Terkadang kita menyepelekan yang namanya faktor genetika ketika akan merencanakan sebuah kehamilan. Banyak diantara kita lebih memilih pasrah dan sekedar ‘ngikutin’ jalan hidup ketika sebenarnya kita bisa memilih sebuah usaha positif yang bermanfaat untuk si buah hati kelak dengan sebuah pemeriksaan genetika. Berbeda dengan pemeriksaan kesehatan fisik sebelum merencanakan kehamilan, pemeriksaan genetika tujuannya adalah untuk mengetahui penyakit atau cacat bawaan yang mungkin akan dialami bayi ketika diturunkan secara genetis dari salah satu atau kedua orangtuanya.

Kita pasti pernah mendengar ‘kampung idiot’ di Ponorogo, Jawa Timur. Mendengar sebutan itu saja rasanya sedih dan merinding. Saya membayangkan sebuah kampung yang semuanya dihuni oleh orang-orang yang mengalami gangguan mental alias keterbelakangan. Ada sekitar 503-an orang yang tinggal disana dan semuanya hidup dalam gangguan jiwa juga dalam kemiskinan. Tidak kalah menariknya masih di daerah yang sama, ada juga sebuah kampung yang disebut dengan ‘kampung gila’. Dimana sekitar 62 orang penduduknya mengalami schizophrenia (gila).

Mengapa bisa terjadi sebuah kampung semua penghuninya mengalami gangguan jiwa, cacat dan gangguan mental?

Saya melihatnya dari kacamata kesehatan, sebuah pemikiran sederhana saya dimana semua itu bisa terjadi karena faktor genetika. Mereka hidup bersama-sama di kampung tersebut, menikah dengan orang sekampung juga karenanya keturunan-keturunannya pun memiliki cacat bawaan tersebut dari kedua orangtuanya dan itu terus berlanjut hingga saat ini. Bisa dibilang mereka sebenarnya mungkin masih terikat satu hubungan persaudaraan.

Nah, melalui tes genetika ini, kita dapat mengetahui ada atau tidaknya penyakit yang diturunkan pada bayi. Selain itu yang uniknya lagi, kita sebenarnya tes genetika bisa membantu kita dalam menentukan jenis kelamin. Menurut ilmu genetikanya begitu.

Idealnya memang, tes genetika itu dilakukan sebelum kehamilan. Bisa juga dilakukan saat kehamilan atau menjelang kelahiran. Hal yang paling penting sebenarnya adalah dalam tes genetika diperlukan informasi yang sebanyak-banyaknya. Jadi, apa yang bisa kita lakukan untuk mengawali tes genetika tersebut?

Pertama adalah mengumpulkan semua catatan medis yang dimiliki oleh anggota keluarga baik dari pihak suami maupun istri termasuk keluarga jauh. Kedua, tanyakan kepada orangtua anda dan pasangan, apakah ada anak mereka yang menderita kelainan mental atau penyakit keturunan lainnya baik yang ringan (predisposisi liver atau diabetes artinya mungkin saat ini tidak menderita penyakit tersebut namun memiliki kencenderungan yang kuat untuk mengidapnya suatu saat nanti dalam hidupnya jika faktor pemicunya tidak dikendalikan dengan baik seperti pola makan dan gaya hidup sehat) maupun berat (misalnya: Thalasemia dan Hemophilia). Jika yang terjadi adalah penyakit keturunan berat maka si penerima gen atau bayi tidak bisa menolaknya, tidak berdaya dan harus menerimanya apa adanya.

Karena itulah pemeriksaan genetika menjadi penting, agar mengetahui lebih dini. Jika memang diketahui ada kelainan pada janin atau calon orangtua, maka sebuah keputusan bijak tentu dapat dibuat. Bayangkan jika terlambat mengetahuinya atau bahkan tidak peduli dengan hal tersebut, maka bayi menjadi korban dari kelalaian dan ke’cuek’an kedua orangtuanya. Bagaimanapun kehamilan adalah impian semua pasangan dan harapan dari kedua belah pihak keluarga. Jangan sampai keluarga besar menutupi segala informasi medis yang memang harus diketahui apalagi ini semua adalah demi masa depan anak dan cucunya.

Dibutuhkan keterbukaan diantara kedua belah pihak keluarga agar catatan medis tersebut secara gamblang dapat ditelusuri. Setelah mengetahui jika ternyata memang ada keturunan cacat mental atau penyakit sebaiknya ditanggapi dengan bijak, bukan saling menjatuhkan namun berusahalah menemukan jalan atau solusi terbaik untuk merencanakan kehamilan.

Demikian, Semoga bermanfaat.