…

Nah, buat yang sedang hamil yuk kuatkan fisik dan mental. Jangan mau kalah dengan mual muntah. Berusahalah sekuat hati dan tenaga untuk makan meski harus sedikit-sedikit tapi sering. Makanlah apa yang disukai, roti atau biskuit jika tidak suka makan nasi. Minumlah air hangat terutama di pagi hari, bisa mengurangi mual muntah. Konsumsi madu atau sari kurma juga bisa memberi tenaga dan menjaga stamina. Jika memang setelah makan, dimuntahkan lagi ya coba nanti makan lagi. Pokoknya jangan menyerah. Terutama bagi ibu yang sedang hamil anak kedua, karena harus terus merawat anak, cobalah mencari keluarga atau seseorang untuk berbagi pekerjaan, agar tak kelelahan.

Semoga berbagi kali ini bermanfaat untuk semuanya terutama yang sedang hamil.

Happy Pregnancy Moms!