Beberapa hari kemarin saya berkesempatan cek kesehatan gigi anak. Dokter gigi ini tempat dimana saya pertama kali membawa anak periksa gigi pasca jatuh dan giginya naik ke atas. Cerita jatuh dan gigi ke atas akan saya ceritakan di postingan yang berbeda ya. Oke lanjut lagi tentang dokter gigi. Dokter giginya bernama Monika Santoso. Awalnya tahu tempat ini dari adik ipar saya Desi. Waktu yang lalu, saya juga pernah menemaninya ke dokter gigi tersebut. Jujur saja, orang Indonesia seperti saya ini sepertinya paling jarang ke dokter gigi. Bukannya apa-apa, masih menganggap kesehatan gigi kurang begitu penting. Padahal kesehatan gigi itu sangat penting.

Dokter Monika Santoso ini kelihatannya masih muda, badannya mungil, langsing sehingga kelihatan sangat gesit dan cepat. Sewaktu menemani adik ipar dulu, saya sampai kaget rasanya cuma 15-20 menitan sudah selesai dan periksa giginya enak sekali karena tak terasa sakit sama sekali. Cuma ‘tek’ selesai. Cap cus aja. Ini yang bikin saya terkesima. Selain itu, dia fasih berbahasa Inggris, pernah ada orang mandarin yang tidak bisa bahasa Indonesia bertanya jadwal periksa gigi, dokter itu langsung jawab dengan baik dan lancar.

Jadilah, saya bawa anak saya untuk periksa kesehatan giginya. Lokasi praktek yang ada halamannya itu bikin anak saya betah berlarian kesana-kemari sambil menunggu jadwal buka. Saya memang dapat jadwal jam 07.45 WIB, tapi sepertinya kecepatan datangnya. Maklum sekarang Bogor kena ultimatum kota termacet nomor satu di Indonesia, jadi kuatir kalau telat karena macet. Tapi syukurlah, kemarin sedikit macet tapi tidak menganggu jalanan, berangkat jam 06.30 WIB dari rumah (MBR) sampainya jam 07.04 WIB. Biasanya kalau macet bisa lebih dari 45 menit. Padahal jaraknya tidak terlalu jauh sebenarnya.

Masuk ke ruangan dokter, sudah disambut dengan senyuman. Hai, anak saya langsung berlarian kesana-kemari, pegang ini-itu, tapi dokter hanya senyum tidak marah. Hampir pegang botol obat yang terbuat dari kaca, dokter menegur tapi dengan senyuman dan ramah sekali pada anak. Dokter lalu cek gigi anak saya yang naik ke atas. Awalnya saya pikir gigi yang ada di atas itu adalah gigi yang patah dan ‘nyungsep’ lagi ke dalam. Ternyata kata dokter, itu giginya terbentur lalu naik ke atas. Waktu saya bilang, ada tetangga yang menyuruh dicabut saja. Dokter langsung marah. Dengan cepat dia bilang, “anak umur di bawah 6 tahun itu (anak saya umur 2 tahun 3 bulan), tidak boleh sembarangan cabut gigi”.

Lalu saya lanjut bilang, kata tetangga takut infeksi. Dokter jawab lagi, “infeksi??”. Gigi anak saya ternyata tidak dinyatakan infeksi oleh dokter. Giginya hanya naik ke atas karena benturan yang sangat kuat ketika jatuh. Kalau feeling dokter Monika sih, nanti juga akan turun lagi ke bawah atau bisa dibantu dengan ditekan dan diarahkan ke bawah (gigi anak saya yang naik ke atas adalah gigi seri atas yang kiri). Supaya cepat turun aja, tapi sebenarnya dibiarkan pun tidak mengapa nanti juga akan turun asal jangan dicabut.

Anak baru akan ganti gigi susu di usia sekitar 6 tahun. Bayangkan kalau gigi yang sekarang itu dicabut, apa jadinya nanti bentuk gigi anak. Pertama, gigi anak menjadi tidak rapi alias berantakan karena ada posisi yang kosong dan gigi-gigi yang lain akan merapat dan mengisi kekosongan itu. Kedua, anak masih butuh gigi susu itu untuk makan, jika dicabut akan menganggu kegiatan makannya. Ketiga, anak umur 2 tahun 3 bulan seperti anak saya, tidak dibenarkan cabut gigi selagi masih ada cara lain untuk menyelamatkan giginya. Orang dewasa saja cabut gigi sakit dan nyut-nyutan berhari-hari. Apalagi anak balita, sakitnya akan sangat membuatnya tidak nyaman.

Saya kembali bertanya, apakah gigi yang posisinya naik ke atas itu sekarang sudah berakar. Dokter Monika tegas menjawab, “iya jelas sudah berakar makanya tumbuh baik dan mulai turun ke bawah lagi menuju posisi yang benar”. Harus diakui, posisi gigi naik ke atas itu memang terlihat tidak enak karena tidak rapi, tapi itu masih lebih baik daripada tidak ada gigi sama sekali. Pokoknya jangan cabut gigi anak sembarangan. Itulah pesan dokter Monika di akhir pembicaraan.

Baiklah, para orangtua dimanapun berada. Jika anak terjatuh, membentur lantai atau tanah dengan kencang lalu giginya patah atau naik ke atas, sebaiknya jangan buru-buru minta dicabut ke dokter gigi. Periksakan dulu ke dokter gigi, tanyakan apa yang terbaik untuknya, adakah cara lain agar anak tidak dicabut giginya (jika memang terpaksa karena sesuatu hal), karena gigi susu itu baru akan berganti pada umur sekitar 6 tahunan. Anak masih butuh gigi susu tersebut untuk kegiatan makan dan mengunyah, selain itu kerugiannya adalah kelak gigi akan berantakan. Oleh karenanya, cabut gigi pada anak tidak pernah disarankan oleh dokter Monika.

Lega sekali rasanya, setelah diperiksa dan ngobrol-ngobrol sama dokter Monika, saya tanya berapa biayanya. “Tidak perlu bayar, kan saya cuma liat aja”, begitu katanya sambil tersenyum. Hah, gratis! Maklum emak-emak ya, kalau gratis itu rasanya gimana gitu. Dokter Monika, memang baik, ramah dan menyenangkan. Kapan lagi bisa konsultasi kesehatan gigi anak dengan gratis seperti ini. Jika berdomisili di Bogor, silakan coba periksa kesehatan gigi di dokter Monika, tapi telepon jauh-jauh hari ya? Karena yang antri banyak sekali bahkan biasanya full booked sampai 2 minggu ke depan. Kemarin saya dapat jadwal karen mendadak ada yang batalin janjian ketemu dokternya, jadilah saya bisa ketemu dokter Monika tanpa harus antri. Hihi. Senangnya. Ini periksa gigi kedua kalinya untuk anak saya. Pertama kali periksa dulu bayar Rp 50.000 dan tebus obat di apotik Rp 200 ribuan. Tentu saja biaya tergantung kondisi gigi kita ya.

Lokasi praktek dokter Monika ada di dekat pengadilan negeri kota Bogor, sebelah hotel Salak the Heritage. Buka mulai jam 08.00 WIB-10.00 WIB hari Senin-Jumat (kalau tidak salah ingat). Tapi bisa booking lewat telepon, jadi bisa tanya disitu sekalian tentang jadwal dan lain-lain. Demikian, semoga informasi ini bisa membantu.