Ketika anak sakit, pertanyaan itu yang datang ke benak saya, ‘kenapa anak harus sakit?’. Tak habis pikir kenapa anak sekecil itu harus menanggung rasa sakit yang sepertinya belum siap dia tanggung. Waktu itu tengah malam tiba-tiba ketika tertidur pulas bersamanya, terasa panas di lenganku, yang tak sengaja memeluk tubuhnya. Saya kaget namun tetap berusaha tidak panik, setelah setahun kemarin kejang demam melandanya, saya sudah sedikit belajar sehingga obat penurun panas masih tersedia dan tersimpan dengan baik.

Oke, saya berusaha pelan-pelan mencari termometer digital dan mengukur suhu tubuhnya melalui ketiaknya. Dia masih tertidur pulas ketika saya sibuk mempersiapkan obatnya. Sejujurnya saya juga bukan tipe yang sepakat dengan mendahulukan obat ketika anak sakit. Tetapi kasus anak saya yang punya riwayat kejang demam tidak boleh juga saya anggap sepele. Mau tidak mau saya harus ekstra hati-hati.

Dalam hati sambil mengompres dahinya dengan air hangat saya terus berdoa, memohon kesembuhan, memohon agar diangkat segala rasa sakitnya. Sambil terus mengukur suhu tubuhnya yang semakin naik. Akhirnya saya putuskan untuk memberikan penurun panas yang biasa dijual di apotek atau toko obat. Alhamdulillah perlahan turun, rasanya lega sekali. Dengan riwayat kesehatannya yang seperti itu, saya memang tidak punya pilihan lain lagi. Setelah sempat turun akhirnya naik lagi, kaki dan tangannya dingin sekali dan kami buru-buru membawanya ke puskesmas terdekat, disana dia masih berjalan dan berlarian kesana kemari sampai akhirnya karena kuatir terjatuh saya pun menggendongnya kembali. Tiba-tiba dia kejang. Lagi…. ketakutan mulai menghantui saya dan suami. Suami bahkan lebih panik daripada saya. Saya harus tetap berusaha tenang meskipun hati dan pikiran rasanya kacau sekali.

Puskesmas angkat tangan, tak bisa menangani anak saya. Akhirnya kami berangkat ke rumah sakit terdekat, adanya rumah sakit swasta yang tahu sendiri biayanya pasti lebih mahal daripada rumah sakit pemerintah. Mana belum punya BPJS (sampai sekarang juga belum bikin sih…jadi inget harus bikin segera ah…). Dan sampai disana anak langsung disuntik stesolid dari anus. Tidak pakai aba-aba, langsung mau diinfus, entah kenapa saya tidak bisa menolaknya. Padahal tahun kemarin saya tegas berani menolak infus. Apa saya mulai panik hingga tak bisa berpikir jernih ya… Diminta pindah ke kamar untuk rawat inap. Yesss, tidak ada kamar kelas 3, kelas 2 dan kelas 1 yang tersisa kamar kelas VIP. Jangan ditanya sewa kamar per malamnya ya… yang ada dipikiran saya dan suami hanya kesembuhan dan kesehatan anak kami. Karena dia juga diare maka salah satu cara agar anak dapat keluar dari rumah sakit adalah memberikan banyak cairan ke tubuhnya. Selain ASI, minum air putih, kuah dari sop juga oralit yang disediakan rumah sakit dalam bentuk botol besar. Harus dihabiskan!

Selama menginap di rumah sakit, anak tidak betah dengan infus, tentu saja di usianya yang masih menuju 2 tahun, infus bukanlah teman melainkan musuh karena menghambat geraknya. Beberapa kali hampir copot dan akhirnya benar-benar copot dan kata pihak rumah sakit masih harus dihabiskan cairan di infusnya tidak peduli akan lepas berapa kali pokoknya tidak boleh dilepas. Perasaan saya campur aduk, sedih sekali bercampur pilu dan ngilu melihat darah di suntikan infusnya kemana-mana. Argghh…ibu macam apa yang tega melihat semua ini terjadi pada anaknya. Sambil terus berdoa dan terus membuatnya tersenyum, dia terlihat bosan dan ingin jalan-jalan keluar. Bayangkan membawa infus kemana-mana sambil lari-larian, yang satu takut jatuh karena terlilit tali infus, yang satu takut tangannya ngangkat-ngangkat darahnya ngucur lagi. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga anak-anak, baginya bermain adalah segalanya. Mengurungnya di kamar terus-menerus juga tidak mungkin kan… (ketika anak sakit saya memang tidak pernah mengabadikannya dalam sebuah foto, jadi saya benar-benar tidak menyimpan foto apapun ketika dia sakit, boro-boro mau motret melihatnya saja saya tak tega, saya hanya ingin terus berada di sisinya).

Setelah berdebat panjang, karena diminta menunggu keputusan Dokter untuk pulang karena harus menunggu penjelasan Dokter tentang hasil lab, akhirnya kami diminta menandatangani surat pulang atas kehendak sendiri dan bertanggungjawab atas segala risiko yang mungkin terjadi setelah keluar dari rumah sakit tersebut. Setelah diskusi dengan suami, dan saya pun yakin anak saya akan sehat kembali, resmi sudah kami meninggalkan rumah sakit tidak lupa melakukan pembayaran yang waw itu…. (semoga Allah berikan rezeki dan nikmat kesehatan untuk kami semua, doaku di dalam hati).

Setelah mencari beberapa informasi di internet, saya menemukan informasi yang menyebutkan bahwa demam ternyata cara anak untuk melawan penyakit yang mungkin akan menyerangnya. Justru kalau anak demam berarti pertahanan tubuhnya sedang bekerja dengan baik. Memang tidak mudah merelakan anak sakit, karena sebagai ibu bukan tidak pernah saya meminta agar saya saja yang menanggung rasa sakitnya karena tak tega melihatnya. Namun setelah dipikir-pikir, dia juga harus kuat, dia berusaha melawan penyakit yang mungkin menyerangnya dengan demam tersebut. Jika saya tidak rela dia demam itu sama saja saya membiarkannya lemah tanpa perjuangan melawan penyakit yang mungkin menyerangnya. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa kejang demam itu bukan sesuatu yang perlu ditakuti oleh orangtua. Banyak yang bilang anak tidak boleh kejang demam berulang karena dapat merusak otaknya, juga ternyata tidak sepenuhnya benar.

Menurut parenting.co.id:

Kejang demam adalah kejang yang terjadi akibat demam, bukan akibat adanya kerusakan di otak seperti halnya anak meningitis (radang selaput otak) atau ensefalitis (radang otak). Karena pencetusnya bukan berasal dari otak, kejang demam tidak berbahaya dan tidak menyebabkan gangguan intelektual.

Anak sakit sepertinya normal, termasuk ketika demam maupun kejang demam. Sebagai seorang ibu, menjadi Dokter di rumah adalah mutlak. Karena bagaimanapun semua hal yang terkait dengan anak sudah menjadi tanggungjawab ibu yang merawatnya setiap hari. Bagaimanapun hebatnya dalam merawat, sakit pada anak ternyata tetap saja tidak bisa dihindari. Kekebalan tubuhnya justru menuntutnya untuk bergerilya melawan penyakit yang mungkin menyerangnya dan wujud dari perlawanan tersebut bisa melalui demam, diare ataupun kejang demam. Semoga saja dengan semakin banyaknya ibu yang berbagi informasi seputar parenting dan kesehatan anak kita semakin bisa menolong anak-anak kita agar cepat dan tanggap dalam menghadapi sakit pada anak sembari terus berusaha mendidik anak-anak kita agar menjadi generasi penerus yang sehat dan cerdas.

Alimikal sebelum kena kejang demam pertama (Dok. Rodame MN)

Alimikal sebelum kena kejang demam pertama (Dok. Rodame MN)

Memelukmu

Mendekapmu

Menyaksikanmu tumbuh dan sehat

Menjadi anak yang kuat dan berakhlak

Adalah kebahagian terbesar Ibu

Jika engkau sakit

Maka berjuanglah Nak

Ibu akan selalu setia dan mendoakan

yang terbaik untukmu

Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Every Mom Has A Story #stopmomwar