Tak terasa sebentar lagi usia lalu lintas kita mencapai 60 tahun. Melalui blog ini, izinkan saya memberi masukan kepada Polisi lalu lintas (Polantas) untuk mengurangi kemacetan terutama di Jakarta sebagai salah satu kota yang dicap menjadi ‘worst traffic jam‘. Polisi lalu lintas adalah harapan terbesar dari masyarakat untuk mengatasi masalah kemacetan dimana-mana. Sebagai bagian dari masyarakat saya pun ingin berkontribusi dalam mengurangi kemacetan yang ada saat ini.

Preventive action dengan society centric

Seperti kata pepatah ‘sedia payung sebelum hujan’ maka kemacetan semestinya bisa dikurangi dengan tindakan pencegahan (preventive action). Tindakan tersebut dapat dilakukan dengan pendekatan persuasif yang berpusat kepada masyarakat (society centric) dalam upaya menyadarkan masyarakat akan pentingnya berperilaku ‘sadar macet’ sehingga kedekatan hubungan antara Polisi lalu lintas dan masyarakat terjalin dengan baik. Komunikasi yang baik akan membantu proses diseminasi apapun yang ingin diterapkan pada masyarakat untuk mengurangi kemacetan. Semakin tinggi kualitas Polisi lalu lintas maka semakin baik pendekatannya terhadap masyarakat. Jika pendekatan sudah berhasil maka semakin tinggi tingkat kesadaran masyarakat.

E-traffic signal

Kemacetan sulit diselesaikan jika Polisi lalu lintas tidak didukung dengan technoware alias perangkat teknologi yang memadai. Sebaiknya, masyarakat juga diberi kemudahan untuk mengakses dan memantau kemacetan dengan menggunakan electronic traffic signal atau e-traffic signal. E-traffic signal ini juga sebaiknya bisa di-install atau di-download di smartphone agar pengguna jalan terutama yang akan melewati titik rawan kemacetan tidak terjebak didalamnya. Dengan melibatkan masyarakat berperan aktif dalam mencari informasi kemacetan terkini maka secara tidak langsung juga membantu Polisi lalu lintas dalam mengurangi kemacetan di berbagai lokasi. E-traffic signal ini berperan sebagai early warning kemacetan.

Demikian, semoga bermanfaat.