Mendadak terbangun dan kaget pas pegang dahi dan badan anak ternyata panas. Ini waktunya ibu-ibu beraksi. Saya termasuk yang awalnya tidak mempersiapkan obat penurun panas di rumah. Tapi semenjak anak lepas total dari ASI alias penyapihan di usia 2 tahun 3 bulan, hal yang tak boleh saya anggap remeh adalah menyiapkan berbagai obat untuk anak termasuk diantaranya obat demam untuk anak.

Banyak sekali merek obat demam untuk anak yang beredar di apotik maupun warung dekat rumah tapi memilih obat demam untuk anak ternyata tidak mudah ya. Saya setelah memberikan beberapa obat demam untuk anak akhirnya memilih satu obat demam untuk anak atas nasehat seorang dokter dimana anak saya pernah dirawat. Kasus demam pada anak itu tidak terduga. Namun biasanya pasti ada penyebab demam pada anak, hanya saja kadang kita tidak begitu memperhatikannya sehingga ketika anak demam kita merasa tidak ada yang salah. Padahal sudah pasti ada sesuatu yang terjadi padanya. Mungkin makanan yang masuk ke perutnya, lingkungan yang kurang bersih, kurang asupan makanan bergizi, tumbuh gigi, efek habis imunisasi dan lain-lain.

Ibu saya selalu berpesan, coba buatlah riwayat kesehatan anak agar bisa membaca tren sakit anak. Misalnya setiap berapa bulan sekali dia pilek, batuk, demam atau diare. Lalu catat juga apa-apa yang dilakukannya dan diberikan padanaya sebelum dia jatuh sakit. Berapa hari biasanya anak demam, batuk atau pilek dan lain sebagainya. Jurnal ini penting untuk bisa mengetahui riwayat kesehatan anak. Anak saya misalnya, sudah 2 kali mengalami kejang demam. Ini penting untuk dicatat kapan terjadinya dan hal-hal yang terjadi sebelum kejadian itu. Agar kita sebagai orangtua mengenali kondisi fisik anak kita. Ini sebagai self reminder juga buat saya, karena pesan ibu belum juga saya laksanakan, hadeeuuh!

Pengalaman saya ketika anak demam, jika suhu tubuh lewat dari 38 derajat celcius, saya harus waspada obat demam untuk anak. Saya tak boleh main-main karena ada riwayat kejang demam pada anak saya. Berbeda halnya dengan anak yang tidak memiliki riwayat kejang demam, karena seperti anak-anak tetangga saya meski demam hingga 40 derajat celcius tidak pernah mengalami yang namanya kejang demam. Rata-rata turun kembali setelah diberi obat demam untuk anak. Oh iya, rata-rata anak-anak tetangga saya seumuran dengan anak saya sekitar 2 tahunan lebih. Jadi memang tiap anak itu berbeda reaksinya terhadap sebuah penyakit.

Tadinya saya selalu sediakan obat demam untuk anak bermerek Tem*** tetapi kemudian setelah mendapat penjelasan dari dokter anak yang pernah menangani anak saya maka kini saya beralih ke Pro***. Dua-duanya mudah didapatkan bahkan di mini market dekat rumah. Kenapa beralih? karena di dalam Pro*** ada 1 % obat anti kejangnya. Ini perlu untuk kasus anak saya. Sementara untuk yang berbeda kasus dengan anak saya sepertinya cukup menyediakan obat demam untuk anak yang biasa saja seperti Tem*** atau San*** anak.

Sekarang ini ada berbagai rasa yang diberikan di dalam obat demam anak yang bersifat sirup itu. Namun demikian, ada saja yang sulit diberikan obat demam ketika anak sakit. Ibulah yang harus pintar-pintar membujuk dan merayunya.

Lalu jangan lupa ya selalu perhatikan cara pemakaian dan takarannya. Bagaimanapun tidak baik memberikan obat berlebihan pada anak. Satu lagi, saya hanya memberikan obat demam setelah anak saya cukup usianya, jadi ketika di bawah 1 tahun saya tak pernah memberikan obat apapun. Namun setelah ada kemungkinan anak terkena kejang demam barulah saya memperhatikan pemberian obat demam untuk anak. Ingat cara menangani anak kejang demam itu berbeda dengan demam biasa ya.

Selain memberikan obat demam, jangan lupa untuk melakukan cara kompres anak demam  yang benar ya. Jadi ada saling mendukung satu sama lain. Kompres anak yang benar akan lumayan berpengaruh juga menurunkan panas anak. Demikian, semoga sharing kali ini bisa membantu kepanikan orangtua ketika anaknya demam. Semoga bermanfaat.