Dag dig dug….

Dag dig dug….

Jantung saya berdegup kencang, panik dan ketakutan menghantui saya ketika itu. Anak yang saya lahirkan, terlihat begitu kesakitan dan menderita. Waktu itu pagi hari, suasana masih lengang, jalanan cukup ramai tapi masih cukup lancar. Saya hampir tak bisa bernafas dan tak bisa berkata-kata lagi. Saya memangku erat anak saya dalam pelukan berharap bisa segera sampai di Rumah Sakit karena Puskesmas tak mampu menangani anak saya yang kejang akibat demam.

Pikiran saya mulai kacau, dipenuhi dengan banyak kata ‘kenapa’ dan ‘seandainya’. Ah.. ibu macam apa saya ini, membiarkan semua ini terjadi. Rasa bersalah, hanya itu yang tertanam di otak saya. Tapi ini sudah terjadi dan saya harus melewati masa-masa ini. Saya terus meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja.

Setibanya di Rumah Sakit, langsung menuju UGD, dokter jaga dengan sigap memeriksa kondisi anak saya dan segera menyuntikkan penurun panas yang dimasukkan lewat anus. Saya masih terus memandangi wajah mungil anak saya. Ketika itu terjadi usianya baru 1 tahun 10 bulan dan ini kali kedua dia mengalami kejang akibat demam masuk di Rumah Sakit yang sama. Saya merasa sungguh dia sedang kesakitan dan ingin segera pulih kembali. Namun apadaya tindakan itu yang harus diterimanya.

Kali ini saya harus menyerah pada suntikan infus dan perawatan inap di Rumah Sakit. Bagaimana saya bisa menolaknya, setelah melihat kondisi anak saya saat itu. Sebelumnya saya masih bisa menahan dan membawanya pulang, tapi kali ini mulut saya seperti terkunci dan pasrah pada penanganan medis di Rumah Sakit. Pasrah… begitulah perasaan saya ketika itu. Saya terus saja berdoa agar anak saya tidak mengalami hal buruk. Sambil memikirkan biaya inap yang akan saya tanggung karena ini salah satu Rumah Sakit Swasta, tentulah kelak biayanya tidak akan ringan.

Setelah menunggu beberapa saat, tenaga medis akhirnya meminta saya memindahkan anak saya ke ruang inap di lantai 3. Ketika itu, dia menyampaikan bahwa semua kamar sedang penuh dan yang tersedia hanya kelas VIP. Waw… seketika saya kaget luar biasa melihat daftar harga rawat inap di VIP tersebut. Tapi saya tidak punya pilihan lain, kesehatan dan keselamatan anak saya tentu lebih berharga daripada sejumlah biaya yang harus saya keluarkan. Bagi saya dan suami yang masih memulai usaha, tidak mudah memang namun inilah kewajiban kami sebagai orangtua dimana harus mengutamakan kesehatan buah hati kami.

Setelah dilakukan tes laboratorium, akhirnya keluarlah hasilnya dan anak saya dinyatakan mengalami infeksi. Pada hasil laboratorium juga ditunjukkan angka dimana jumlah bakteri pada perut anak saya sangat banyak dan itu yang membuatnya demam tinggi hingga mengalami kejang sementara yang lainnya masih normal. Perasaan saya cukup lega, meskipun saya masih terus memikirkan bagaimana agar bisa keluar dari Rumah Sakit Swasta ini dengan cepat karena kuatir biaya semakin bertambah.  Setelah bernegosiasi dengan pihak Rumah Sakit tersebut, saya akhirnya diizinkan menunggu hingga dokter yang memeriksa anak saya datang di hari kedua perawatan tanpa dikenakan biaya inap lagi.

Setelah menunggu hingga siang hari, dokter tak juga datang. Sementara anak saya sudah merintih, bosan, merengek karena tidak nyaman dengan infus yang ada di tangannya. Saya akhirnya meminta agar infus dilepas saja, karena anak saya tak bisa diam dan ujung-ujungnya darah bercecer kemana-mana. Melihat kondisi itu saya mana tega melihatnya. Di usianya itu tentu dia tidak senang jika hanya disuruh tiduran dan diam saja di tempat tidur, meskipun kelas VIP itu sangat sangat nyaman namun anak tidak mungkin dipaksa diam dan duduk manis.

Beberapa saat setelah itu, lagi-lagi saya bernegosiasi dengan pihak Rumah Sakit, agar diizinkan untuk pulang melihat kondisi anak saya yang mulai membaik dan lincah bergerak. Rumah adalah tempat terbaik, bagaimanapun anak akan lebih nyaman jika berada dan bermain di rumah bukan di Rumah Sakit. Berhubung dokter tak kunjung datang, akhirnya saya diminta untuk menandatangi surat pernyataan untuk  bersedia menanggung segala risiko setelah pulang dari Rumah Sakit tersebut karena meminta pulang atas kehendak sendiri. Memang berat tapi sepertinya pulang adalah pilihan terbaik saat itu. Belum lagi beban biaya inap dan obat-obatan yang harus ditanggung, saya harus yakin bahwa pilihan tersebut memang yang terbaik.

Ketika tiba di kasir pembayaran, saya melihat beberapa orang sedang mengantri di loket. Saya memegang kartu debit karena memang tidak membawa uang tunai ketika masuk ke UGD di hari sebelumnya. Namun perlahan namun pasti saya melihat beberapa orang yang sedang antri di depan saya justru tidak memegang kartu debit maupun uang tunai melainkan kartu asuransi. Seketika saya terpikir untuk mulai memikirkan penggunaan asuransi dalam kehidupan saya dan keluarga. Terutama dalam kondisi mendadak dan tiba-tiba seperti kemarin di UGD, anak saya harus dirawat inap dan tidak mungkin bisa menyiapkan uang dengan cepat jika dalam keadaan darurat seperti waktu kemarin.

Lamat-lamat saya perhatikan kartu asuransi yang mereka pegang. Mereka terlihat sangat yakin, tegar dan tidak terbebani dengan pembayaran di loket pembayaran. Tidak seperti saya yang terlihat agak gelisah dan kuatir kalau-kalau biayanya tidak sanggup saya bayar saat itu juga. Sesekali mereka sambil tersenyum menyapa orang yang ikut mengantri di loket pembayaran tersebut. Sementara saya justru tertunduk dan banyak berdoa agar mampu melewati masa-masa seperti ini.

Uang, bagian mana dari kehidupan kita tidak membutuhkan uang. Semua hal, semua aspek bahkan makan, minum, mandi, tidur, kesehatan, bisnis, semuanya butuh uang agar tetap dapat bertahan. Tapi uang bisa habis dalam waktu sekejap, karena nilainya yang mengalami penurunan akibat berbagai pengaruh mikro dan makroekonomi. Mungkin disinilah saya harus mulai berpikir untuk menyimpan uang dalam bentuk yang lebih bermanfaat di masa depan. Apakah hal ini yang sudah terpikir lebih dahulu oleh mereka yang saya temui di loket pembayaran Rumah Sakit kala itu? Kesadaran mereka akan segala hal yang tak dapat diduga dapat terjadi di dalam aspek kehidupan, itulah yang menjadikan mereka mengambil tindakan preventif melalui ‘asuransi’.

Sungguh saya masih terbayang betapa pahit kejadian di Rumah Sakit itu, betapa saya sangat iri, iri setengah mati melihat kemudahan pembayaran biaya Rumah Sakit yang mereka rasakan. Asuransi itu membuat mereka tegar, kuat bahkan mampu tersenyum meski dalam keadaan sulit sekalipun. Asuransi itu memayungi semua hal penting dalam segala aspek kehidupan termasuk kesehatan. Saya sangat yakin jika sehat apapun bisa kita lakukan, bekerja dengan baik, hidup senang bersama keluarga, travelling, belajar, menyaksikan anak tumbuh dengan baik. Sebaliknya jika sakit, jelas semua hal menjadi sulit dilakukan.

Kejadian di Rumah Sakit itu menjadi tamparan pada saya. Betapa saya belum sepenuhnya mempersiapkan diri untuk berbagai hal terutama untuk perlindungan saya dan keluarga. Kelemahan saya dalam mengelola keuangan keluarga memang tidak boleh dibiarkan, saya harus belajar. Saya semakin yakin, bahwa keberadaan perusahaan asuransi seperti Allianz ada untuk membantu saya dan keluarga lainnya di Indonesia untuk memulai dan berani mengambil sikap dalam melindungi keluarga. Orang-orang seperti saya yang belum memaknai asuransi layaknya sebuah kebutuhan, yang hanya bisa iri pada mereka yang menggunakan asuransi, tepat sekali jika kita belajar pada ‘Ahli’-nya asuransi.

Oleh karena itu, begitu ada undangan acara #AllianzFunEasy untuk mengenal asuransi tanggal 15 Oktober 2014 kemarin, saya tidak pikir panjang untuk mendaftarkan diri. Meski acara ini berbayar tapi saya rasa ilmu tentang asuransi ini memang perlu untuk bekal di kemudian hari. Dihadiri oleh Ibu Meta Devi dari Investment Communication Manager Allianz Indonesia, yang menjelaskan asuransi pada setiap aspek kehidupan. Betapa pentingnya asuransi itu dan betapa banyaknya orang-orang seperti saya ini yang belum mengenal dengan baik asuransi. Ibu Meta Devi juga menjelaskan bahwa penghasilan yang pas-pasan tidak boleh menjadi alasan kita lalai berasuransi. Karena asuransi adalah untuk semua orang tanpa memandang jabatan dan golongan. Sakit dan musibah kan tidak memilih-milih, bisa datang pada siapa saja. Kita hanya perlu bijak mengelola keuangan agar dapat memilik asuransi seperti yang lainnya.

Foto Dok. Rodame MN

Foto Dok. Rodame MN

Allianz juga ternyata memiliki banyak produk asuransi ‘from A to Z’ mulai dari asuransi umum (Asuransi Allianz MobilKu, Asuransi Kartu Proteksiku, Asuransi Dana Kesehatanku, Asuransi Perjalanan, Asuransi Rumahku Plus); asuransi kesehatan (Allianz eAZy Claim Asuransi Kesehatan, SmartMed Premier – Asuransi Kesehatan, Smart Health Maxi Violet – Asuransi Kesehatan, Smart Health – Asuransi Kesehatan Kumpulan, Asuransi Kesehatan Allisya Care); asuransi jiwa (SmartLink New Flexi Account Plus, SmartLink Flexi Account, Smartlink CI100, Hospital and Surgical Care, Allisya Hospital and Surgical Care, Smartlink Maxi Fund Plus TaproKu); asuransi kumpulan (Smart Pension Smart Protection, Smart Finance, Payung Keluarga); asuransi syariah (Allisya Protection, Allisya Maxi Fund Plus, Allisya Rumah, Allisya Mobil, Allisya Usaha); asuransi jiwa Bank (HSBC, SCB, Bank Permata, Bank Muamalat dan BTPN); dan asuransi mikro untuk UKM. Benar-benar ‘from A to Z‘ kan? ternyata asuransi pada setiap aspek kehidupan tidak bisa kita abaikan ya, semuanya bisa dilindungi oleh asuransi jika kita cerdas dan paham manfaatnya.

Foto Dok. Allianz Indonesia

Saya Ibu yang menggendong anak laki-laki berbaju merah (kanan-bawah) Foto Dok. Allianz Indonesia

Saya jadi teringat, dulu saya pernah ditelepon agen asuransi Allianz, waktu saya masih kuliah dan menabung di salah satu rekanan Bank dalam produk asuransi jiwa Bank. Saya akhirnya terdaftar sebagai pengguna asuransi syariah yaitu Allysa Protection. Sayangnya, kondisi saya yang belum mahir dalam mengelola keuangan pribadi, mengingat saya pun waktu itu masih harus membiayai kuliah S2 saya sendiri, asuransi tersebut akhirnya harus berhenti di tengah jalan. Ketika itu, saya juga belum paham akan manfaat asuransi, jadi saya merasa mudah saja melepaskannya. Setelah dipikir-pikir, ditambah dengan kejadian kemarin-kemarin dan karena sudah berkeluarga saya memang perlu mempertimbangkan kembali untuk mulai berasuransi.

Setidaknya asuransi menjadi bentuk kepedulian saya pada kesehatan anak dan perlindungan keluarga, jika kelak terjadi hal buruk yang tidak diingini.

Asuransi juga sebagai sebuah pembuktian untuk anak dan keluarga atas rasa cinta saya pada mereka.

 Tulisan ini diikutsertakan dalam Allianz Writing Competition 2014

 banner allianz