Education is not preparation for life; education is life itself -John Dewey

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat undangan ke TK dimana anak saya bermain dan belajar. TK Al-Misbah namanya. Jadwal masuk hari Senin-Sabtu, khusus Jumat masuk dan pulang lebih awal. Tiap kelas biasanya didampingi oleh 3-4 guru dimana masing-masing guru membimbing secara khusus 10 anak di kelas yang diajar. Kalau di Padangsidimpuan, ini adalah salah TK yang aksesnya mudah dijangkau dengan area bermain yang adem dan sejuk juga sistem keamanan yang baik. Mikal, anak saya, hari pertama masuk TK masih nangis tapi besoknya langsung menyesuaikan. FYI, dia ikut milih TK ini.

Dan tak terasa ternyata sudah 1 semester aja di TK. Saya memasukkan TK di usianya yang ke enam tahun. Saya memang tidak buru-buru memasukkan TK karena merasa tidak ingin anak merasa terpaksa. Meskipun banyak juga yang protes, kenapa tidak masuk PAUD, kenapa baru dimasukin sekaranglah, dan kenapa-kenapa lainnya. Hehe. Ini murni karena pemikiran saya dan suami aja yang cenderung merasa anak kami, Mikal itu cepat bosan, jadi kalo dia berhenti di tengah jalan padahal sudah bayar untuk setahun, sayang sekali rasanya. Itu juga yang jadi pertimbangan kami.

Penerimaan Raport Semester TK Al-Misbah Bersama Orang Tua (Dok. Rodame)

Saya lupa, apa sudah pernah ceritakan TKnya versi lengkap, kayaknya belum ya. Gpplah langsung lompat ke cerita setelah 1 semester aja ya. Oke, saya lanjut lagi ya, tibalah hari membagi raport semester yang sudah dilalui Mikal. Semua murid dibariskan mulai kelas A, B dan kelas daycare (kelas pampers-istilah Kepala TK-nya). Lalu Kepala TK mulai memanggil juara-juara kelas, mulai dari juara 3, 2 dan 1. Sampai akhirnya ke kelas B3, kelas Mikal bermain dan belajar.

Mikal Paling Belakang Kanan, di Barisan Kelas B3 Bersama Guru Kelas (Dok. Rodame)

Ekspresi Mikal waktu tidak dipanggil mendapat piala itu sedih, dia sih bukan nangis tersedu-sedu. Nangisnya melodrama kalo kata rekan kerja saya. Air matanya netes satu-satu. Lalu, iseng saya tanya, “kenapa koq nangis?”. Jawabnya, “abang koq gak dapat piala mama?”. Saya tanya lagi dia, “loh emangnya kenapa abang pengin piala?”. “tapi teman abang dikasi ama bu guru, abang mana?”. Dia hanya tertuntuk selama pembagian piala juara kelas.

Saya coba jelaskan padanya bahwa tidak selalu yang kita inginkan itu selalu terpenuhi seperti mau kita. Saya jelaskan dengan memberi contoh pada teman-temannya yang lain yang juga tidak dapat piala hari itu. Saya juga sampaikan bahwa yang dapat piala itu pasti belajarnya lebih disiplin dan memotivasinya agar makin disiplin. Saya memang tidak pernah memaksakan anak dengan target tertentu. Lagi pula ini masih TK aka Taman Kanak-Kanak. Kalo secara definisi TK itu adalah salah satu bentuk pendidikan formal prasekolah bagi anak usia 4 tahun hingga akan memasuki Sekolah Dasar.

Nah, kalo menurut peraturan daerah Nomor 27 tahun 1990, tentang Pendidikan Prasekolah Bab I pasal 1 ayat (2) Pendidikan di Taman Kanak-Kanak dilaksanakan dengan prinsip bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain sesuai dengan perkembangan anak didik. Karenanya tujuan TK berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0486/U/92 tentang Taman Kanak-Kanak, adalah membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta yang diperlukan oleh anak pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.

Bermain Mandi Bola dengan Shanza dan Teman Lainnya (Dok. Rodame)
Bermain Mandi Bola dengan Sang Adik Shanza dan Teman Lainnya (Dok. Rodame)

Sejak awal, saya ingin memahami betul bahwa saya ingin, anak-anak saya menikmati masa prasekolah dengan menyenangkan bukan membosankan. Karenanya, tujuan TK adalah membantu mengarahkan tumbuh kembang anak menuju Sekolah Dasar maka apapun hasil capaian Mikal saya menerima dengan rasa bahagia dan bangga.

Saya bersyukur karena saya tidak pernah menerima laporan guru tentang sikap anak saya yang usil pada guru atau teman-temannya, saya tidak menerima laporan bahwa anak saya memberontak atau menunjukkan sikap yang tidak sopan. Dia justru mengalami perubahan positif dalam sikapnya. Dia belajar jujur, dia mudah bergaul, dia senang mendampingi dan mendukung, dia menyenangi apa yang dikerjakannya, jiwa kepemimpinan sebagai seorang abang bagi adiknya terlihat dan yang paling saya sukai adalah kemampuannya dalam berkreasi (daya cipta) terhadap sesuatu. Bagi saya, itu semua jauh lebih berharga dibanding sebuah piala atau rangking.

Alimikal Menunggu Berangkat ke TK Al-Misbah (Dok. Rodame)
Alimikal Menunggu Berangkat ke TK Al-Misbah (Dok. Rodame)

Yap, rangking bukanlah segalanya. Kesuksesan tidak melulu diukur dengan rangking. Saya ingin belajar memahami dan menghargai apa yang sudah dilakukannya selama ini. Meskipun, saya juga harus tegas dalam mendisiplinkannya mulai dari bangun tidur, mandi, mengerjakan tugas, tidur malam atau hal lainnya yang kurang bagus. Semoga saja, makin banyak orang tua di luar sana yang melihat anak bukan dari angka (rangking) melainkan dari nilai kehidupan lain yang melekat dan tumbuh positif dalam diri anak. Mungkin ini juga yang disebut dengan softskill.

Bagaimanapun, ilmu tanpa adab tidak berguna. Adab lebih utama dibandingkan ilmu. Karenanya, biarlah anak tidak dibebani dengan target rangking, asalkan dia tumbuh sebagai anak yang beradab dengan nilai-nilai positif dalam dirinya. Saya bukan tidak mendukung anak untuk dapat rangking, sebagai orang tua tentu itu kebanggaan tapi saya merasa saat ini, bukan itu yang utama, TK adalah wadah bermain sambil belajar. Let him enjoy his world.

Semua ada masanya. Semua anak istimewa.