“You’re only poor if you give up. The most important thing is that you did something. Most people only talk and dream of getting rich. You’ve done something.”
― Robert T. Kiyosaki, Rich Dad, Poor Dad

Dulu semasa kuliah saya pernah ‘dipaksa’ untuk membaca buku berjudul ‘Rich Dad Poor Dad‘ karangan dari Robert T. Kiyosaki. Pada masa itu tentu saja membaca buku itu seperti sebuah kewajiban karena diperintah oleh Dosen Manajemen. Belum terpikir untuk memahaminya apalagi mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Di usia 18 tahunan, saya tidak pernah tahu betapa pentingnya isi dari buku tersebut, yang saya tahu hanya menuntaskannya demi ditanya Dosen sudah baca atau belum, dan ketika diminta menceritakan isi buku tersebut saya mulai mengingat kembali ada hal yang tidak pernah saya lupakan dari buku tersebut, bahwa dalam mengelola keuangan diperlukan pengetahuan tentang keuangan termasuk pengetahuan umum, tabungan, asuransi dan investasi yang disebut dengan istilah ‘melek finansial’.

Hidup kita tidak pernah terlepas dari yang namanya ‘uang’. Itulah sebabnya melek finansial disebut-sebut sebagai kunci dari keberhasilan seseorang dalam berbagai bidang. Siapapun kita, tanpa memandang status, jabatan dan golongan tertentu untuk sukses dibutuhkan yang namanya melek finansial agar kelak kita tidak salah dalam membuat keputusan keuangan.

Semua orang ingin berhasil, ingin sukses, ingin sejahtera dimana ketiganya sebenarnya dapat diraih hanya dengan ‘melek finansial’. Itulah sebabnya Ayah kaya di dalam buku Robert T. Kiyosaki mengajarkan untuk mengubah mind set (pola pikir). Ayah kaya mengajarkan kepada kita untuk setidaknya mampu membedakan aset dan liabilitas. Jika kita masih menilai rumah yang kita tinggali itu adalah aset itu artinya kita belum memahami keuangan. Karena sebenarnya rumah yang kita tinggali adalah liabilitas bukan aset, ketika kita berhenti bekerja maka rumah yang kita tinggali itu justru akan menguras habis kantong kita bukan sebaliknya.

Saya mengartikannya sederhana, sebut saja berbagai biaya yang harus kita tanggung untuk rumah mulai dari biaya listrik, biaya air, biaya telpon, biaya tukang kebun, renovasi setiap ada kerusakan dan berbagai kegiatan peremajaan rumah lainnya. Biaya-biaya tersebut adalah kewajiban yang harus dibayarkan termasuk jika kita tidak lagi bekerja. Jadi jelas bahwa rumah yang kita tinggali bukanlah aset melainkan liabilitas. Karena aset berarti segala sesuatu yang memberikan pemasukan kepada kita bukannya pengeluaran sedangkan rumah yang kita tinggali justru membuat kita mengeluarkan sejumlah uang.

Pelajaran keuangan tersebut terkesan sederhana namun tentu banyak diantara kita yang hingga saat ini memahami rumah sebagai aset bukan liabilitas, termasuk saya sebelum membaca buku tersebut. Hingga kemudian saya sedikit demi sedikit berusaha untuk mengerti apa yang dimaksud dengan aset dan liabilitas. Jika ditanya saat ini, maka akan saya katakan saya belum memiliki aset apapun. Semua ternyata masih liabilitas karena saya masih saja melakukan pengeluaran bukan pendapatkan pemasukan dari apa yang saya miliki saat ini.

Robert T. Kiyosaki juga mengaitkan melek finansial dengan kecerdasan mental seseorang dengan bagaimana mencari solusi masalah keuangan. Artinya semakin seseorang mudah dan mampu menemukan solusi masalah keuangannya maka semakin ia melek finansial.  Lalu, pertanyaannya adalah sudahkah kita mampu menemukan solusi masalah keuangan kita? saya sendiri mengaku masih kewalahan dengan masalah keuangan pribadi. Masih ‘lebih besar pasak daripada tiang‘. Mungkin masih banyak di antara masyarakat lainnya di Indonesia yang seperti saya ini, dan itu artinya kita belum melek finansial. Parahnya lagi, berarti kita semakin dekat dengan kerugian, kegagalan dan ketidakberhasilan dalam hidup.

Tidak melek finansial jelas akan membawa kita pada berbagai hal yang bisa menjauhkan kita dari kesejahteraan hidup. Namun  seseorang yang melek finansial juga tidak luput dari yang namanya kegagalan. Karena meski kita mengaku sudah melek finansial dengan memiliki aset yang berlimpah namun keberhasilan kita sangat ditentukan dengan bagaimana kemudian kita mengelola dan mengembangkan seluruh aset berlimpah yang kita miliki itu.

Di dalam buku tersebut juga disebutkan terdapat setidaknya lima alasan utama mengapa orang yang melek finansial tidak bisa mengembangkan kolom aset yang berlimpah, yaitu :

  1. Ketakutan
  2. Sinisme
  3. Kemalasan
  4. Kebisaan Buruk
  5. Arogan

Jika kita mengaku sudah melek finansial, maka coba direnungkan kembali adakah sifat kita diantara kelima alasan di atas? Jika masih ada ini pun akan menjadi masalah karena untuk mengembangkan aset yang berlimpah tersebut, kita tidak diperkenankan memiliki meskipun hanya satu dari kelima alasan di atas. Itulah sebabnya jika kita saksikan banyak orang yang memiliki aset berlimpah lalu bangkrut atau habis begitu saja.

Sebut saja orang-orang sukses yang kemudian memanfaatkan asetnya untuk berjudi atau minum alkohol, sebuah kebiasaan buruk yang menjadikannya akhirnya jatuh miskin. Arogansi seseorang yang menghambur-hamburkan asetnya dengan tidak bijak. Malas belajar sehingga merasa puas dengan apa yang dimiliki padahal jaman terus berkembang. Sinis terhadap yang kurang mampu sehingga menjadikan keberhasilan yang kita capai tidak diapresiasi dari orang banyak. Takut yang berlebihan, takut kalah bersaing, takut rugi ketika merintis jenis usaha lain dan berbagai ketakutan lainnya sehingga membuat bisnis kita akhirnya tidak berkembang.

Sebagai penutup, saya ingin sekali megajak kita semua, masyarakat Indonesia untuk ‘do something‘. Tidak cuma sekedar bermimpi ingin kaya tetapi juga melakukan sesuatu untuk mencapainya. Mulailah dengan belajar mengelola keuangan dengan benar dan bijak sehingga dengan demikian kita menjadi melek finansial. Karena setidaknya dengan belajar kita tidak miskin ilmu, dan dengan melek finansial kita juga tidak miskin harta karena justru kita semakin dekat menuju kesejahteraan hidup dan perlindungan keluarga. Dan jika sudah melek finansial jangan lupa menjauhkan diri dari kelima sifat (ketakutan, sinisme, kemalasan, kebiasaan buruk, arogan) agar kita benar-benar sepenuhnya berhasil dalam kehidupan kita. Saya yakin untuk itulah perusahaan finansial seperti Sun Life Financial Indonesia ada, untuk berbagi dengan semua orang, untuk mengedukasi masyarakat Indonesia dan untuk mempersiapkan kita semua menuju masa depan yang lebih cerah.

Sumber Referensi :

  • Kiyosaki, Robert T. 2002. Rich Dad Poor Dad. Gramedia Pustaka Utama.

 Tulisan ini diikutsertakan dalam Sun Anugerah Caraka Kompetisi Menulis Blog 2014