Lestari alamku lestari desaku
Dimana Tuhanku menitipkan aku
Nyanyi bocah-bocah di kala purnama
Nyanyikan pujaan untuk nusa

Masih ingat dengan potongan lirik lagu ‘Lestari Alamku’ di atas? sampai sekarang saya selalu senang mendengarnya. Meski pencipta lagu tersebut ‘Gombloh’ sudah tiada namun dari syairnya jelas kita tahu betapa alam yang lestari itu begitu diimpikan oleh setiap manusia, yang kini perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit didapatkan di Indonesia maupun di belahan bumi lainnya di dunia.

Tahun ini saya bercita-cita lebih aktif dalam upaya menghijaukan bumi bersama anak. Saya selalu yakin Resolusi Hijau harus dimulai dari diri sendiri  dan dari lingkungan terkecil seperti keluarga. Kalau The Nature Conservancy Program Indonesia memiliki visi untuk mewariskan kehidupan alam yang berkesinambungan bagi generasi mendatang maka sebagai seorang ibu, saya punya visi mewariskan kebiasaan baik kepada anak agar menjadi pemimpin konservasi masa depan.

Nah, bagaimana dengan kita, sudahkah melakukan sesuatu untuk melindungi daratan, sungai maupun laut?? Memangnya kita bisa berbuat untuk bumi??

Jawabannya, TENTU BISA dan HARUS BISA. Kenapa begitu? karena sekecil apapun usaha kita untuk melindungi daratan, sungai dan laut itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

Lalu, sudahkah kita memanfaatkan sumberdaya yang kita miliki dengan efektif dan efisien untuk melindungi bumi ini? Jika belum maka inilah waktunya untuk kita semua ambil bagian di dalam upaya mewariskan kehidupan alam yang berkesinambungan bagi generasi mendatang. Paling tidak kita bisa mulai dari lingkungan terkecil dulu.

konservasi

Ada 4 kebiasaan baik yang bisa kita wariskan kepada anak-anak kita, diantaranya :

1. Mendekatkan anak pada alam

Seperti manusia, alam juga terdiri dari makluk hidup yang tumbuh dan berkembang biak. Di dalam alam ada flora dan fauna yang harus dipelihara dan dilindungi keberadaannya. Manusia saja butuh interaksi agar saling mengerti satu sama lain. Demikian juga dengan alam yang ada di sekitar kita yang di daratan, sungai maupun lautan jika kita tak mengenalnya dengan baik sudah barang tentu kita sulit memahami apa yang alam mau. Kita bisa mengajak anak berjalan bersama pagi dan sore hari sambil menceritakan tentang alam dan apa peranannya di dalam kehidupan sehingga anak menjadi akrab dengan alam dan timbul rasa menghargai.

2. Membiasakan anak buang sampah pada tempatnya

Kebiasaan warga membuang sampah di sungai, di hutan, di laut bahkan di daratan tempat kita tinggal adalah masalah yang tidak bisa diabaikan. Jika kebiasaan itu tidak diputus rantainya maka akan menurun kepada anak-anak kita. Karena itulah penting mengajarkan kebiasaan buang sampah pada tempatnya kepada anak sejak dini. Agar kebiasaan baik itu terus tumbuh dan tertanam kuat di dalam dirinya, hingga kelak anak-anak tumbuh dengan kesadaran akan kecintaan pada lingkungan yang tinggi.

3. Mengajarkan anak untuk menyayangi binatang

Kenapa ada orang-orang yang tidak punya hati nurani, membakar hutan lalu tak sengaja ikut membunuh orang utan dan binatang lainnya di hutan Kalimantan? Kenapa ada yang menjadikan kulit penyu laut yang langka menjadi bahan asesoris? Kenapa ada yang menangkap hewan mamalia laut yang dilindungi untuk dijual dan dijadikan makanan yang bernilai jual tinggi? Jawabannya sederhana, karena orang-orang tersebut tidak merasa memiliki. Dengan mengajarkan anak-anak untuk menyayangi binatang juga akan menjadikan mereka pribadi yang penyayang. Ketika timbul rasa sayang maka akan timbul rasa memiliki. Jika ada rasa memiliki maka mereka tahu binatang adalah bagian penting dari alam yang perlu dijaga dan dilindungi.

4. Mengajarkan anak cara menanam tanaman hijau maupun pohon

Tanaman hijau dan pepohonan adalah bagian penting dari alam yang harus terus dibudidayakan. Kenapa? karena tanpa tanaman dan pohon, lingkungan akan gersang dan tak ada lagi yang menyerap CO2 sementara manusia hidup mengeluarkan CO2, belum lagi polusi dari kendaraan, pabrik dan industri semua menyumbang CO2.

Lalu jika tak menanam tanaman hijau dan pepohonan, tak akan ada lagi udara bersih yang menyehatkan manusia, iklim pun menjadi tak stabil, kehidupan manusia akhirnya terganggu. Karenanya kebiasaan menanam perlu diajarkan kepada anak. Agar kelak ketika dewasa anak tumbuh menjadi seseorang yang mampu melindungi bumi.

konservasi

Saya juga yakin bahwa Indonesia bahkan dunia ini membutuhkan pemimpin-pemimpin konservasi di masa depan. Anak adalah calon pemimpin konservasi di masa depan, jika kita sebagai orangtua tidak mewariskan kebiasaan-kebiasaan baik sejak kecil bagaimana mungkin kita bisa melahirkan para pemimpin konservasi masa depan. Pemimpin tidak lahir begitu saja tetapi harus diciptakan. Resolusi Hijau 2015 saya ini mungkin yang paling sederhana namun saya yakin cukup efektif dan efisien dalam menciptakan pemimpin konservasi masa depan yang mumpuni.