Saya lapar, saya butuh makan dan minum, saya harus mencukupi kebutuhan saya sendiri. Saya butuh uang untuk membiayai kuliah dan keperluan lainnya seperti uang kos, uang foto copy dan masih banyak keperluan lainnya. Harus bagaimana untuk memenuhi semua itu? minta pada orangtua yang notabene adalah PNS dan saya yakin mereka akan sangat siap menolong putri semata wayangnya ini. No! minta pada oranglain dengan muka yang perlu dikasihani? No! Terus saya harus bertahan dalam ketiadaan? mengadu pada manusia? No!

Well ya, kita semua pilihan. Hidup juga pilihan. Mau hidup yang gak ngusahin orang lain atau justru mau hidup yang bikin orang lain gerah. Itu semua pilihan dan itu semua tergantung diri sendiri bukan orang lain. Saya pernah berada di titik ‘0’ iya NOL. Tidak ada tersisa serupiahpun di dompet, apalagi di dalam tabungan. Saya tiba di titik terendah dalam hidup itu. Saya sampai-sampai tidak bisa menangis. Saya justru tersenyum. Ah Allah sedang becanda sama saya nih (ini bahasa saya ya tolong jangan dideskripsikan dengan hal yang lain).

Sepulangnya dari Jepang, saya punya uang. Iya uang saku selama magang saya simpan baik-baik, niatnya pulang mau buka usaha jadi wirausahawan. Tebak apa yang terjadi? Saya gagal memanfaatkan uang itu untuk wirausaha. Lah, terus gimana? saya akhirnya memutuskan sesuatu yang tidak terpikirkan sebelumnya. Kuliah S2. Yes, bener banget meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Strata 2. Dalam hidup, ada hal yang akan selalu tertanam baik dan insyaallah bermanfaat bagi kita maupun sesama kelak yaitu ilmu.

Gagal menjadi wirausahawan. Semua uang digunakan untuk biaya kuliah juga biaya kos dan biaya makan. Pokoknya uang yang ada itu kalau dihitung-hitung sudah pasti kurang. Tapi modal nekad. Hei, kapan lagi bisa sekolah pascasarjana dengan biaya sendiri, umur gak ada yang tau, masa hidup mau diisi dengan hal-hal yang gak bermanfaat. Sia-sia. Saya berdebat dengan pikiran-pikiran saya sendiri. Terkadang saya menyalahkan diri sendiri, apalagi kalau melihat tabungan yang terus terkuras habis. Sepertinya saya salah mengambil keputusan. Harusnya saya jadi wirausahawan saja. Saya bisa invest uang itu lalu diputar ke modal usaha sembako, tiap bulan saya dijamin dapat 2 juta. Saya ingat-ingat lagi tawaran bisnis itu. Kenapa tak memilih itu dulu.

JIWA WIRAUSAHA-RODAMEA

Menyesal. Sayangnya, semua keputusan tak bisa diubah dan waktu tak bisa diulang kembali. Tahun 2012, titik ‘0’ itu pun terjadi. Pemilik kos saya, Papi dan anak-anaknya berniat bikin usaha kecil-kecilan. Saya kasi masukan dan jadi tenaga pemasarnya. Praktis. Tanpa modal. Cuma modal bawa dagangan ke kampus, masuk ke kelas-kelas dan jualan. Iya, saya mulai jualan ‘roger’.

“Roger pak, bu, mbak, mas, ayo dicobain, enak loh. Saya bikin sendiri ini, dijamin halal dan bikin kenyang”, saya mulai memasarkan dagangan saya dari pagi sampai sore. Pokoknya sampai habis semua dagangannya.

Laku gak? awalnya perlu perjuangan. Perlu mematikan urat malu. Anak kuliah S2 jualan ‘roger’. Hellow!! Apa gak ada usaha lainnya? saat itu cuma ini yang ada di depan mata saya, saya bisa koordinasi dengan Papi dan anaknya (pemilik kosan saya), saya juga gak butuh modal. Bahkan salah satu anaknya bersedia mengantar saya naik motor alias jadi ojek saya selama saya memasarkan ‘roger’ (roti goreng) ke kampus. Kelancaran usaha itu hanya terjadi beberapa bulan saja, karena kesehatan Papi menurun (jantungnya kambuh, modal menurun), anaknya yang biasa antar saya ke kampus pun terkena gangguan jiwa. Saya nyaris kecelakaan karena dia pernah mengendarai motor berkecepatan tinggi dan tidak memperhatikan lubang di jalan, motor dan saya ikut melompat di udara. Saya hanya bisa berdoa sepanjang jalan. Selamatkan kami ya Allah. Tapi setidaknya selama beberapa bulan itu, saya tercukupi masalah ongkos dan makan. Suatu pencapaian yang patut saya syukuri. Namun berbagai kejadian tersebut, akhirnya memaksa saya harus putar otak lagi.

Saya coba cari peluang usaha lainnya. Bagaimana dengan kampus? kampus kan dipenuhi oleh banyak mahasiswa pascasarjana baik yang sekolah S2 maupun S3. Saya awalnya membantu mengedit tulisan teman kuliah lama kelamaan saya dikenal mahasiswa pascasarjana di kelas lainnya juga mahasiswa doktor. Saya pun menemukan usaha baru, menerima jasa pengeditan tulisan juga membantu proses riset seperti pengolahan data dan statistik. Hasilnya? luar biasa, saya sampai harus bagi-bagi pekerjaan dengan teman lainnya karena banyaknya yang minta jasa saya. Alhamdulillah.

Jiwa wirausaha saya tak berhenti sampai disitu. Sifat yang tidak ingin bergantung pada orang lain selalu membawa saya berpikir dan terus berpikir. Bagaimana saya hidup tidak menyusahkan orang lain, terus belajar, menemukan solusi atas masalah hidup yang kalau kata Prof. Rhenald Kasali “be a good driver not a bad passenger”.  Kita adalah pengemudi hidup kita, jangan mau jadi penumpang yang akhirnya hidup bergantung dengan orang lain. Mental good driver itu yang harus dibangun. Sama halnya dengan jiwa wirausaha tadi. Memutuskan menjadi seorang wirausahawan itu juga membutuhkan mental good driver.

JIWA WIRAUSAHA-RODAME

Pada akhirnya, saya bersyukur pernah melalui semua itu. Dari yang ada menjadi tidak ada hingga benar-benar berada di titik NOL. Bangkit lagi dan terus mencari solusi dalam setiap masalah hidup. Jiwa wirausaha itu pada dasarnya ada setiap orang. Saya yakin itu. Masalahnya mindset yang perlu segera diubah, agar tak lagi hidup mengandalkan orang lain. Toh akhirnya bisa. Itu juga yang dibuktikan oleh Siswa Wirausaha dari SMK Ginus ITACO Bekasi. Kemandirian dapat dicapai berkat jiwa wirausaha dan mental good driver. Ditambah lagi, dukungan para tenaga pengajar yang siap dan sepenuh hati dalam mewujudkan kemandirian tersebut. Salah satu tenaga pengajarnya adalah sahabat blogger saya Suzie Icus.

Sebagai seorang ibu dan tenaga pengajar, saya sangat berharap ke depannya anak-anak bahkan dari usia dini seperti di PAUD-PAUD yang ada di Indonesia, sudah ditanamkan jiwa wirausaha dan dibangun mental good driver-nya. Agar bangsa kita kelak jadi bangsa yang mandiri. Memulai pendidikan kewirausahaan sejak dini sangat mungkin dilakukan mengingat mereka sedang berada di usia keemasannya, usia terbaik sepanjang hidup. Yuk ciptakan generasi bangsa yang tangguh bukan penuh keluh.

“Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Semua Tentang Wirausaha yang diselenggarakan oleh Suzie Icus dan Siswa Wirausaha

Pengen ikutan Giveaway kece ini juga, yuk langsung klik banner di bawah ini dan bagikan ceritamu tentang wirausaha.

jiwa wirausaha-rodame