Dalam hidup saya, ini sungguh ulang tahun yang paling berkesan sekaligus paling menakutkan. Saya masih ingat waktu itu, saya masih duduk di bangku SMA kelas 2. Saya tinggal di asrama. Seperti semua orang tahu, asrama itu identik dengan hal-hal yang menakutkan. Asrama tempat saya dan siswa/i tinggal dikelilingi oleh bukit-bukit dikenal dengan Bukit Barisan. Bukit di sebelah asrama biasa dijadikan ajang untuk hiking oleh para siswa/i. Selain karena tidak begitu tinggi, perjalanan ke atas bukit memang menyenangkan namun jika sendirian sebaiknya jangan. Karena yang namanya bukit liar, apapun ada didalamnya meski sekilas tampak tenang tapi jika sudah didalamnya rasanya sangat mungkin tersesat.

SMA Matauli Sibolga

SMA Matauli Sibolga (Sumber : Google Map)

SMA saya luas sekali, ada banyak gedung dalam satu areal tersebut termasuk ada kolam persis di depan asrama. Airnya berwana hijau dan ada tradisi memasukkan siswa/i yang ‘berulah’ ke dalamnya. Saya pernah menjadi saksi sebuah kejadian yang menegangkan di kolam tersebut. Sore itu, saya keluar dari pintu kamar depan asrama. Saya melihat teman saya sedang dikejar-kejar biawak besar yang keluar dari kolam tersebut. Teman lainnya datang dan menyodorkan kayu untuk menghalau biawak besar tersebut. Kalau saya gambarkan biawak tersebut mungkin panjangnya kurang lebih 1 meter dengan lidah menjulur-julur sambil terus mengejar teman saya tersebut.

Asrama Matauli Sibolga

Asrama SMA N 1 Matauli Sibolga (Dok. Fadillah)

Kisah lainnya, teman saya yang berulangtahun pernah dimasukkan ke dalam kolam tersebut. Keluar dari dalam kolam, ada lintah yang lengket di kaki-kakinya. Teman lainnya juga cerita sering melihat ada ular sedang berenang di dalam kolam tersebut. Sejenak saya bergidik teringat berbagai cerita dan kejadian di kolam ‘sakral’ tersebut. Saya bertekad tidak mau masuk ke kolam itu apapun alasan dan ceritanya. Saya memang tidak banyak ‘berulah’. Perilaku saya relatif baik meskipun kadang-kadang membangkang juga. Maklumlah jiwa muda. Bukan berarti saya tidak pernah dihukum karena melakukan salah karena saya pernah dihukum tapi lari bukan masuk ke kolam. Saya sedikit lega karena hukumannya adalah lari keliling lapangan.

Semenjak saat itu, saya terus berdoa agar jangan dimasukkan ke kolam itu. Menyeramkan. Bagi saya, kolam itu bukan ‘teman’ tapi mimpi buruk. Saya takut dengan kolam itu. Sampai suatu ketika, di bulan November tahun 2001. Saya berdoa agar tak ada seorangpun yang tahu saya berulangtahun. Saya selalu menghindari kolam, saya berjalan lebih jauh agar aman dari kolam. Saya takut ada yang tahu tanggal ulang tahun saya dan beramai-ramai memasukkan saya ke kolam itu. Jangan sampai.

kolam asrama matauli

Kolam di Depan Asrama Matauli Sibolga (dok. sman1matauli.blogspot.com)

Hingga kemudian sore itu, semua teman sekelas saya sedang di luar asrama. Sore itu tidak hujan tapi juga tidak sedang panas. Cuacanya baik dan teduh karenanya semua bersih-bersih di luar sambil santai, sebagian lainnya sedang akan bermain sepakbola. Saya tanpa curiga apapun, turun bersama teman-teman sekelas. Sesampainya di bawah, saya mulai mencium ada yang tidak beres. Ah tidak mungkin perempuan dimasukkan ke kolam meskipun sedang ulang tahun. Saya menepis semua pikiran itu.

Lalu ketika akan kembali ke kamar, saya yang waktu itu menggunakan bawahan kaos olahraga putih dan bawahan rok selutut dikejar oleh beberapa anak laki-laki yang adalah teman sekelas saya. Ketika duduk di kelas 2 SMA, saya memang berteman cukup baik dengan semua teman sekelas. Saya tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka kala itu. Saya memang tergolong tomboy jadi berhubungan baik dengan teman laki-laki. Mereka memegang saya dan mengangkat kedua tangan saya. Mengajak saya ke arah kolam.

Mati. Di dalam pikiran saya hanya ada satu. Kali ini saya tidak bisa kabur lagi. Saya sangat-sangat menyesal turun dan keluar kamar. Saya tertipu. Mereka sepertinya memang merencanakan sesuatu kepada saya, sepertinya mereka juga sudah tahu kalau saya sedang ulang tahun hari itu.

Saya pasrah. Bukan hanya kedua tangan yang dipegang, kali ini kaki saya pun ikut diangkat. Untung saya pakai celana pendek di dalam rok. Tak terbayang apa yang terjadi kalau saya waktu itu tidak pakai celana pendek lagi. Pasti akan sangat memalukan sekali. Bisa gawat kan. Saya berteriak kencang, sangat kencang kepada mereka. Memohon agar tidak dimasukkan ke kolam. Karena saya sudah ketakutan. Sangat takut setengah mati. “Tolong, jangan, jangan, plisss“, saya menjerit sekuat tenaga. Hasilnya nihil.

Saya pun membayangkan biawak yang kemarin mengejar-ngejar teman saya itu sedang berenang di dalam kolam dan menanti ‘teman’ untuk bersenang-senang. Saya membayangkan lintah-lintah sedang menari kegirangan karena akan mendapatkan ‘santap sore’. Matilah saya. Kali ini saya benar-benar tidak akan selamat.

Sangkin takutnya, saya tidak sadar lagi mereka yang mengangkat saya itu laki-laki, saya juga tidak sadar kalau saya adalah perempuan yang menggunakan rok abu-abu selutut. Saya bergerak, meronta-ronta entah bagaimana bentuk saya waktu itu. Dalam hitungan ketiga, mereka menghempaskan saya ke dalam kolam itu. Saya masih ingat bunyi percikan air yang keluar dari kolam karena hempasan tubuh saya. Saya masuk ke dalam dasar kolam. Kaki saya menginjak dasar yang sepertinya lumpur bercampur lumut. Geli sekali. Saya lekas berenang dan naik ke atas berusaha mencapai permukaan dan meraih pinggir kolam. Banyak ketakutan menghantui saya, mulai dari biawak, lintah, ular dan hantu. Kebanyakan dengar cerita horor di asrama, membuat saya membayangkan ada tangan yang menarik saya dari dasar kolam atau ada sosok yang menyeramkan ikut berenang di samping saya. Yang ada di pikiran saya cuma satu, keluar dan selamatkan diri.

Ilustrasi : Rodame

Ilustrasi : Rodame

Saya bernafas lega, akhirnya sampai juga ke pinggir dan keluar dari kolam yang menakutkan itu. Saya selamat. Tapi belum selesai. Saya melihat wajah mereka yang kegirangan karena telah sukses memasukkan saya ke dalam kolam. Mereka menertawai wujud saya yang sudah entah bagaimana. Ditambah lagi rok yang terangkat karena basah kuyup. Memalukan sekali. Mereka terus saja menyanyikan lagu ulang tahun untuk saya. Saya sudah tak lagi mendengar dengan jelas, lumpur memenuhi tubuh saya. Bahkan kaos putih yang basah membuat penampilan saya menjadi tidak enak dipandang. Syukur ada teman perempuan sekelas yang segera memberikan handuk untuk menutupi tubuh saya yang basah kuyup itu.

Saya tidak bisa menangis tapi juga tak bisa tersenyum. Saya tak tahu harus berekspresi bagaimana. Saya tidak mengerti cara mereka merayakan ulang tahun saya itu, untuk kesenangan semata, untuk menakuti, untuk rasa sayang atau apa. Tapi yang pasti seumur-umur, itulah perayaan ulang tahun yang paling berkesan buat saya. Saya tak pernah membayangkan merayakan ulang tahun dalam ‘ketakutan’ dan rasa malu. Kolam itu adalah ketakutan terbesar saya. Penampilan yang paling memalukan di hari ulang tahun. Ulang tahun waktu SMA itu benar-benar tak terlupakan. Tidak ada acara makan-makan, tidak ada cake atau sejenisnya, tidak ada tiup lilin dan tidak ada acara traktiran, ini saya syukuri karena saya juga tak akan sanggup mentraktir mereka. Benar-benar ulang tahun yang unik, mengenangnya saja bikin saya bergidik.

Jadi apa saya bertemu dengan biawak, ular, lintah atau hantu?? Hahahaha, sekarang saya ingin tertawa sekeras-kerasnya karena rasa takut yang luar biasa waktu itu. Mungkin kalau waktu itu diabadikan melalui video, saya bisa mengenangnya sambil terus tertawa melihat ekspresi saya ketika dimasukkan dan keluar dari kolam. Terimakasih teman-teman atas perayaan ulang tahun yang menakutkan sekaligus memalukan itu. Thanks for that day, now I have the unforgetable birthday story in my life.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog ulang tahun ke lima Warung Blogger

lomba blog warung blogger ultah 5