“jadikan aku yang kedua dan buatlah diriku bahagia, meskipun kau tak kan pernah kumiliki selamanya”

Ya, cuplikan lagu Astrid di atas memang sangat nyaman didengar dan enak sekali dilantunkan. Tapi sangat tidak enak dijalani. Membayangkan menjadi orang yang dinomorduakan tentulah tidak menyenangkan sama sekali. Setiap kita ingin dihargai, ingin dijadikan yang pertama dan ingin diberi perhatian yang sepenuhnya di dalam hidup dan berkarir bukan sekedar dianggap ada tetapi juga disetarakan dalam hal apapun. Termasuk dalam memperoleh hak pendidikan, hak berpendapat, hak menggunakan fasilitas umum dan hak untuk mendapatkan kesempatan kerja.

Pendidikan Inklusi bagi Difabel di Indonesia

Seorang mahasiswa saya di kampus adalah seorang difabel. Dia sebut saja Ilham, meski memiliki satu lengan yang berfungsi dengan normal, tidak menunjukkan sedikitpun kekuatiran tidak diterima oleh teman-teman sekelasnya di kampus tempat dia menuntut ilmu. Setiap kali saya mengajar, saya melihat usahanya untuk berkontribusi dalam proses belajar di kelas. Entah itu aktif bertanya, bahkan termasuk yang cukup banyak bicara dan ramah. Ketika praktikum komputer perbankan, saya memperhatikan bagaimana dia melakukan praktikum tersebut. Ternyata dia bisa mengikuti dengan baik meskipun harus mengetik dengan sebelah tangan. Tapi dia bisa.

Mahasiswa difabel

Ilham Mahasiswa Perbankan Syariah di IAIN Padang Sidimpuan (Dok. Ilham)

Di kampus tempat saya mengajar saat ini (IAIN Padang Sidimpuan, Sumatera Utara) memang belum tersedia fasilitas khusus untuk difabel. Semua masih disamaratakan. Meskipun demikian, tidak ada penilaian masuk berdasarkan fisik. Semua ditentukan oleh kemampuan akademik dan akhlaknya. Secara umum, sepertinya di Indonesia, sistem pendidikan yang ada saat ini masih belum mendukung pendidikan inklusif. Semua masih bersifat umum.

Jelas sekali UUD 1945 pasal 31 ayat 1 menyebutkan setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Artinya difabilitas tidak boleh menjadi batasan seseorang untuk memperoleh pendidikan. Saya membayangkan bagaimana mahasiswa yang saya ajar tersebut menyesuaikan dengan mahasiswa lainnya (normal) saat ujian, di kala orang normal mampu menulis dengan cepat, bagus dan rapi, dia terlihat bersemangat mengikuti ujian, tidak kalah dengan mahasiswa lainnya. Difabilitas tidak menjadi kendala baginya. Ilham sangat menikmati bangku kuliah bahkan cenderung aktif dalam berkomunikasi dengan teman-teman dan saya selaku dosennya. Pada dasarnya kemampuan difabel sama saja dengan yang lain. Mereka juga tidak ingin dibedakan dalam artian pemisahan kelas, praktikum yang berbeda lokasi atau yang lainnya. Mereka ingin disetarakan bukan dibedakan yang justru menimbulkan kesan eksklusif atau diskriminasi bagi mereka yang normal dan difabel.

Kita hanya perlu membawa kepercayaan diri mereka dan membuat sistem pendidikan yang accessable. Tapi adakah sekolah atau kampus di Indonesia yang mendukung difabel dalam memperoleh pendidikan? Jawabnya ada. Sebut saja UIN Sunan Kalijaga yang telah menyediakan Pusat Studi dan Layanan Difabel (PSLD) yang tujuannya adalah memberikan pendidikan yang accessable untuk difabel dimana di kampus ada satu unit khusus yang didirikan guna mengawal terlaksananya layanan yang baik kepada difabel dalam memperoleh hak pendidikan.

kita setara-rodame-pendidikan inklusi

Ilustrasi : Rodame

Sejak resmi dideklarasikannya ‘Indonesia Menuju Pendidikan Inklusi Secara Formal’ 11 Agustus 2004 di Bandung. Saya masih jarang mendengar sekolah inklusif di Indonesia baik untuk tingkat SD, SMP, SMP maupun perguruan tinggi. Padahal kalau merujuk kepada UU RI No.4 pasal 6 tahun 1997 tentang penyadang cacat dimana setiap penyandang cacat berhak memperolah pendidikan pada semua sektor, jalur, jenis dan jenjang pendidikan (Pasal 6 ayat 1); setiap penyandang cacat memiliki hak yang sama untuk menumbuh kembangkan bakat, kemampuan dan kehidupan sosialnya, terutama bagi penyandang cacat anak dalam lingkungan keluarga dan masyarakat (Pasal 6 ayat 6) seharusnya pendidikan inklusi di Indonesia sudah berjalan apalagi ada UU yang membawahinya. Lagi-lagi pada praktiknya di lapangan, hal tersebut belum sepenuhnya terlaksana. Meskipun ada juga pihak-pihak tertentu (non pemerintah) yang sangat memperhatikan hal tersebut bahkan sampai memberikan ‘Beasiswa Pendidikan Difabel’ bagi anak difabel berprestasi yang terhambat biaya ekonomi.

Beberapa kendala yang menyebabkan sulitnya terlaksana pendidikan inklusi di Indonesia adalah :

  1. Inkonsistensi Kebijakan : saat ini sudah ada UU yang mengatur tentang pendidikan inklusi, sayangnya hal tersebut tidak dibarengi dengan kebijakan pemerintah yang konsisten dan mendukung penuh sistem pendidikan inklusi yang sifatnya menyeluruh dari pusat ke daerah. Ketidaktegasan pemerintah dalam memberlakukan UU yang berlaku menjadi salah satu penyebab lemahnya pelaksanaan pendidikan inklusi di Indonesia.
  2. Sarana Pendidikan Inklusi : hingga kini sekolah atau kampus yang mendukung pendidikan inklusi masih terhitung jari. Dari yang ada saja, sarana pendidikan inklusi masih minim dan belum memadai. Karenanya sulit melaksanakan sistem pendidikan inklusi di Indonesia bisa tercapai.
  3. Kurikulum : belum adanya kurikulum khusus bagi difabel di Indonesia menyebabkan terhambatnya pendidikan inklusi. Kurikulum pendidikan yang diberlakukan masih umum. Sementara itu difabel memerlukan kurikulum khusus yang paling tidak sesuai dengan keadaan mereka.
  4. Keterampilan Khusus Tenaga Pengajar : banyaknya tenaga pengajar baik guru maupun dosen yang belum memiliki keterampilan khusus dalam mendidik difabel. Hal ini juga turut menghambat jalannya sistem pendidikan inklusi di Indonesia.
  5. Kurangnya Penerimaan : bisa dibayangkan apa yang terjadi jika di sekolah atau kampus dimana anak kita berada ternyata disatukan dengan difabel. Kita, masyarakat Indonesia yang sejak dulu tidak terbiasa hidup bersama dan belajar bersama dengan difabel akan merasa tidak nyaman bila digabungkan untuk belajar dan bermain bersama. Kurangnya penerimaan dari berbagai pihak juga termasuk menjadi penyebab sulitnya pendidikan inklusi dilaksanakan di Indonesia.

Lalu, apa solusinya agar pendidikan inklusi di Indonesia dapat terlaksana dengan baik?

  1. Kebijakan dan UU : pemerintah harus menegakan kembali pemberlakuan UU yang berlaku didukung dengan memberikan kebijakan-kebijakan bidang pendidikan yang memihak pada terlaksananya pendidikan inklusi di Indonesia.
  2. Sanksi : pemerintah maupun institusi yang terkait sebaiknya mulai memberlakukan sanksi atas tindakan yang menyalahi UU yang berlaku terkait pemberian layanan pendidikan yang setara bagi difabel.
  3. Edukasi : masyarakat terutama anak-anak sejak dini harus dibiarkan hidup bersama dengan difabel agar mereka kelak bisa menerima keberadaan difabel dan menyayangi mereka apa adanya. Di dalam belajar setiap anak harus diajarkan untuk hidup bekerjasama dengan difabel bukan bersaing. Dengan orientasi belajar bersama maka kesetaraan pun makin terasa. Edukasi dapat dilakukan oleh orangtua maupun guru di sekolah-sekolah.

Peranan Berbagai Pihak terhadap Difabel dalam Menyediakan Kesempatan Kerja

Tahun 2010, untuk pertama kalinya saya terkejut di dalam hidup. Saya melihat seorang bapak memasuki lobi kampus dan duduk di kursi dengan sangat nyaman. Saat itu saya belum mengenali beliau. Tapi salah seorang teman sekelas saya begitu mengenal beliau. Penampilannya rapi dan berbalut kesederhanaan. Mata tak sama sekali menunjukkan kerendahan diri. Bahkan menurut cerita teman saya, beliau sering dimintai pendapat dalam setiap pidato kepresidenan kala Presiden SBY menjabat. Saya semakin takjub dan tak henti mengucapkan kata luar biasa untuk beliau. Sejujurnya, saya tak pernah berbicara langsung dengan beliau. Hanya sering mendengarkan beliau ketika sedang membimbing mahasiswa S2 di kursi lobi. Beliau membimbing mahasiswanya dengan semangat dan dukungan positif. Dosen pintar ada banyak di Indonesia, tapi yang memberi semangat dan memudahkan mahasiswanya bimbingan di sela-sela kesibukannya sangatlah sulit didapat.

“Bapak itu Profesor loh”, ucap teman sekelas saya yang menjadi salah satu mahasiswa S2 bimbingannya.  “coba lihat kesana!”, tambahnya. Saya kaget tapi juga takjub. 

Benar saja, beliau berjalan menuju kendaraan roda empatnya, dengan sebuah tongkat di tangannya. Tongkat itu ternyata menjadi penopang tubuhnya agar seimbang saat berjalan. Beliau berbeda. Beliau ternyata difabel. Namun sangat gigih dan humble. Hal tersebut terbukti dari capaiannya sebagai seorang Profesor di Indonesia yang kerapkali dimintai pendapatnya oleh mantan orang nomor satu di Indonesia.

Dalam dunia pendidikan gelar Profesor adalah yang tertinggi. Meski difabel, beliau bisa menjadi seorang guru besar di sebuah kampus negeri di Indonesia. Beliau memiliki kesempatan kerja yang sama dengan yang lainnya. Pelajaran berharga yang saya peroleh dari hal tersebut adalah kesetaraan. Beliau boleh saja difabel tapi mentalnya adalah mental pemenang. Beliau menunjukkan pada dunia bahwa difabel bukan berarti akhir dari segalanya. Namun justru menjadi sebuah keistimewaan yang Tuhan berikan hanya pada orang-orang pilihan saja. Beliau, bagi saya adalah orang pilihan tersebut. Dengan gelar Profesor yang diraihnya, saya semakin yakin akan semakin banyak orang yang terinspirasi dengan sepak terjangnya dalam berkarir. Dialah Profesor Hermanto Siregar.

difabel setara-rodame

Profesor Hermanto Siregar Berbaju Putih Memberi Santunan pada yang Membutuhkan (Dok. www.mb.ipb.ac.id)

Penyebab sulitnya difabel mendapatkan kesempatan bekerja adalah :

  1. Kemampuan menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam kesempatan bekerja dan berkarir. Difabel jika dibandingkan secara keilmuan maupun tingkat pendidikan mungkin akan menjadi penghambat bekerja di perusahaan. Karenanya, difabel sejak dini mestinya sudah dilatih untuk memiliki kemampuan dan keahlian tertentu agar kelak dapat mandiri dan bekerja bersama-sama dengan orang normal lainya. Sekali lagi cooperative bukan competitive.
  2. Belum ada ketetapan yang mengharuskan perusahaan di Indonesia menerima difabel dengan proporsi tertentu. Berbagai info lowongan kerja di media baik koran maupun elektronik, cukup banyak yang meminta karyawan berpenampilan menarik atau ada juga yang meminta syarat fisik lainnya seperti tinggi dan berat badan proporsional. Setiap membaca info lowongan pekerjaan entah mengapa saya merasa kesetaraan antara difabel dan yang normal belum berjalan dengan baik.
  3. Kantor-kantor yang ada di Indonesia sepertinya belum ramah terhadap difabel. Sarana penunjang seperti lift khusus untuk difabel, jalan dan areal khusus untuk pengguna kursi roda juga fasilitas di kantor pada umumnya masih umum. Hal ini menunjukkan belum tersedianya sarana kerja yang mendukung difabel.

Solusi agar difabel mendapatkan kesempatan yang sama dalam dunia kerja adalah :

  1. Ketegasan : UU yang berlaku sebaiknya ditegakkan dan diberlakukan secara merata termasuk di perusahaan yang ada di Indonesia. Baiknya, setiap perusahaan membuka lowongan pekerjaan dimana 1-2 diantaranya adalah difabel. Dengan begitu, difabel merasakan kesetaraan dalam kesempatan kerja dan berkarir di perusahaan.
  2. Budaya Kerja : mulai dari top level manajemen, middle level dan lower level harus memberlakukan budaya kerja yang adil dan setara. Artinya, dalam membangun budaya kerja tersebut semua pihak di perusahaan harus terlibat sehingga akan lebih baik jika difabel berada dan bekerja bersama-sama dengan karyawan lainnya yang normal. Dengan menyelami dunia difabel lebih dekat, saya yakin budaya kerja yang adil dan setara tersebut dapat direalisasikan di Indonesia.
  3. Sarana Penunjang di Kantor : baiknya kantor-kantor di Indonesia mulai menyediakan sarana penunjang yang bisa memfasilitasi difabel dalam bekerja. Mungkin seperti kewajiban setiap perusahaan melakukan CSR (Corporate Social Responsibility) maka kewajiban perusahaan menyiapkan sarana penunjang bagi difabel juga bisa diwajibkan. Saya rasa itu juga termasuk tanggungjawab bersama. Difabel kan tanggungjawab kita bersama juga.


Demikianlah bahwa dunia ini diciptakan beragam. Difabel dan kita semua pada dasarnya memiliki hak yang sama dalam pendidikan hingga berkarir. Kita hidup bersama. Kita hanya memiliki kemampuan yang berbeda bukan berarti tidak setara. Mungkin saja kelak saya, anda dan kita semua menjadi difabel seperti mereka saat ini. Bagaimanapun manusia yang baik adalah mereka yang menyayangi sesamanya seperti dirinya sendiri termasuk difabel. Karena kita setara.

karena kita setara-rodame

Ilustrasi : Rodame