Pernah merasa rugi menabung di Bank? Jengkel, karena uang segitu-gitunya pun masih harus dipotong biaya admin bulanan dan biaya lainnya. Menabung menjadi momok yang menakutkan karena yang terbayang bukannya keuntungan melainkan kerugian. Itulah yang saya rasakan.

Ketika kuliah dulu, saya menggunakan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) yang sudah terhubung langsung dengan rekening BNI masing-masing. Semua pembayaran uang kuliah dibayar melalui rekening tersebut. Karena sudah punya kartu yang dwifungsi, satunya sebagai KTM dan satunya sebagai kartu ATM, saya tidak kepikiran buka rekening tabungan lainnya. Satu saja sudah cukup. Menjadi mandiri dan mengurus pemasukan dan pengeluaran sendiri ternyata tidak mudah. Saya lebih sering kehabisan uang belum waktunya. Kalau sudah begini, saya akan bertanya pada teman-teman dekat saya, apakah ada yang sudah dapat kiriman dari orangtuanya, lalu meminjam sedikit untuk bertahan 1-2 hari sebelum mendapat kiriman uang dari orangtua di kampung. Saling bergantian, saling tolong menolong. Itulah yang terjadi semasa kuliah.

Ketika perkuliahan selesai, KTM harus dipulangkan ke kampus. Lagi-lagi, saya harus menemukan bank dimana saya akan menabung dan melakukan berbagai transaksi. Pilihan saya jatuh pada BNI. Di benak saya, menabung ya di BNI. Karena sejak kuliah sudah menggunakan BNI, orangtua saya juga nasabah BNI, yang terpikir saat membuka rekening baru ya di BNI. Akhirnya, saya pun memiliki taplus BNI di kuliah tingkat akhir.

Belum tuntas saya diwisuda menjadi Sarjana. Saya berkesempatan berangkat ke Jepang dalam program internasional kampus untuk magang kerja di sebuah perusahaan pertanian disana. Selama di Jepang, saya terus bertanya, bagaimana cara mengirim uang ke Indonesia. Karena yang saya punya hanya taplus BNI. Saya pun bertanya pada kakak kelas yang sudah menetap di Jepang. Berita baiknya, dia menyampaikan bahwa saya beruntung karena memiliki rekening BNI. Dengan nada heran saya pun bertanya kembali, tentang keberuntungan saya yang memiliki rekening BNI yang dia maksud. Dia menjelaskan bahwa di Jepang ada BNI Tokyo. Dia bersedia mengajari saya cara mengirimkan uang ke rekening BNI yang ada di Indonesia. Dia pun membantu saya untuk menghubungi BNI Tokyo melalui telepon langsung.

BNI Tokyo kemudian mengirimkan form isian untuk mengirim uang ke BNI Indonesia. Saya mempelajarinya. Saya pun mengirimkan kembali form isian yang sudah diisi tersebut berikut uang dalam bentuk Yen di dalam amplop yang sudah disediakan oleh BNI Tokyo. Semuanya tersimpan rapi, dan saya tak perlu berangkat ke Tokyo untuk ke BNI-nya langsung, saya cukup mengirimkan semuanya melalui pos yang kemudian akan diproses oleh BNI Tokyo.

Benar saja, uangnya pun masuk ke rekening BNI yang ada di Indonesia. Saya yang tadinya sempat pusing karena memikirkan cara mengirim uang ke Indonesia dan was was uangnya sampai atau tidak akhirnya bernafas lega karena hasil bertanya ke ‘sempai’ (baca: kakak kelas) ternyata berbuah manis. Meskipun memang kala itu, potongan admin di BNI-nya cukup besar, untuk ukuran saya yang masih seorang mahasiswa, potongan admin kirim uang dari BNI Tokyo ke BNI Indonesia itu sangat terasa sekali. Tapi, mungkin karena ketidaktahuan saya dan malu bertanya tentang biaya admin tersebut maka saya merasa rugi. Salah saya juga kenapa waktu itu tidak bertanya perihal biaya lainnya.

Memiliki sebuah tabungan, tidak luput dari biaya yang dikeluarkan. Ada saja biaya yang harus dipotong melalui tabungan pribadi kita. Sebut saja biaya admin bulanan. Saya selalu resah tiap kali mengecek saldo tabungan. Bukannya apa-apa, uangnya tidak bertambah signifikan, tapi biaya admin bulanannya justru lebih terasa pengurangannya. Karena itu, saya selalu berangan-angan seandainya saja ada bank yang menyediakan produk tabungan tanpa biaya admin bulanan tentu akan sangat menyenangkan sekali. Saya tidak akan stres memikirkan biaya admin bulanan yang terus menguras isi tabungan yang tak seberapa.

mau bertanya nggak sesat di jalan-rodame-askbni

TabunganKu dari BNI (Dok. Rodame)

Tahu kan bagaimana rasanya kalau angan-angan menjadi kenyataan? Bahagia tentunya. Kebahagian itu bercampur dengan haru karena ternyata jawaban dari doa tersebut terkabul begitu cepat. Saya kini tak resah lagi, berkat bertanya ke BNI. TabunganKu adalah jawaban dari segala keresahan yang ada selama ini. Mau bertanya nggak sesat di jalan. Pepatah itu benar adanya. Saya sudah membuktikannya seperti dalam cerita dan pengalaman saya sebelumnya. Kerugian muncul akibat dari malu bertanya. Bayangkan, jika sudah terbiasa bertanya tentang perihal apapun, tentu kebahagian yang didapat. Sama seperti saya ketika mendapatkan tabunganKu.

mau bertanya nggak sesat di jalan-rodame-askbni

Buku TabunganKu BNI Bebas Biaya Admin (Dok. Rodame)

Nah, buat adik-adik kelas atau teman-teman yang kini sedang di Jepang baik magang atau kerja. Tidak perlu bingung lagi seperti saya dulu ya (dulu belum ada #AskBNI via Twitter @BNI46), karena sekarang kalian sudah bisa bertanya tentang BNI Tokyo. Caranya DM (Direct Message) @BNI46 ketik #AskBNI #BNITokyo. Juga buat kamu yang masih bingung cara memiliki TabunganKu yang bebas biaya admin bulanan seperti milik saya ini, bisa langsung DM @BNI46 ketik #AskBNI #Tabunganku. Dalam hitungan detik (selama koneksi internetnya lancar) akan langsung ada balasan yang berisi penjelasan tentang apa yang kita tanyakan. Mudah kan?

Ya, hidup adalah pilihan. Bicara soal pilihan bicara soal kemauan. Apapun masalahmu, ‘mau bertanya’ akan membuatmu mendapatkan pilihan terbaik. Percayalah!