Saya masih ingat setahun yang lalu, tepat bulan Mei 2015. Bapak mertua saya sakit hingga harus dirawat di rumah sakit khusus. Iya, saya dan keluarga yang sejak kuliah merantau di kota hujan, hanya bisa terdiam, sambil kaget mendengar berita itu. Stroke ringan secara tiba-tiba datang menyerangnya.

Kejadian itu hanya berselang beberapa bulan setelah saya dirawat di Rumah Sakit karena demam tinggi di kehamilan kedua. Dengan cepat akhirnya suami  memutuskan agar saya, si sulung dan adik ipar berangkat ke Bukit Tinggi. Waktu itu, sebenarnya simpanan sudah banyak terkuras, setelah sebelum saya masuk rumah sakit si sulung juga masuk Rumah Sakit, berturut-turut semuanya pengeluaran. Kalau uang yang tersisa itu pun nantinya akan dipakai juga untuk keperluan ke Bukit Tinggi, ya sudahlah, tidak ada yang tersisa lagi. Kami yang baru memulai hidup berumah tangga ini, baru saja beranjak dari titik “0”. Dan akan kembali ke titik “0”, lagi! Siapkah?

Dilema.

Saya memang bukan baru pertama mengalami hidup berada di titik “0”. Bagi saya, memulai dari “0” itu sudah hal biasa. Sejak kuliah saya sudah menjajakan makanan ke kelas-kelas, berdagang dan menawarkan makanan, jualan pulsa, menjual jasa editing penulisan laporan akhir/skripsi/tesis/disertasi bahkan pengolahan data. Apapun, asal menghasilkan, asal bisa hidup mandiri!

Namun, semua berbeda ketika sudah menikah dan mempunyai anak. Menyeret anak ke dalam titik “0”. Mungkin orang akan bilang saya kejam dan tak berperasaan? Sampai hatikah saya? Untuk kali ini saya katakan saya tidak pernah siap dan tidak pernah ingin melakukan itu.

Ketika suami yang baru beberapa bulan diterima kerja di Bogor, memutuskan keberangkatan kami ke Bukit Tinggi untuk menjenguk bapak mertua, saya entah kenapa hanya berpikir sebatas menjenguk bukan selamanya, lalu kenapa harus ragu bilang ‘iya’. Mungkin setelah melihat cucunya yang lucu ini, bapak mertua akan terhibur dan kemudian semangat untuk sehat kembali. Mungkin dengan kehadiran kami, bapak mertua akan senang hingga hatinya dan psikisnya ikut bahagia. Mungkin, mungkin dan mungkin. Positive thinking! Oke berangkat. Ini perintah suami, karena niatnya baik kenapa saya harus menolak. Bukankah menurut pada suami juga hal yang baik menurut agama.

Setibanya di Bukit Tinggi, karena tidak diperkenankan tidur di dalam kamar pasien maka saya, si sulung yang masih berusia 2 tahunan, juga adik ipar saya tidur di dalam mobil, di parkiran RS. Tempat itu terasa lebih nyaman bagi kami bertiga dibandingkan harus tidur di kamar-kamar sewa yang berdekatan dengan RS dengan harga yang terbilang murah. Nyamankah? Jangan bandingkan dengan tidur di kasur empuk dimana kaki bisa selonjoran dan badan bisa lurus. Yang jelas kami berusaha menjalaninya, menikmatinya. Demi bapak mertua, demi suami, demi apa? Di satu sisi kasian dengan anak, kasian dengan diri sendiri yang juga sedang hamil. Tapi di sisi lain ingin menghibur bapak mertua, di sisi lainnya lagi ingin jadi istri yang baik, ingin jadi menantu yang baik.

Dilema.

Karena mengerti keadaan yang serba penuh kesabaran dan ujian itu, akhirnya kami terlebih dahulu pulang ke Padangsidimpuan, ke rumah mertua. Iya, kami bertiga naik taksi a.k.a mobil pribadi sewaan. Jangan tanya uang di dalam dompet, jangan tanya uang simpanan. Berangkat dengan segenap prasangka baik pada Allah SWT. We only have faith.

Akhirnya, kami bisa merebahkan badan. Meluruskan punggung. Makan dan minum dengan tenang tanpa bulak-balik lihat isi dompet atau ke ATM. Di rumah mertua, semua terasa lebih nyaman, bahkan sangat nyaman. Selama di taksi, anak rewel minta susu dan di gelapnya malam di dalam taksi saya harus menuangkan air panas ke dalam botol susu dan berusaha tenang meski lelah luar biasa. Syukurlah, si sulung ‘Mikal’ cukup mengerti, setelah minum susu dia tidur dan cukup pulas. Perjuangan membawa batita di perjalanan ternyata tak mudah. Syukurlah akhirnya berlalu.

Adik ipar kemudian memutuskan untuk kembali ke Bogor duluan karena akan kembali bekerja. Sementara itu, saya waktu itu adalah full time mom. Lalu kami bertiga? *saya, si sulung dan anak dalam perut. Saya juga ingin pulang ke Bogor, saya masih punya banyak mimpi tertinggal disana, saya juga ingin bersama suami? Tapi saya sedang hamil besar, setelah keluar dari RS dan memasuki kehamilan bulan ke-7 memang agak berisiko melakukan perjalanan jauh apalagi harus bawa si sulung dan calon anak kedua. Bagaimana ini?

Bapak mertua pun kembali ke rumah. Alhamdulillah sudah membaik. Saya berkomunikasi dengan suami tentang kepulangan ke Bogor. Hasilnya? Setelah perbincangan yang alot, drama queen dan  telenovela, akhirnya suami memutuskan untuk saya melahirkan anak kedua di rumah mertua. Demi keselamatan dan keamanan juga demi kondisi keuangan yang makin tragis. Menetap di rumah mertua? meninggalkan mimpi dan jauh dari suami?

Dilema.

Tidak ada yang bilang hidup dengan mertua itu, enak. Tidak ada yang bilang hidup jauh dari suami itu, enak. Tidak ada yang bilang keluar dari comfort zone itu, enak. Tidak ada!

Mendekati HPL, suami masih belum dapat izin, masih belum bisa memastikan pulang ke Padangsidimpuan atau tidak. Saya menangis. Menangis sejadi-jadinya. Awalnya saya pikir saya kuat. Saya pikir masalah ini biasa saja. Tapi ternyata saya kalah. Saya tak ingin jauh dari suami. Saya ingin kembali ke Bogor. Saya tak sanggup lagi tinggal berjauhan seperti ini. LDR ternyata menyiksa batin saya. Mencoba tegar tapi ternyata di dalamnya hancur. Pertengkaran hebat di telepon hampir selalu terjadi. Saya mulai bertanya, inikah jalan menuju surga-Nya Allah? Atau sebaliknya? Kemana? Mau dibawa kemana semua ini, apa gunanya hidup seperti ini? Bawa kami kembali ke Bogor? Apapun caranya, bagaimanapun caranya asal bisa kembali ke Bogor? Plis.

Dilema.

06 Oktober 2015, Shanza dilahirkan. Putri pertama kami. Alhamdulillah meski melewati proses melahirkan dengan induksi, akhirnya saya dan dia selamat didamping ibu mertua. Suami saya datang tepat di pagi hari ketika saya mulai flek. Sebenarnya saya inginnya dia yang menemani saya, sekaligus melepas kerinduan padanya. Sayangnya, saya harus rela dia menunggu di luar karena harus menemani si sulung yang penuh rasa penasaran tentang keberadaan ibunya.

Suami harus kembali ke Bogor. Pekerjaan menunggu. Tugas menunggu. Saya, belum lagi pulih dari rasa sakit melahirkan normal. Mulai berpikir kembali, dan terkadang masih menangis. Memikirkan, akan LDR, lagi! Ingin ikut ke Bogor, dalam keadaan seperti ini, mana mungkin bisa. Ditinggalkan juga tidak siap, saya harus bagaimana.

Perlahan, saya membujuk suami untuk tinggal lebih lama. Merawat saya dan menjaga anak-anak sementara saya pemulihan dari sakitnya melahirkan. Dia akhirnya mau. Oke, 2 minggu ke depan aman, ada suami. Rasa bahagia dan senang tak terkira. Dua minggu pun hampir berakhir, dia mulai mencari tiket pulang ke Bogor. Saya mulai panik. Mulai takut ditinggalkan. Saya tidak siap. Tidak mau ditinggal suami. “Jangan, tolong jangan pergi dulu ke Bogor, plis”, teriak saya dalam hati terkecil.

Lagi-lagi, saya membujuk suami untuk menunda ke Bogor. Meski berat, akhirnya dia mencoba menghubungi kantor dimana dia bekerja untuk meminta izin menunda kepulangan ke Bogor. Di suatu malam, akhirnya kami berbicara, dari hati ke hati. Bagaimana kelanjutan semua ini? Perlahan dia menjelaskan pada saya, bahwa pekerjaan sudah menumpuk, harus menunaikan tanggung jawab, sudah harus kembali ke Bogor, tidak bisa berlama-lama lagi menemani saya dan anak-anak. Saya berusaha menahannya terus dan terus. Saya dan anak-anak ingin ikut ke Bogor, apapun alasannya saya ingin dia membawa kami kembali ke Bogor. Saya lupa. Lupa kalau kembali ke Bogor berarti, kami harus mulai dari titik “0”. Siapkah memulai dari “0”, lagi?

Dilema.

                                                                                               ****

Bersabar. Memang tidak ada yang mudah dalam hidup. Bahkan bersabar dan ikhlas butuh energi besar untuk melakukannya. Manusia bilang, sabar ada batasnya, sayangnya Tuhan bilang, sabar tiada terbatas. Kalau saya bersikukuh ikut ke Bogor, apa yang terjadi? No one knows. Tapi juga bukan berarti tinggal di rumah mertua adalah yang terburuk. Hanya Allah SWT yang Maha Tahu.

“……………. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” – Al-Baqarah : 216

Lomba Blog “DILEMA