Masih cerita seputar kehamilan. Lagi-lagi pengalaman pribadi saya di masa kehamilan kedua ini. Sebenarnya sih saya memang tidak suka mengonsumsi obat terutama ketika hamil. Namun dalam kenyataannya obat menjadi perantara yang harus saya konsumsi untuk mengurangi rasa sakit bahkan membantu memulihkan keadaan saya.

Saya yakin di luar sana, masalah konsumsi obat saat hamil masih menjadi kontroversi. Sebagian menilai bahwa bagaimanapun obat tidak baik untuk tubuh. Sebagian lagi menilai sah-sah saja konsumsi obat saat hamil asal sesuai aturan dan resep dokter kandungan. Dan sebagian lagi menilai pokoknya kalau sakit ya minum obat. Apapun persepsi ibu hamil tentang obat yang jelas, semua pasti ada alasannya masing-masing mengapa memilih konsumsi obat atau sebaliknya memilih untuk memakan obat herbal non kimia atau justru memilih konsumsi makanan yang bergizi dan mampu memberi daya tahan yang baik saat hamil.

Obat atau vitamin? awalnya saya selalu bingung mendefinisikan keduanya terutama saat periksa ke Bidan atau Dokter kandungan. Kenapa? ya karena terkadang saya merasa tidak senang menyebutkan obat sementara saya saat itu merasa sehat-sehat saja. Berbeda rasanya waktu saya memang sakit bahkan sampai harus dirawat di rumah sakit, namanya saja sudah ‘rumah sakit’ (saya sih kepengennya namanya diganti saja jadi ‘rumah sehat’ untuk mengurangi efek negatif, karena koq ya dengar kata sakit malah bikin tambah sakit ya? hihihi). Jelas, saya memang sakit dan obat menjadi bahan pokok yang mesti saya konsumsi setiap hari meskipun sedang hamil.

Tapi kalau sedang sehat, periksa rutin ke Bidan atau Dokter kandungan dikasi sejumlah pil yang harus dikonsumsi koq ya kadang-kadang bikin deg deg an juga. Ini obat atau vitamin? dalam hati saya selalu berharap supaya apa yang saya makan adalah vitamin untuk mendukung kehamilan saya bukan karena sakit. Mendengar kata obat itu rasanya negatif seolah-olah ada yang salah dalam kehamilan atau kesehatan kita. Saya koq lebih senang kalau Bidan atau Dokter kandungan bilangnya “dimakan ya vitaminnya”. Rasanya kata ‘vitamin’ lebih enak didengar telinga dan merasa ada efek positif ke kitanya dibandingkan kata-kata “ini obatnya, jangan lupa dimakan ya”.

Setiap periksa ke Bidan atau Dokter kandungan, ada atau tidak ada keluhan, saya selalu diberikan sejumlah pil entah itu vitamin atau obat-obatan. Biasanya saya selalu bertanya, “yang ini untuk apa? yang itu untuk apa”. Karena saya merasa saya perlu tau apa sebenarnya khasiatnya dan apakah saya benar-benar membutuhkannya. Saya pernah kaget karena diberi resep oleh seorang Dokter kandungan dengan harga yang lumayan mahal untuk dibayarkan (menurut saya sih 300 ribu itu lumayan mahal, mungkin tidak buat ibu hamil lainnya). Lantas saya berpikir, apa gak mendingan saya belanja, beli makanan yang bernutrisi, omega 3 misalnya ada pada ikan laut, serat ada pada sayuran dan buah. Uang yang 300 ribu itu bisa dipake buat beli itu semua kan ya? akhirnya saya waktu itu pulang ke rumah dan gak jadi tebus itu resep. Hahaha.

Begitulah, kembali lagi obat atau vitamin sepertinya secara definisi berbeda. Untuk psikologis kehamilan, saya lebih senang dengan sebutan vitamin saat periksa rutin dan obat saat memang benar-benar sakit. Ini opini saya ya. Bidan dan Dokter kandungan yang mendukung tanpa obat juga baik menurut saya. Mencari Bidan dan Dokter kandungan yang pro hidup sehat jauh lebih bagus untuk psikologis kita yang sedang hamil ini. Saya pernah ketemu Dokter kandungan yang seperti itu, katanya “ibu, bagaimanapun makanan yang bergizi itu jauh lebih bagus untuk kesehatan kehamilan dibandingkan dengan konsumsi vitamin, karena vitamin itu sifatnya suplemen alias tambahan saja”. Nah, mendengar kata-kata yang seperti itu rasanya lebih menenangkan hati kita yang sedang hamil ini karena butuh dukungan yang positif terutama saat sedang kurang fit.

Semoga berbagi kali ini bisa memberi manfaat buat semuanya.

Happy Pregnancy Moms!