keb 4 hut-berkarya untuk perubahan dalam perbedaan-rodame

“ini hasil karya siapa?”, tanya guru Kesenian kepada seorang murid.

“karya saya Bu”, jawab sang murid dengan wajah yang riang, sepertinya sang guru mengagumi karyanya tersebut karena setelah dilihat-lihat hanya karyanya yang terlihat aneh dan berbeda.

“bagaimana kamu membuatnya?”, tanya sang guru dengan nada penasaran.

“sejak pagi saya bersama seorang sahabat saya pergi ke sungai belakang rumah, setelah kami periksa ternyata sungai tersebut kotor dan cukup dalam, akhirnya kami batalkan mencari kulit kerang disitu. Kami kemudian pindah ke bagian hulu. Air sungai di bagian hulu ternyata lebih jernih dan cukup dangkal sehingga mata kami mampu melihat kulit kerang yang menempel di dasar sungai tersebut. Kami mengumpulkan satu per satu kulit kerang hingga sore. Inilah hasil karya saya Bu, semua kulit kerang yang dibuang karena dianggap berbeda dan aneh saya gabungkan menjadi sebuah lukisan berbentuk burung, saya buat polanya dulu dengan spidol lalu kulit kerang saya tempelkan satu per satu sesuai dengan bentuknya agar tetap mengikuti pola ,” jelas sang murid kepada sang guru dengan penuh semangat.

Kejadian di atas terjadi 20 tahun yang lalu. Ketika saya duduk di bangku SD kelas 6. Saya baru saja pindah dari Bandung karena ayah saya harus bersekolah lagi di Politeknik ITB selama 3 tahun. Kemudian di awal tahun ketiga saya pindah duluan ke Sumatera Utara karena saat itu saya duduk di bangku kelas 6 dan akan sulit menyesuaikan SMP-nya nanti jika SD-nya berbeda wilayah. Saya kala itu tak punya seorang pun teman di sekolah. Saya dibully di sekolah karena dianggap aneh. Saya berbicara dengan logat kesunda-sundaan dan saya pendiam cenderung menutup diri karena takut pada teman sekelas lainnya. Saya hanya punya teman main ketika kecil, itulah sahabat saya. Meski kami tak satu SD tapi di sekampung, kami sangat dekat bahkan sering menginap di rumah bergantian.

Jalinan persahabatan kami memang tergolong unik. Kami berdua memiliki karakter yang berbeda. Kami juga jarang menyukai hal yang sama. Entah itu dalam mata pelajaran yang disukai maupun dalam permainan sehari-hari. Tapi entah kenapa, hanya dia yang saya anggap sahabat saya. Hanya dengan dia, saya merasa bisa menjadi diri saya sendiri. Kami berbeda.

Saat kelas 6, saya dan teman sekelas lainnya ditugaskan untuk membuat sebuah karya yang akan menjadi nilai kesenian di STTB. Guru hanya mengizinkan karya seni yang berasal dari limbah kulit kerang. Lalu kami dibebaskan ingin membuat apapun asalkan bahannya kulit kerang. Saya yang tidak tahu menahu seluk beluk kampung saat itu, hanya berpikir membeli kerang adalah solusinya. Sampai akhirnya saya menceritakan hal tersebut kepada sahabat saya itu. Dia hanya tersenyum waktu saya bilang, membeli kerang saja, dagingnya dimasak, kulitnya kita kumpulkan. Karena sudah malam dia hanya bilang agar besok pagi bertemu di depan rumahnya.

Keesokan harinya saya datang ke rumahnya karena tidak sekolah dan sedang libur memasuki masa EBTA/EBTANAS, saya pun tidak keberatan datang pagi-pagi sekali. Dia kemudian mengajak saya pergi ke belakang. Saya mulai curiga, sepertinya akan ke sungai, tapi untuk apa. Saya terus saja berjalan mengikutinya. Ternyata sungai di belakang rumah kami kotor sekali dan airnya cukup dalam. Kuatir terbawa arus sungai, dia pun mengajak saya berjalan lebih jauh ke hulu sungai. Dimana disitu sangat sepi, gelap karena tertutupi pepohonan bambu. Hanya ada kami berdua. Saya sejujurnya sangat takut, takut ular, takut menginjak kaca saat di dasar sungai dan yang paling saya takuti adalah hantu.

Dia meminta saya melepas sendal dan ikut masuk ke dalam sungai. Airnya dingin, udaranya sejuk. Air sungai itu hanya sebetis kami bahkan ditempat yang lebih rendah hanya semata kaki kami.

Dia mulai menunduk dan mencari-cari. Saya masih bingung hendak mencari apa ke hulu sungai ini. Kemudian dia berteriak, “dapat”. Saya terhentak, kaget. Dia membuka tangan saya dan meletakkan sebuah kulit kerang yang putih bersih di tangan saya. Saya baru sadar, ternyata dia mengajak saya ke hulu sungai yang sepi seperti di antah barantah ini untuk membantu saya mencari kulit kerang tanpa harus membeli kerang. Dia pun bercerita, bahwa di sekolahnya juga diberi tugas yang sama. Saya semakin senang, karena merasa ada teman yang senasib dan seperjuangan dengan saya.

Hingga sore, kantong plastik mulai memberat. Isinya mulai penuh. Kami akan menyeleksinya nanti. Hari ini tugas kami hanya mencari dan mengumpulkan kulit kerang sebanyak-banyaknya. Kami bergegas pulang, karena hari mulai gelap. Dan saya semakin ketakutan.

Keesokan harinya, kami bertemu kembali. Masing-masing membawa plastik yang berisi kulit kerang hasil pencarian sebelumnya. Kami mengeluarkannya dan bersiap menyeleksi bilamana ada kulit kerang yang sompel, rusak atau tak bisa dipakai karena bentuk, warna dan ukurannya yang berbeda. Kami mulai memilah-milah. Sahabatku hanya mengambil kulit kerang yang sejenis, sama persis bentuk, warna dan ukurannya. Sisanya dibuang olehnya. Saya kemudian menatap lamat-lamat. Kulit kerang yang dibuangnya itu. Indah sekali, pikir saya. Kulit-kulit kerang itu tak sengaja membentuk sebuah pola yang menurut saya sangat indah, ditambah lagi air yang menempel di kulit kerang itu memantulkan cahaya. Saya yang tadinya memilah-milah akhirnya berhenti. Perlahan saya mendekati kulit kerang yang dibuang itu.

“Jangan yang itu”, teriak sahabat saya. Itu jelek, itu gak bisa dipakai, nanti karya senimu jadi jelek hasilnya.

Saya terus saja mengumpulkan kulit kerang yang berbeda itu. Tanpa sengaja menyusunnya menjadi sebuah gambar. Saya kemudian berkata kepada dia bahwa saya akan pakai kulit kerang yang dibuangnya itu. Sementara dia boleh pakai kulit kerang sejenis yang ada di kantong plastik saya. Saya pun hanya mengumpulkan kulit kerang yang berbeda dari yang lainnya. Dia, sahabat saya heran melihat perilaku saya. Orang lain pasti akan mengumpulkan kulit kerang yang putih, bersih, sejenis dan sama ukurannya tapi saya malah kebalikannya. Akhirnya dia membiarkan saya setelah berulang kali menegur saya untuk tidak menggunakan kulit kerang yang rupanya aneh-aneh itu.

keb-hut4-berkarya untuk perubahan dalam perbedaan-rodame

Tibalah waktu kami mengumpulkan karya seni. Kami berangkat bersama-sama karena memang sekolah kami bersebelahan. Semua karya seni murid diletakkan di halaman depan kelas sesuai instruksi guru kesenian. Sinar matahari sesekali menyilaukan karya seni kami karena pantulannya pada kulit kerang. Guru mulai berjalan sambil menilai karya seni kami. Kemudian Bu guru berhenti tepat di depan karya seni saya. Saya mulai gemetar. Saya tiba-tiba takut. Takut kalau-kalau karya seni saya itu dinilai jelek dan salah karena kulit kerang saya tidak sejenis seperti teman-teman sekelas lainnya.

Ketika Bu guru berteriak dan menanyakan karya seni siapakah itu. Saya dengan nada takut menjawab bahwa itu karya seni saya. Teman-teman sekelas menertawai saya. Mereka tertawa sambil mengejek karya seni yang saya buat. Saya mulai menundukkan kepala, air mata tertahan di ujung mata dan saya sangat merasa malu. Saya hanya bisa pasrah. Biarlah, toh sudah terjadi. Apapun hasilnya, pokoknya saya sudah berusaha dan saya merasa puas karena sudah memilih kulit kerang yang sangat indah.

Pembagian Ijazah dan STTB pun tiba. Saya berangkat ke sekolah, seorang diri tanpa didampingi orangtua karena kedua orangtua saya masih di Bandung saat itu. Meski sangat sedih, tapi saya tetap bersemangat menjemput ijazah dan STTB SD saya. Yang paling membuat saya penasaran adalah nilai kesenian di STTB saya. Saya kaget setengah mati, bukannya diberi nilai jelek malah diberi nilai bagus. Saya masih tidak percaya. Saya lalu berlari ke ruang guru, mencari wali kelas saya.

Wali kelas pun berkata, “nah, ini yang ditunggu-tunggu, akhirnya datang juga”.

Dalam hati saya mulai bertanya, ada apa, mengapa wali kelas dan guru-guru lainnya menunggu saya. Berita membahagiakan untuk SD kita. NEM tertinggi berasal dari sekolah kita. Saya pun ikut senang menerima kabar gembira itu. Lalu wali kelas dan guru-guru bergantian menyalami saya.

Wali kelas saya kemudian berkata, “selamat ya, kamu adalah murid dengan NEM tertinggi, kamu telah membawa harum nama SD kita, kini kamu bebas memilih SMP Negeri mana yang kamu mau, sekali lagi selamat ya”.

Saya menitikkan air mata. Bukan hanya karena kesenian saya yang mendapat nilai bagus tetapi juga bahagia karena telah membawa perubahan di SD tersebut. SD tersebut tak pernah dikenal karena dengan murid yang memiliki NEM tertinggi. Ya, SD kami dikenal dengan SD yang jorok, tidak punya WC, harus menumpang ke WC SD tetangga, SD yang paling kecil dan sempit karena hanya ada 7 ruangan di SD tersebut. Enam ruangan kelas yaitu untuk kelas 1 sampai kelas 6, satu ruangan lainnya adalah ruang guru digabung dengan ruang perpustakaan. SD yang tidak pernah dianggap.

keb-ultah4-berkarya untuk perubahan dalam perbedaan-rodame

Sejak awal saya yang dianggap berbeda dan aneh oleh teman sekelas. Hingga tamat SD, saya tidak punya teman sama sekali. Dianggap aneh oleh sahabat saya, karena mengumpulkan kulit kerang yang berbeda untuk karya seni di sekolah dimana normalnya orang tidak akan melakukan hal itu. Tapi coba lihat, akhir dari cerita ini. Indah sekali.

Saya sungguh berterimakasih untuk segala caci maki karena saya dianggap berbeda dan aneh. Saya berterimakasih karena karya seni saya yang berbeda tidak mengecewakan guru kesenian saya. Saya juga berterimakasih karena dengan itu semua, ternyata saya membawa perubahan pada sekolah. Saya meninggalkan sebuah karya yang saya bahkan tak mampu menelaah darimana asalnya. Karya dari hati yang tak pernah berhenti mengalah, karya dari kekuatan mental, karya dari keteguhan prinsip dan karya dari berbagai perbedaan. Meski tak mudah melalui semua itu, tapi saya telah berhasil melewatinya. Saya telah berkarya untuk perubahan dalam perbedaan. Terimakasih ‘perbedaan’, semua jadi berakhir dengan indah, sangat indah.

banner-lomba-blog-xl-keb