hariibu

Ibu tak kenal tanggal, tak kenal hari, tak kenal usia, tak kenal masa, tak kenal waktu

Ibu tak cuma kata, tak cuma muka, tak cuma derita, tak cuma sedia, tak cuma cinta

Ibu tak rela sedih, tak ingin gundah, tak harap pamrih

Siapa di dunia ini yang terlahir tanpa ibu? Tidak ada!

Karena itulah ibu begitu disanjung dan dicintai oleh semua orang. Tak seorangpun terlahir di dunia tanpa ibu. Ibu memang tak butuh momen untuk dicintai, tapi ibu butuh penghargaan, kasih sayang, cinta dan apresiasi dari orang-orang yang dicintainya, anak-anak yang dilahirkannya susah payah, lingkungan sosial yang dibangunnya dalam ikatan persaudaraan dan silaturahim.

Sebagai ibu, saya sadar akan kelemahan saya. Saya juga sadar akan tidakmampuan dalam berbagai hal. Entah sebagai istri untuk suami, sebagai ibu untuk anak-anak, saya tetaplah manusia biasa yang penuh dengan kekurangan. Namun ungkapan kasih sayang dari keluarga, anak-anak dan orang yang dicintai seperti menjadi energi baru setiap hari untuk selalu berusaha menjadi ibu yang apa adanya, ibu yang terbaik versi manusia.

Kalau meminjam istilah dan kata dari Rena Puspa dalam buku Bahagia Ketika Ikhlas, menjadi original mom bukan supermom, itulah jalan menuju kebahagiaan. Ibu tak bisa menjadi super women, yang hidup tanpa cela. Saya setuju dengan hal itu, karena saya merasakan betul betapa menjadi ibu tak mungkin mampu membuat segala hal sempurna. Tidak mungkin!

Belajar dari kenyataan itulah, saya pikir tak ada yang salah dengan  mengucapkan selamat berbahagia sembari mendoakan ibu kita bukan hari ini saja karena memang hari ini Indonesia merayakan hari ibu secara nasional tetapi juga hari-hari lainnya selama kita hidup di bumi ini. Kita mungkin selalu ingat untuk mengucapkan dan mendoakannya tapi tahukah bahwa tak semua orang, tak semua anak seperti kita, seperti anda yang selalu mengucapkan ‘I Love u Mom, aku sayang mama’ setiap saat setiap hari. Karenanya perlu ada momen, tonggak bersejarah agar kita, manusia biasa yang sering sekali lupa dan khilaf ini terus mengingat ibu di dalam semangat dan perjuangan mereka.

Kalau ditelisik dari sejarah lahirnya hari Ibu di Indonesia. Kita bisa tahu kenapa hari ini 22 Desember menjadi peringatan Hari Ibu Nasional. Dulu sekali pernah ada Kongres Perempuan Indonesia, perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera berkumpul pada tanggal 22-25 Desember 1928 di Yogjakarta. Kongres itu kemudian dikenal dengan KOWANI (Kongres Wanita Indonesia). Namun selang 10 tahun kemudian 22 Desember tahun 1938 lah sebenarnya diresmikan peringatan Hari Ibu di Indonesia. Bahkan Presiden waktu itu sampai mengeluarkan Dekrit Presiden no.316 tahun 1959 untuk semakin mengukuhkan hari Ibu di tanggal 22 Desember.

Begitulah sejarah singkat lahirnya hari Ibu di Indonesia. Kongres yang menghasilkan banyak perbaikan pada kondisi perempuan saat itu telah mengubah keadaan Indonesia khusunya kaum perempuan termasuk ibu dan balita. Mungkin ini sebabnya Presiden menjadikan 22 Desember sebagai hari Ibu Nasional, demi menghargai semangat dan perjuangan kaum perempuan di masa penjajahan dahulu. Semoga dengan adanya hari Ibu ini, kita tidak hanya berterimakasih pada ibu kita di dunia ini tetapi juga kepada para pejuang perempuan yang meneteskan keringat, air mata dan darah ketika berperang melawan penjajahan dulu.

Selamat hari ibu, M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain yang tak bisa saya sebutkan satu per satu disini. Terimakasih atas perjuangannya dalam membangun generasi bangsa yang baik hingga kami bisa merasakan indahnya kemerdekaan.