Ilstrasi Rodame

Ilstrasi Rodame

Saya masih ingat pagi dini hari, saya, suami dan anak pertama saya yang nyaris telanjang, kami larikan ke rumah sakit terdekat. Suami menggedor pintu tetangga yang memiliki kendaraan beroda dua. Semua pintu masih tertutup rapat, semua orang masih lelap. Pagi itu, jam 04.00 WIB, udara yang dingin bahkan tidak membuat tubuh kami menggigil diterpa angin yang kencang di kendaraan roda dua yang kami pinjam dari tetangga. Sekuat tenaga, suami saya sambil menangis memanggil-manggil nama anak pertama saya. Panik. Motor melaju sangat kencang sambil sesekali melompat dan kami bertiga melayang di udara. Saya menahan kepanikan sambil menahan air mata. Saya harus kuat. Saya memeluk erat tubuh mungil anak pertama saya sambil terus melantunkan doa pada sang Ilahi. Dia, anak pertama kami sudah tidak kejang lagi tapi matanya masih menatap ke arah atas. Kosong.

Sebelum melarikannya ke rumah sakit, kami merasa sudah melakukan tindakan pencegahan yang terbaik. Saya sudah menyiapkan termometer, obat penurun panas, kompres, minyak bawang bahkan terjaga sepanjang malam, kuatir sesuatu terjadi padanya saat saya tertidur. Sayangnya semua yang sudah kami lakukan untuk mencegah kejang demam itu tetap datang. Kami lagi-lagi hanya bisa pasrah dan menyerahkannya ke tenaga medis.

Awalnya, saya mengira itu pasti demam biasa. Lalu, dokter jaga meminta untuk dirawat karena kuatir bukan sekedar demam biasa. Kuatirnya tifus. Solusinya rawat inap karena akan ada periksa darah juga. Artinya kami harus rela merogoh uang tabungan karena yang tersedia hanya kelas VVIP which is semalamnya 2,5 juta ditambah lagi harus melihat tangan mungilnya ditusuk jarum infus padahal dia sedang aktif-aktifnya berjalan dan tidak mau diam. But, we have no choice.

Setelah dokter anak datang dan memeriksanya, sambil membawa hasil lab. Maka jelas sudah bahwa saluran cerna anak pertama saya terkontaminasi bakteri yang sangat banyak diantaranya adalah Salmonella enterica serotipe Typhi. Namun, dokter memberi harapan bahwa masih bisa diobati dengan perawatan intensif, belum terlambat karena jumlahnya masih sedikit melewati batas normal. Masih gejala tifus. Ya, tetap saja saya dan suami kaget dan shock. Berita seperti ini sama sekali bukan berita yang menyenangkan. Bukan berita yang kami ingin dengar. Semua orangtua pasti tidak ingin anaknya sakit, apapun jenis sakitnya itu.

Saya dan suami coba ingat-ingat lagi, apa yang salah, apa penyebabnya. Spontan, saya bertanya pada dokter tersebut. Apa penyebab jumlah bakteri jahat itu bisa banyak di saluran cerna anak pertama saya. Dokter kembali bertanya, kemarin dikasi jajanan / makanan apa? Saya dan suami langsung membuka memori sehari sebelum kejadian tersebut. Kami bertiga pergi ke sebuah mall, disana ada jajanan pasar yang terbuka tanpa penutup karena terlihat enak tanpa mempertimbangkan penyajian makanan yang kurang bersih dan tidak higienis itu, suami membelinya. Saya pun memberikannya kepada anak saya tanpa tanya ke suami beli dimana, bersih atau tidak, main kasi-kasi aja.

Anak sedang Aktif Memasukkan Makanan ke Mulutnya-Rodame

Anak sedang Aktif Memasukkan Makanan ke Mulutnya (Dok. Rodame)

Kenapa bisa sesepele itu pada makanan. Kenapa memberinya jajanan pasar yang tidak tertutup dan sudah dipegang-pegang banyak orang itu. Kenapa tidak bawa makanan dari rumah.

Ya, kami berdua melakukan kesalahan fatal karena telah memberinya makanan yang kurang bersih dan tidak higienis. Sayangnya, kejadian itu sudah terjadi. Nasi sudah jadi bubur. Kami telah gagal menjaga dan merawatnya. Kami bahkan tak bisa mencegahnya dari demam tifoid atau yang dikenal dengan penyakit tifus. Meskipun kata dokter ini baru gejala tifus, tetap saja bagi kami orangtuanya itu adalah sebuah penyakit dan harus segera ditangani. Kapok memberi jajanan pasar yang tidak bersih dan higienis kepada anak. Cukup, jangan sampai terulang lagi. Tekad saya di dalam hati.

Ternyata demam tifoid alias penyakit tifus itu juga dapat dicegah. Dengan cara apa? Vaksinasi. Vaksinasi Tifoid namanya. Indonesia masih termasuk negara di Asia Tenggara yang masih sering terserang penyakit tifus. Oleh karena itu kasus demam tifoid cukup tinggi. Vaksin tifoid tersedia dalam bentuk suntikan intramuskular dimana tingkat proteksinya sekitar 50-80 %. Vaksin tifoid hanya memberikan perlindungan terhadap S. Enterica serotipe Typhi saja ya bukan Paratyphi. Vaksin tersebut butuh waktu sekitar 2 minggu untuk memberikan kekebalan maksimal sebelum terpapar kuman tifoid dan ternyata perlu diulang tiap 3 tahun sekali. Artinya, setiap kelipatan 3 tahun, vaksin tifoid baiknya diberikan. Inilah salah satu tindakan pencegahan demam tifoid atau penyakit tifus.

Pertanyaannya, kalau sudah pernah kena penyakit tifus, apa perlu vaksinasi tifoid? Jelas perlu. Kenapa? Karena kekebalan alamiah dari infeksi tifoid berangsur menyembuh sehingga hanya memberikan kekebalan hingga 30 % saja untuk mencegah infeksi tifoid berikutnya (kekambuhan). Vaksinasi tifoid penting karena dapat memproteksi tubuh kita agar tidak terserang lagi.

Vaksin tifoid jenisnya adalah vaksin inaktif artinya tidak berbahaya dan tidak dapat menimbulkan penyakit apapun. Efek samping cenderung ringan antara pegal atau reaksi lokal di area penyuntikan meski kadang demam ringan namun jarang terjadi. Tidak perlu panik kalau ada efek samping seperti itu ya.

Aduh, saya jadi ingat, anak pertama saya sudah 3 tahun lebih dan belum pernah dapat vaksinasi tifoid. Ternyata di KMS anak sudah diingatkan perihal vaksin tifoid ini, hanya saja saya kurang memperhatikannya. Baru sadar kalau yang dimaksud dengan kata ‘tiofid’ di KMS tersebut adalah vaksinasi tifoid untuk anak.

vaksin tifoid

Kartu Menuju Sehat Bayi dan Anak (Dok. Rodame)

Kelalaian saya dan suami karena tidak menjaga makanan untuk anak bisa jadi pelajaran berharga. Saya juga ingin mengingatkan semua orangtua dan orang dewasa lainnya untuk melakukan tindakan pencegahan penyakit tifus dengan vaksinasi tifoid. Tindakan pencegahan ini penting agar tidak ada lagi penyesalan ke depannya.

Dengan adanya vaksinasi tifoid, saya jadi lega. Kini saya telah belajar dari kejadian terdahulu. Meski kejadian tersebut sudah 2 tahun yang lalu tapi saya jadi makin waspada dengan adanya vaksinasi tifoid harapan saya tentu saja demam tifoid tidak menyerang anak-anak dan keluarga saya. Saya semakin sadar akan pentingnya tindakan pencegahan penyakit tifus.

Tentu saja untuk meningkatkan awareness terhadap tindakan pencegahan penyakit butuh dukungan semua pihak termasuk termasuk public figure di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa kesehatan masyarakat sudah menjadi tanggung jawab bersama.

Kalau masih bingung dan ragu untuk melakukan vaksinasi tifoid bisa konsultasi dengan Dokternya dulu tapi kalau sudah oke bisa langsung reservasi online loh. Mudah kan ya?

Saya sih berharapnya, ke depan akan ada pengembangan. Beberapa kali saya kewalahan mau vaksin, termasuk ketika saya hamil dan ingin melakukan vaksinasi TT. Pengakuan tenaga medis di Puskesmas, vaksinnya habis. Saya pun harus mencari dan bertanya ke klinik-klinik yang lainnya. Meskipun akhirnya bisa vaksin TT, tapi rasanya tindakan pencegahan penyakit masih sulit di daerah seperti tempat tinggal saya saat ini.

Karena kelalaian hanya akan menyebabkan penyesalan namun tindakan pencegahan akan memberikan ketenangan.