“Ketabo ketabo, ketabo dongan tu Sidimpuan” (Ayo, ayo, ayo teman ke Sidimpuan)

“Musim ni salak saonari disi dongan. Tonggi-tonggi sapot tae tabo” (Sekarang lagi musim salak. Manis-manis, sepet tapi enak)

Teman-teman, tau lirik lagu di atas? iya, lirik lagu di atas itu adalah salah satu lirik lagu daerah Sumatera Utara yang sangat populer loh. Dulu sewaktu kecil, ibu saya suka sekali menyanyikan lagu itu sambil bermain gitar, saya mengiringi dan ikut berjoget. Dulu, saya hanya mendengar nama Sidimpuan saja tapi tidak pernah tau dimana itu Sidimpuan dan bagaimana rasa salaknya. Itu dulu, sekarang saya bahkan menikah dengan orang asli Sidimpuan dan tinggal di Sidimpuan. Siapa yang menyangka? Hehe.

salak sidimpuan-rodame-padangsidimpuan-kota

Salak Padangsidimpuan (Dok. liandamarta.wordpress.com)

Dan tahun ini adalah lebaran ke-4 saya yang dirayakan bersama keluarga mertua di kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara. Tidak banyak yang kenal kota Padangsidimpuan. Kalau saya cerita sama teman di luar Pulau Sumatera termasuk rekan dari Jepang, mereka cuma kenal Medan. Begitu mendengar kata Sumatera Utara langsung bilang, “oh di Medan ya?”. Padahal jarak Padangsidimpuan ke Medan itu kurang lebih 7-8 jam. Jadi jelas sekali antara Medan dan Padangsidimpuan itu berbeda secara wilayah dengan jarak yang jauh.

Sejak menikah tahun 2011 dan memiliki anak pertama tahun 2012. Yang jelas tahun ini saya dan anak-anak tidak mudik karena sejak tahun 2015 saya sudah di Padangsidimpuan. Waktu itu, bapak mertua saya sempat terkena struk ringan dan dirawat di Rumah Sakit Stroke, Bukti Tinggi. Semenjak itu, tepat di kehamilan kedua saya dan anak sulung saya menetap di Padangsidimpuan. Awalnya memang sangat sulit untuk beradaptasi. Saya yang terbiasa dengan kehidupan perkotaan kini harus berhadapan dengan kehidupan di kota kecil Padangsidimpuan.

Padangsidimpuan 'Kota Salak' (Dok.mandaazzahra.files.wordpress.com)

Padangsidimpuan ‘Kota Salak’ (Dok.mandaazzahra.wordpress.com)

Lebaran di ‘kota salak’ Padangsidimpuan memang berbeda. Ada tradisi dan kebiasaan yang rutin dilakukan di keluarga maupun masyarakat setempat. Lebaran di kota Padangsidimpuan biasanya ditandai dengan adanya lomang a.k.a lemang dan rendang di rumah. Beberapa bahkan membuat lomang sendiri. Alhamdulillah, kami dapat dari tetangga yang bikin lomang, ada juga yang beli. Biasanya lomang dimakan dengan cara mencampurnya dengan daging sapi yang dimasak rendang.

mangalomang-lomang-lemang-padangsidimpuan-rodame

Mangalomang Khas Padangsidimpuan Menjelang Lebaran (Dok. ipopam.com)

Hasil akhir Mangalomang yaitu lomang siap santap :

lomang-lemang-padangsidimpuan-panyabungan-rodame-lebaran

Lomang a.k.a Lemang (Dok. Rodame)

Alhamdulillah, di lebaran tahun ini, saya dan anak-anak bersama keluarga mertua juga keluarga besar dari Bogor dan Padangsidimpuan bisa melakukan banyak hal. Senangnya luar biasa. Keinginan dan angan-angan untuk bisa jalan-jalan dan kulineran sekaligus silaturahim bisa dilakukan sekaligus. Karena kami juga kedatangan sanak saudara dari Pekanbaru yang saya sendiri bahkan baru pertama kali bertemu. Ini dia cerita lebaran asyik versi saya di kota Padangsidimpuan.

Tepat di 1 Syawal 1437 H, yaitu lebaran hari pertama tanggal 06 Juli 2016, saya yang sekian lama selalu berhalangan saat sholat ied, kali ini bisa sholat ied di Mesjid. Alhamdulillah sekali. Rasanya senang bukan main. Sebelum berangkat ke Mesjid, tradisi di rumah mertua dimulai dengan saling bermaafan satu sama lain. Biasanya selalu ada nasehat dan kata-kata petuah dari orangtua untuk anak-anak. Rasanya hampir tiap lebaran pertama, air mata menetes karena haru dan rasa bahagia bisa menyelesaikan puasa selama bulan Ramadhan.

Setelah itu, saya dan keluarga berangkat ke mesjid terdekat. Nama Mesjidnya Shirotol Mustaqim, jaraknya tidak begitu jauh dari rumah mertua. Kami berjalan kaki beramai-ramai dengan umat muslim lainnya yang akan sholat ied di mesjid yang sama. Alhamdulillah, saya masih kebagian sholat ied di dalam mesjid, senang sekali rasanya. Sepulangnya, saya mengenakan baju lebaran pemberian ibu mertua saya, gamis biru dongker polos seperti idaman saya. Senang sekali dapat hadiah baju lebaran dari ibu mertua. Hehe.

Sejujurnya, kami termasuk yang jarang bisa ngumpul dan foto keluarga. Jadi, begitu ada momennya, ambil kamera ponsel langsung jepret-jepret. Alhamdulillah, lebaran hari-1 ini, ada banyak foto bersama keluarga. Tidak seperti lebaran tahun-tahun sebelumnya, kali ini suami bahkan adik ipar laki-laki yang biasanya tidak mau difoto pun, excited untuk berfoto bersama keluarga. Saya bahkan sempat mengabadikan foto bersama Shanza dengan gamis pertamanya ‘hadiah dari Oppung Siantar’.

lebaran asyik di padangsidimpuan-rodame

Lebaran asyik di Padangsidimpuan bersama keluarga (Dok.Rodame)

Kami juga bersilaturahim ke tetangga dekat. Biasanya mereka selalu datang duluan tapi lebaran tahun ini, karena ibunda dari tetangga kami sakit dan sulit berjalan, bergantian kami yang mengunjungi mereka. Saya sempat kaget mendengar beliau sakit, semua diikuti suasana haru mengingat momen lebaran pertama ini harus dilewati dengan rasa sakit oleh sang ibunda. Sebelum berangkat siaturahim ke tetangga, kami sempat berpapasan di jalan. Lucu sekali, kedua keluarga ingin saling mengunjungi. Tapi karena mendengar sedang sakit, kami ngotot agar kami yang silaturahim ke rumah tetangga tersebut. Alhamdulillah, lebaran pertama ini mengunjungi tetangga dekat yang sedang kurang sehat pun masih bisa dilakukan.

Dalam suasana lebaran yang berbahagia. Di lebaran hari kedua, Keluarga dari Pekanbaru akan kembali dan silaturahim dengan keluarga lainnya. Setelah menginap beberapa hari di rumah, kini mereka harus melakukan perjalanan jauh lagi. Artinya, perpisahan di depan mata. Sejak pagi semua sudah sibuk merapikan dan menyiapkan kendaraan roda empat yang akan dipakai melewati perjalanan jauh. Kami berpamitan satu sama lain. Sebagai kenang-kenangan, saya dan keluarga memberikan kerudung kepada yang perempuan. Alhamdulillah, di lebaran hari kedua ini, masih bisa berbagi dengan saudara.

lebaran-mudik-ceria-asik-rodame

Sanak Saudara dari Pekanbaru (Dok.Rodame)

Sepanjang hari di lebaran ke-2, rumah mertua didatangi cukup banyak sanak keluarga baik yang dari sekitar rumah maupun dari lokasi yang lumayan jauh. Memang ada kebiasaan memberikan THR kepada anak-anak. Alhamdulillah, lebaran tahun ini bisa berbagi dengan saudara-saudara yang berkunjung. Sepanjang hari, sibuk menyiapkan ‘katupek’ a.k.a ketupat, ‘lomang’ a.k.a lemang, rendang, lontong, dengan kue-kue lebaran lainnya. Lebaran tahun ini, entah apa yang terjadi dengan lontong buatan kami. Karena kami gagal bikin lontong, jadinya nasi bukan lontong. Hahaha. Meski gagal, tetap saja dimakan rame-rame dan ludes.

Lontong, Makanan Khas Lebaran di Padandsidimpuan

Lontong, Makanan Khas Lebaran di Padandsidimpuan (Dok. Rodame)

Tamu silih berganti berdatangan ke rumah mertua. Meski lelah dan sibuk tapi hati rasanya bahagia sekali bisa bertemu dengan sanak saudara yang belum pernah ketemu sama sekali juga bisa kumpul keluarga (suami dan anak-anak) komplit dan sehat. Alhamdulillah.

Libur lebaran ini, saya bersama keluarga besar dan rekan kerja akhirnya bisa menikmati kota Padangsidimpuan sambil menikmati ragam kuliner tradisional, khas kota Padangsidimpuan. Jujur, saya meskipun asli orang Sumatera Utara, sudah setahunan ini menetap di Padangsidimpuan, belum pernah main ke Aek Sijorni, makan ikan mas yang kepalanya segede piring besar dan touring naik kendaraan roda dua bersama rekan kerja ke Tor Sibohi, Sipirok. Pokoknya, senang sekali karena libur lebaran kali ini saya bisa melakukan semua itu.

Aek Sijorni

Wisata air yang satu ini adalah wisata air alami, airnya langsung dari gunung, dingin tapi juga segar. Untuk pertama kalinya saya bersama anak-anak dan keluarga besar berkunjung ke Aek Sijorni. Jaraknya kira-kira 2 jam berkendaraan roda dua. Dan memang niat awalnya mengunjungi sanak saudara dulu di Sayur Matinggi (tidak jauh dari Aek Sijorni) lalu siangnya main ke Aek Sijorni. Meski sepanjang jalan si sulung tidur lelap, sesampainya di Aek Sijorni dia bangun dan girang sekali melihat banyak ikan dan air di kolam-kolam yang ada di Aek Sijorni. Disana sempat makan ‘mi kua pocal’ a.k.a mi kuah pecal khas Padangsidimpuan juga. Meskipun suasananya ramai, tapi anak-anak tetap senang meski gak main air.

lebaran-asik-padangsidimpuan-rodame-aek-sijorni

Main ke Aek Sijorni Padangsisimpuan bersama Keluarga Besar (Dok.Rodame)

Tor Sibohi Nauli Sipirok

Edisi wisata masih berlanjut ke Tor Sibohi Nauli, Sipirok. Oh iya, Sipirok itu salah satu kecamatan di Tapanuli Selatan yang terkenal dengan beras, ketan dan gula arennya yang T.O.P banget. Sedangkan wisatanya masih alami sekali, bahkan ada pemandian air panasnya juga loh. Tapi, kali ini saya gak main kesana, mainnya ke Tor Sibohi Nauli. Tor Sibohi Nauli ini menurut rekan saya, dulu dibangun oleh putra daerah yaitu Raja Inal Siregar, mantan Gubernur Sumatera Utara yang sudah almarhum karena kecelakaan pesawat Mandala Air. Tujuan dibangunnya Tor Sibohi ini untuk memperkenalkan Sipirok sebagai salah satu destinasi wisata di Sumatera Utara bagian selatan. Tempatnya luas sekali,dan bangunannya mencerminkan Tapanuli Selatan. Padang hijau lengkap dengan bebatuan dan pepohonan. Tor Sibohi ini sebenarnya semacam Hotel atau penginapan tapi karena tempatnya yang sangat indah banyak orang sekedar datang dan berfoto sambil menikmati padang hijau yang indah di dalamnya.

Torsibohi Nauli-Sipirok-lebaran-asik-rodameTorsibohi Nauli-Sipirok-lebaran-asik-rodame

Touring ke Tor SIbohi Nauli Sipirok (Dok. Rodame)

Makan di Porang

Nah, lebaran belum lengkap tanpa wisata kuliner khas Padangsidimpuan. Ini yang paling bikin saya penasaran. Rekan-rekan kerja saya cerita kalau ada rumah makan namanya Porang bikin lidah ‘huh hah’ tapi mau lagi dan lagi. Porang dalam bahasa Batak artinya perang. Saya sempat mikir, kenapa dinamai Porang ya, mungkin karena masakannya yang enak sampai bikin semua orang rebutan. Padahal ya, menunya ya bahan utamanya cuma satu aja, iya betul ‘ikan mas’. Di Sumatera Utara, ikan mas memang sangat disukai ini terbukti dari banyaknya menu tradisional yang bahan utamanya adalah ikan mas mulai dari arsik (ikan mas yang dibumbu kuning khas Tapanuli Utara), naniura (ikan mas mentah yang diasamin-sashiminya orang Tapanuli Utara), gule asom (ikan mas dan telurnya yang dimasak asam pedas), ikan mas bakar digule (ikan mas yang dipanggang dulu baru dimasak dengan kuah gulai pedas). Tapi, kali ini saya kulinerannya yang gule asom di rumah makan Porang. Gule asom dan makanan tradisional lainnya di Padangsidimpuan itu biasanya selalu disajikan dengan bolgang (rebusan sayur campur, ada daun pepaya, daun singkong, bunga pepaya, dll) ditambah holat (batang muda rotan) juga sambal bawang mentah. Rasanya luar biasa, kalau makan disini nasinya dikit aja ya, karena pasti gule asomnya gak bakal habis kalau kebanyakan nasi. Bumbunya asli pakai rempah-rempah Indonesia. Harus coba ya kalau ke Padangsidimpuan.

Kulineran di Rumah Makan Porang-padangsidimpuan-rodame-lebaran

Kulineran di Rumah Makan Porang (Dok.Rodame)

Alhamdulillah, lebaran tahun ini berjalan dengan lancar dan menyenangkan. Saya bisa menikmati lebaran bersama suami dan anak-anak, keluarga besar dan sanak saudara dari Pekanbaru juga tetangga dan semua umat muslim di bumi ini. Ini lebaran pertama saya yang sangat memuaskan. Karena saya bisa sholat ied, berbagi, kumpul keluarga dan wisata di kota Padangsidimpuan. Ternyata lebaran di kampung halaman suami bisa semenyenangkan ini. Saya seperti hidup dekat dengan alam dan lebih mengenal kekayaan daerah.

Saya masih ingat saat sholat ied berakhir, saya dan saudara seiman yang berada di dalam mesjid saling bersalaman sambil meneteskan air mata. Jujur, saya sedih karena bulan ramadhan sudah pergi. Gak tau apa akan ketemu lagi ramadhan lagi. Semoga masih dipertemukan dengan lebaran yang akan datang, tentu saja dengan penuh keceriaan. Semoga ya.