Pergi disitu artinya bisa banyak ya, maksudnya gini misalnya ayah bunda-nya mau ke kantor atau mau pergi ke luar rumah bahkan ke kamar kecil. Biasanya anak usia 2 tahun sudah mulai bisa emosi atau marah. Anak usia segitu memang lagi pinter-pinternya. Maksudnya gimana? usia emas atau golden age 1-5 tahun, dimana jutaan bahkan miliaran sel bertumbuh dengan cepat di otaknya. Apa-apa akan ditiru cukup cepat, akan direspon dengan bermacam-macam, akan melakukan berbagai hal yang dia sendiri gak pernah tau betapa bahayanya apa yang dia lakukan itu. Itulah masa keemasannya.

Lalu normalkan anak histeris ketika ayah bunda-nya pergi misalnya ke kamar kecil atau toilet di rumah yang jaraknya cuma beberapa meter dari dia? Jadi inget, anak saya yang usianya 2,5 tahun juga gitu loh. Tiap ayah atau bundanya pergi, cuma geser dari tempat tidur doank loh ya, ditarik lagi sama dia, gak boleh kemana-mana. Pernah karena sudah tak tahan harus ke kamar kecil saya berlari saja tanpa menghiraukan tangisan dan teriakannya. Maklum sehari-hari kami berdua selalu ketika ayahnya kerja, jadi apa-apa dilakukan bersama setiap hari. Di kamar kecil saya ketakutan, panik kalau-kalau dia tiba-tiba membanting badannya, memukul-mukul barang, jatuh tak sengaja karena bermain atau melompat dan lain-lain. Bahkan di kamar kecil pun gak bisa konsen, hahaha.

Keluar dari kamar kecil, di sudah di depan pintu kamar kecil sambil teriak dan gedor-gedor pintu. Dikiranya bundanya gak akan keluar-keluar kali ya? hihi. Dia langsung diam dan menarik tangan saya untuk kembali ke kamar menemaninya bermain. Pernah juga beberapa ke ayahnya, setiap ayahnya pergi berangkat kerja pagi-pagi kalau dia lagi bangun, dia akan nangis dan teriak seperti ingin ikut dan bilang jangan tinggalin aku Yah. Ayahnya sampe pernah udah keluar rumah balik lagi ke dalam. Gak tega dengar tangisannya. Saya lalu bilang ke suami, kalau anak usia segitu memang sedang pintar-pintarnya, dia punya cara seperti teriak dan histeris itu biar kemauannya dikasi semua.

Sekali dua kali masih terjadi, akhirnya cari cara bagaimana supaya dia gak teriak dan histeris kalau gak liat ayah bunda-nya gak ada di dekatnya. Ini gak boleh dibiarkan karena anak akan keterusan dengan cara dia begitu, ayahnya gak tenang, kalau sama bundanya kan mau gak mau karena dia tau sebentar juga bundanya akan keliatan lagi karena cuma ke kamar kecil.

Akhirnya saya berembuk dengan suami untuk sepakat mencari cara agar anak tak histeris atau teriak ketika ayahnya pergi kerja atau ke luar rumah bahkan juga ke kamar kecil. KOMUNIKASI. Itu kuncinya. Anak saya yang usianya 2,5 tahun itu ternyata cukup paham diajak bicara. Meskipun dia belum lancar berbicara tetapi dia sudah bisa memahami maksud dan harapan kita. Kira-kira, kata-kata saya begini kalau saya atau ayahnya dilihatnya pergi dari dekatnya :

“Ali, ayah mau pergi kerja dulu ya, nanti sore juga ayah pulang. Ayah cuma kerja, kan malam kita bisa main lagi sama ayah, ayo salim ayah (kadang-kadang dilakuin), ayo dadah ke ayah”. Β Ini kata-kata kalau ayahnya akan berangkat kerja.

“Ali, ayah kan cuma ke kamar kecil, sebentar juga keluar, yuk main sama bunda dulu, nanti kalau ayah udah keluar kan bisa main lagi sama ayah, ya kan? udah sini, disini main lagi yuk”. Itu kalau ayahnya mau ke kamar kecil.

Kata-kata itu yang kami rutin komunikasikan ke anak di rumah. Awalnya masih suka menangis dan marah. Tapi cepet loh, seminggu atau dua minggu kemudian anak terbiasa, dia tau rutinitas ayah dan bundanya. Dia tidak lagi teriak, selama kita sampaikan kata-kata seperti itu. Sampaikan dengan pelan, tatap matanya, peluk dia, yakinlah dia akan memahami maksud kita yang diucapkan lewat kata-kata itu.

ali bunda komunikasi anak

Sejak saat itu, kemanapun saya atau ayahnya pergi, selalu berkomunikasi dengan dia. Kemana, hendak apa dan kapan akan kembali, semua disampaikan. Dia pun cukup memahaminya. Satu hal lagi yang paling saya salut adalah, ada satu hal yang dia tidak teriak atau histeris atau nangis saat ayah bunda-nya tidak ada, yaitu ketika sholat. Saya kaget, itu hal yang luar biasa menurut saya. Kalau anak kecil ikut main di sajadah lari-larian, peluk ayah bunda-nya pas sholat, nunggangin itu kan biasa, namanya juga anak-anak. Tetapi setelah dikasitau, ini namanya sholat, sholat itu wajib, Ali juga nanti harus sholat, hal-hal seperti itu, dia cukup paham. Bahkan dia menunggu dengan tenang sampai sholat ayah bunda-nya selesai baru dia ajak main lagi.

Pengalaman saya membuktikan, komunikasi adalah kuncinya. Usia 2,5 tahun anak sudah bisa diajak komunikasi yang serius, namun dengan cara yang lembut sambil dipeluk atau diusap-usap kepalanya. Yuk mulai komunikasi dengan anak-anak kita.