hannibal

Sumber gambar : amazon.com

Pernah menonton film drama seri ‘Hannibal’? cerita bergenre crime-thriller ini sukses membuat saya kagum atas betapa berkuasanya pikiran manusia dalam berbuat. Tuhan tak pernah salah, manusia memang diberikan sebuah kelebihan yang tidak dimiliki oleh karya ciptaanNya yang lain. Akal, dialah alat manusia untuk dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah serta dapat menganalisis, menilai hingga menyimpulkan sesuatu hal.

Akal jika ditelaah dari bahasa Arab ‘aql yang secara bahasa berarti pengikatan dan pemahaman terhadap sesuatu. Manusia yang menggunakan akalnya dengan salah maka selamanya akan terjerat. Di dalam film drama seri ‘Hannibal’, akal manusia yang salah arah pada akhirnya akan membawanya pada keserakahan. Berperilaku seperti binatang namun berwujud seperti manusia.

Seperti seekor binatang yang memiliki insting sejak lahir dalam memangsa korbannya demikianlah seorang koruptor memiliki bibit korupsi dalam dirinya. Bibit korupsi itu kian tumbuh subur semenjak kedua orangtuanya memberinya makan dengan uang yang tidak halal. Orangtuanya sukses membesarkan bibit korupsi dalam dirinya. Pada dasarnya si anak bak kertas putih, namun orangtuanyalah yang memberi warna. Hingga kemudian dia dewasa, dia harus hidup dalam lingkaran setan itu. Setiap kali mencoba lepas darinya, setiap itu juga dia gagal. Hal ini karena ada penguasa yang harus dipatuhinya.

Penguasa itu adalah pengendali. Semua orang yang hidup bersamanya bisa saja bermental sama dengannya. Mental korupsi! Penguasa memengaruhi siapapun tanpa tebang pilih untuk memuluskan hasratnya. Layaknya seorang Chesapeake Ripper, yang tak seorangpun tahu bahwa dia ternyata diam-diam memakan daging korbannya sendiri untuk kepuasan dan kesenangannya tanpa merasa berdosa sedikitpun. Begitu jugalah dengan koruptor, dia memakan hak saudaranya sama seperti memakan saudaranya sendiri. Sebuah transformasi mental yang mengerikan. Transformasi mental yang tidak pernah kita inginkan.

Koruptor tega memakan uang yang tidak halal setelah ‘merasa’ ada keuntungan bahkan kenikmatan dari perbuatannya, awalnya satu kali lalu kemudian menjadi sebuah kebiasaan, merasa nyaman, semua terlihat semakin baik dengan kekayaan yang semakin berlimpah, saat itulah dia merasa apa yang dilakukannya telah menjadi sebuah pembenaran. Istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya, tetangganya, teman dan koleganya semua dibawa ke dalam keadaan tersebut. Dikuasai dan dipengaruhi agar mengikuti apa yang pikirkan sekaligus menjadi kaki tangannya. Awalnya sedikit takut, seiring makin besarnya nilai yang bisa mereka peroleh, semakin mereka sukses mematikan hati nuraninya agar dapat mengikuti ritme sang sutradara, koruptor.

3

Koruptor itu tak lain adalah Chesapeake Ripper. Hidup berkecukupan dalam limangan air mata korbannya. Di dalam darahnya mengalir darah saudaranya sendiri, yang dia makan dagingnya dan minum darahnya dengan bangga tanpa rasa bersalah. Sifat kanibalisme ada dalam dirinya persis seperti koruptor. Pemakan manusia melalui cara yang sadis. Koruptor memakan hak orang lain tanpa ampun. Haus, lapar dan nafsu yang membabibuta ada padanya!

Uang yang dicuri oleh koruptor adalah uang Negara, uang perusahaan dan uang rakyat yang dipergunakannya untuk kepentingan pribadi atau orang lain. Perbuatan seperti itu di dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) disebut dengan korupsi. Perbuatan yang hina dan busuk, sama seperti makna kata korupsi dalam bahasa Latin ‘corrumpere’ artinya busuk. Bisa dibayangkan bagaimana perbuatan busuk itu bisa ikut mengacaukan hal-hal baik sekitarnya. Baunya saja sudah menganggu apalagi dibiarkan berlama-lama dan tidak dibersihkan, belatung dan ulat-ulat akan memakannya lalu menyebarkan bakteri dan penyakit kemana-mana. Korupsi itu bak penyakit, yang siap menggerogoti tubuh inangnya sampai mati. Lalu dia kembali mencari inang baru untuk terus menghidupkan bibit korupsi di dalam setiap tubuh siapapun yang mengingininya. Tumbuh lagi, hidup lagi demikian seterusnya.

Lalu, bisakah Chesapeake Ripper seperti dalam film ‘Hannibal’ itu diburu? Bisa! Selama kita bisa masuk kedalamnya, berpikir seperti apa yang dia pikirkan, maka paling tidak kita bisa mencegah perbuatan busuk lainnya yang sudah dia rencanakan. Jika ingin memburu koruptor maka berpikirlah seperti seorang koruptor, ini untuk mengetahui perbuatan-perbuatan apa yang mungkin akan ditempuhnya dalam beraksi. Seorang koruptor akan melakukan segala cara untuk membuat publik tak mengetahui siapa dia yang sebenarnya. Ketika inilah dia menjelma menjadi malaikat dan membagi-bagikan hartanya kepada sebagian orang yang terpilih untuk bisa dipengaruhinya juga untuk memuluskan segala perbuatannya tersebut.

Koruptor itu seperti seseorang yang memiliki gangguan kejiwaan. Dia tak kan pernah sadar atau bahkan mengakui bahwa dirinya adalah orang yang tidak waras, karena bagi koruptor perbuatan busuknya adalah normal dan sangat wajar. Karenanya ketika ingin memburunya, jangan perlakukan dia seperti manusia normal yang memiliki akal sehat. Perlakukan dia seperti dia yang sebenarnya. Karena dia memiliki akal yang sakit.

Bisakah kita menghilangkan ‘akal sakit’ dari dalam diri koruptor? Akal adalah anugerah Tuhan. Tapi manusia diberi hak untuk mengubahnya kepada kebaikan. Ketika kemudian berubah ke arah yang salah, maka tentu saja hanya atas kehendaknya dan kemauan dirinya sendirilah, akal sakit itu berubah menjadi akal sehat kembali. Bukan oleh orang lain, meskipun orang tersebut memiliki kuasa untuk menghukumnya tapi dia tak punya kuasa untuk mengembalikan akal sehat para koruptor.

Perbuatan korupsi bisa kita cegah bersama-sama. Sekali lagi, ini bukan pekerjaan mudah, akan sangat sulit karena mereka dikendalikan oleh akal sakitnya. Pencegahan korupsi hanya bisa dilakukan dengan payung hukum. Ketahui dulu gejalanya persis seperti sebuah penyakit, korupsi pun pasti memiliki gejala. Lakukan pencegahan sebelum gejala itu bertransformasi menjadi perbuatan korupsi. Lakukan perburuan kepada mereka sebelum berbuat korupsi. Semua gejala yang mengarah ke perbuatan korupsi harus ditindak berdasarkan hukum yang berlaku. Sebenarnya kita sudah memiliki paying hukum tersebut yaitu UU No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Korupsi, yang diyakini lebih efektif dalam mencegah dan memberantas tindak pidana korupsi di Indonesia. Namun demikian, pemerintah melalui KPK atau organisasi antikorupsi lainnya seperti GNPK tidak bisa berdiri sendiri tanpa bantuan dari masyarakat yang mendukung terciptanya mental antikorupsi. Dibutuhkan keterlibatan masyarakat untuk saling mengingatkan, saling memberi informasi dan saling bersinergi dengan organisasi pendukung antikorupsi di Indonesia untuk mempercepat proses pemberantasan tindak pidana korupsi.

Apa korupsi bisa dicegah? Segala kemungkinan masih bisa terjadi, saya yakin satu-satunya cara adalah selalu berusaha dan melakukan perubahan, paling tidak dengan empat cara berikut ini :

Edukasi dini

Bekerjasama dengan sekolah-sekolah, institusi dan perusahaan di Indonesia. Buatlah kelas inspirasi anti korupsi, adakan rutin minimal sekali dalam sebulan. Perwakilan dari KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan GNPK pusat (Gerakan Nasional Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi) dapat menjadi nara sumber dalam hal ini guna mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk memahami betapa busuknya perbuatan korupsi serta dampaknya pada diri sendiri, keluarga, Negara dan bangsanya sendiri. Mengingatkan kembali setiap orang agar hidup dengan mental antikorupsi. Pemahaman tentang tindak pidana korupsi ini penting agar kita dapat mempercepat proses pemberantasan korupsi di Indonesia. Misalnya dengan membagikan buku-buku saku tentang korupsi ke sekolah-sekolah, institusi, perusahaan ataupun invidudu. Jika memungkinkan dapat juga membuat buku korupsi versi anak-anak, entah itu bergambar, gaya komik atau yang lainnya. Agar anak-anak memiliki rasa awareness terhadap masalah korupsi.

Pendidikan akhlak

Korupsi hanya bisa dicegah jika seseorang berada dalam keadaan positif. Jauh dari pikiran korupsi, jauh dari akal sakit. Mental antikorupsi hanya bisa ada pada mereka yang memiliki akhlak yang baik. Akhlak tersebut bisa berasal dari pendidikan agama baik formal maupun informal. Akhlak yang baik, rasa takut akan Tuhan dan takut akan dosa tertanam kuat jika diajarkan sejak kecil. Mulai dari lingkungan terdekatnya, orangtua sebagai contoh sehari-harinya, guru sebagai panutan di sekolah dan pemimpin dalam institusi atau perusahaan. Harus benar-benar tertanam di pikiran setiap orang bahwa korupsi adalah perbuatan dosa yang dibenci oleh Tuhan juga merugikan Negara karena bisa memiskinkan rakyat yang tak berdosa. Akhlak adalah senjata yang ampuh untuk melumpuhkan mental antikorupsi.

1

Anak muda sebagai ‘trigger

Jika kita mengenal istilah trigger dalam shotgun, maka kita pasti sepakat anak muda yang terdidik dan berakhlak sangat mungkin menjadi trigger dalam memberantas tindak pidana korupsi di Indonesia. Jadikan mereka sebagai garda terdepan dalam memberantas tindak pidana korupsi. Saya yakin sekali anak-anak muda Indonesia bisa membangun mental antikorupsi melalui gerakannya, keberaniannya dan kreatifitasnya.

Hadirkan ‘show man’

Bagaimanapun, seorang panutan dibutuhkan dalam membangun mental antikorupsi. Hadirkan ‘show man’-nya, beri masyarakat rasa ingin meniru panutan tersebut. Dalam artian, seseorang yang memang memiliki kapasitas dan pemahaman yang baik terkait korupsi juga memiliki aksi nyata yaitu dalam perbuatannya memberantas tindak pidana korupsi. Saya percaya adanya seorang panutan bisa membawa angin segar perubahan di Indonesia.

Apakah keempat cara diatas sudah cukup untuk mencegah tindak pidana korupsi di Indonesia? Saya yakin belum, namun jika setiap kita mulai membangun mental antikorupsi dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan terdekat maka saya yakin akan membawa kondisi yang kondusif untuk memberantas tindak pidana korupsi. Setiap kita adalah individu yang memiliki akal, yang dapat memilih yang benar. Setiap kita punya mimpi yang besar, mimpi untuk mewujudkan Indonesia bebas dari korupsi. Setiap kita pun bisa menjadi ‘agent of change’ untuk meraih mimpi tersebut. Karena perubahan hanya akan datang pada siapa yang beraksi nyata dalam memberantas tindak pidana korupsi bukan pada mereka yang hanya diam dan menunggu.

2

 Salam Antikorupsi!

Sumber Referensi:

[1] GNPK Pusat. http://www.gnpk-pusat.com/content/Profil. Diakses 05 Desember 2014.

[2] Apa yang dimaksud dengan korupsi. KPK. http://www.kpk.go.id/id/faq. Diakses 05 Desember 2014.

[3] Kamus Besar Bahasa Indonesia. http://kbbi.web.id/korupsi. Diakses 05 Desember 2014.

[4] Korupsi. http://id.wikipedia.org/wiki/Korupsi. Diakses 05 Desember 2014.

*Artikel dan video adalah karya Rodame MN (penulis)