banner 2

Rodame. Sebenarnya nama tersebut cukup mudah diucapkan namun sayangnya sejak saya memperkenalkan diri dengan nama Rodame banyak sekali yang bingung dengan cara membacanya. Sebagian besar justru mengira nama saya itu ‘salah’ penulisannya sehingga membuat nama ‘lainnya’ untuk memanggil saya. Nama lengkap saya Rodame Monitorir Napitupulu. Ini lebih ribet lagi, kalau saya memperkenalkan diri dengan nama selengkap itu maka dipastikan banyak orang belepotan menyebutkan atau sekedar mengulanginya kembali.

Saya masih ingat semasa kuliah dulu, dosen hampir semua salah memanggil nama saya. Akhirnya saya selalu diminta untuk menjelaskan nama saya dan memberitahu bagaimana cara memanggil nama saya yang benar. Banyak juga yang penasaran dengan arti nama saya karena kerumitannya dalam mengucapkannya. Akhirnya saya memutuskan untuk memberi mereka kemudahan dalam memanggil nama saya dengan memotong nama lengkap saya menjadi ‘Dame’.

Meski begitu, uniknya sejak kecil saya tidak pernah dipanggil dengan nama Rodame atau Dame. Karena orangtua saya, keluarga besar dan lingkungan kanak-kanak saya memanggil saya dengan nama ‘Moni’. Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, akhirnya Ayah dan Ibu saya diberi panggilan Pak Moni dan Mak Moni. Tidak banyak yang mengetahui nama asli saya adalah Rodame. Meski waktu kecil, saya seringkali diejek oleh teman-teman dengan panggilan ‘Monmon’ artinya ‘ingus’ dalam bahasa Batak.

Iya, saya keturunan Batak Toba asli 100 %. Karena itu marga yang asalnya dari Ayah diturunkan ke kami semua anak-anaknya ‘Napitupulu’. Marga tersebut berarti ‘yang ke tujuh puluh’ dalam bahasa Batak Toba. Suku di Sumatera Utara ada banyak, termasuk Batak Karo, Batak Fakfak, Batak Mandailing, Batak Simalungun, Batak Angkola dan Batak Toba. Ibu saya boru Sagala, anak bungsu dari 10 bersaudara yang semuanya berjenis kelamin perempuan. Sedangkan Ayah saya adalah anak kedua dari delapan bersaudara.

Saya lahir di tempat nenek dari Ayah yaitu di Lumban Julu, berjarak kurang lebih 2 jam dari Danau Toba (Danau terbesar di Indonesia). Tidak banyak yang mengenal nama kampung itu karena memang letaknya di Tapanuli Utara yang di dalam peta memang tidak ditampilkan. Berbeda dengan kedua adik laki-laki saya yang lahir di kota Pematangsiantar yang berjarak kurang lebih 2 jam dari ibukota Sumatera Utara ‘Medan’.

Kami sekeluarga pernah tinggal di kota Bandung Jawa Barat selama kurang lebih 3 tahun. Itu karena pemerintah sayang kepada Ayah dan menyekolahkannya yang tamatan STM menuju Diploma di Politeknik ITB. Ayah sempat sakit keras dan bertarung nyawa karena divonis bronchitis akut. Keajaiban terjadi. Ayah kembali pulih dan kini berhenti total dari yang namanya rokok.

Saya akhirnya melanjutkan masa sekolah dasar yaitu kelas 6 di Pematangsiantar. Saya pun menjadi murid pindahan ke sebuah SDN milik pemerintah yang berlokasi dekat dengan terminal Parluasan. Terminal yang terkenal dengan preman-premannya. Meski saya cukup berat melewati masa SD kelas 6 tanpa kedua orangtua dan adik-adik yang masih berada di Bandung, karena dibully habis-habisan oleh teman-teman di SD tersebut, namun akhirnya saya lulus SD dengan NEM terbaik dan membawa harum nama SD tersebut.

Saya menghabiskan SMP di kota Pematangsiantar, salah satu SMP Negeri terbaik disana. SMP N 1, tempat ditempanya anak-anak berprestasi di Pematangsiantar. Saya aktif dalam kegiatan Pramuka bahkan regu kami pernah mewakili Sumatera Utara di Cibubur Jakarta dalam kegiatan Lomba Tingkat Nasional. Kami berhasil meraih juara yang berhak mengikuti jambore internasional di Malaysia. Namun karena keterbatasan biaya dan anggaran dari daerah akhirnya mimpi itu batal diwujudkan.

Saya masih ingat, bagaimana saya melalui berbagai tes masuk SMA plus tersebut. Saya bersungguh-sungguh dan melakukan banyak persiapan. Saya bukan siswi yang berprestasi semasa SMP, hanya saja banyak teman yang ikut tes masuk, akhirnya saya ikut mencoba tes tersebut. Mental kuat dari gemblengan Pramuka ternyata bermanfaat sekali. Setelah melalui beberapa tes seperti tes akademik, tes psikotes, tes kesemamptaan dan tes kesehatan, akhirnya saya lulus. Lulus di Unggulan A (bebas biaya bahkan diberi yang saku bulanan). Di SMA Plus tersebut ada 3 kelas unggulan selain unggulan A ada juga unggulan B dan C. Saya sempat tidak percaya akan hasil tersebut sampai kemudian untuk pertama kalinya nama saya ada di koran SIP (koran lokal di Sumatera Utara) sebagai siswi yang lulus kelas unggulan A di SMA Plus Matauli Sibloga.

Selepas SMP saya melanjutkan sekolah ke SMA Negeri 2 (Plus) Matauli yang berlokasi di kota Sibolga, Sumatera Utara. Yayasan yang diasuh oleh Bapak Akbar Tanjung juga Alm Faisal Tanjung. Sekolah berstandar internasional karena fasilitasnya yang serba ada dan lengkap termasuk kolam renang sendiri. Sekolah semi militer, dimana saya kembali terpisah dengan orangtua dan keluarga untuk diasramakan dan belajar menjadi pribadi yang mandiri.

Lalu saya melanjutkan kuliah di kota hujan ‘Bogor’ tahun 2002-2008. Sebenarnya saya sudah lulus sidang sejak 2006 namun karena ada tes magang internasional, kerjasama kampus dengan perusahaan pertanian di Jepang dan saya perempuan satu-satunya yang lulus di angkatan kedua dari IPB maka saya berangkat ke Jepang tahun 2007-2008. Saya menghabiskan waktu selama setahun penuh di Negeri Sakura. Melalui 4 musim dan menimba berbagai ilmu disana. Alhamdulillah, saya jadi bisa punya kemampuan bercakap-cakap dalam bahasa Jepang dan menulis katakana juga hiragana serta sedikit kanji. Hingga saat ini saya masih sering dihubungi oleh Presiden Direktur perusahaan tempat saya magang di Jepang dulu bahkan saya kerap dibawakan oleh-oleh dari sana, karena hubungan yang dijalin dengan baik.

Sepulangnya dari Jepang, saya pun melanjutkan pendidikan tinggi ke sekolah pascasarjana manajemen dan bisnis IPB. Bermodalkan uang saku yang selama setahun saya simpan akhirnya saya bisa menyekolahkan diri sendiri, dibantu orangtua dan dukungan sabahat dan teman memperoleh gelar Magister Manajemen tahun 2010. Tahun berikutnya saya menikah, tepat 05 September 2011 di bulan Syawal. Hanya berselang 1 bulan saya positif hamil, anak pertama.

Tahun 2012, saya diamanahkan anak laki-laki. Kami beri nama Alimikal kini usianya sudah 3 tahun 8 bulan. Saya pun menjadi ibu rumah tangga dalam artian tidak bekerja ke luar rumah. Hingga akhirnya saya hamil anak kedua, yang baru lahir 5 bulan yang lalu di kota Padangsidimpuan, kami beri nama Shanza. Selama menjadi IRT, saya banyak menulis dan ngeblog. Blog saya awalnya www.rodamemn.wordpress.com kemudian saya seriuskan dengan membeli domain sendiri menjadi www.rodame.com juga beberapa blog lainnya di Kompasiana dan Blogdetik.

Tahun 2015 tepatnya bulan Agustus, saya akhirnya diberi kesempatan mengajar di kampus IAIN Padangsidimpuan sambil terus belajar dan membenahi diri. Meski saya sudah berprofesi sebagai dosen tetap non PNS, saya masih terus melanjutkan hobi saya yaitu ngeblog. Internet di daerah memang jadi ‘barang langka’ karena tergolong mahal. Tapi saya tak ingin melupakan dunia blogging yang sudah banyak memberi saya ilmu dan persahabatan.

Itulah sejarah hidup tentang saya yang sampai saat ini masih terus saya perankan. Karena setiap kita memiliki peran masing-masing dan dunia hanyalah persinggahan. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat. Yuk kita jadi pribadi yang bermanfaat dalam menjalankan peran masing-masing.

Nah, kesan saya terhadap mbak Ika, ya karena saya belum pernah ketemu langsung juga baru saja kenal mbak Ika di dunia blogging maka saya sampai detik ini, saya menyimpulkan mbak Ika itu orang yang penyabar dan penyayang. Hehe, Kenapa? dari profesinya pernah mengajar PAUD saya berani bilang kalau guru PAUD adalah guru yang paling sabar dan sayang pada anak-anak. Tidak mudah mengajar anak yang masig balita dan butuh skill khusus untuk bisa menaklukkan hati anak-anak.

Kesimpulan lainnya, mbak Ika suka jago nulis buktinya sudah menelurkan beberapa buku dan punya blog yang isinya enak dibaca dan bermanfaat. Kalau lihat dari foto yang ada di blog kayaknya sih mbak Ika orangnya dinamis, selalu uptodate (secara lagi mainin gadget di foto itu) hihi. Semoga sukses terus dengan hobi dan cita-citanya. Semoga bisa terus menebarkan manfaat melalui blognya. Aamiin ya Allah.

“Tulisan ini diikutkan dalam Bundafinaufara 1st Giveaway”