Saya selalu iri kalau lihat anak saya akrab sekali dengan ayahnya. Iya, ini jujur loh. Saya masih ingat betul, kala itu anak pertama saya ‘Mikal’ baru belajar mengeluarkan kata-kata. Mengejutkan, karena meskipun saya yang melahirkan, menyusui dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama ibunya yaitu saya tapi justru kata pertama dan sangat fasih diucapkannya adalah ‘ayah’.

Peran ayah dalam pengasuhan anak

Ayah dan Mikal Bermain Bersama (Dok.pri)

Begitu dengar kata ‘ayah’ yang pertama kali diucapkan Mikal, seketika saya shock merasa bersalah. Apa ada yang salah, koq Mikal justru lebih dekat dengan ayahnya dibanding saya. Rasanya mau nangis bombai waktu itu. Iri sekali. Gak tau harus bilang apa. Pertanyaan ‘kenapa’ pun timbul dan datang pada saya. Beneran deh, kalau ingat waktu itu, rasanya sulit sekali bisa menerima kenyataan bahwa kata pertama yang keluar dari mulut Mikal justru ‘ayah’ bukan ‘mama’ atau ‘bunda’ atau apalah sebutan untuk ibu.

Sampai akhirnya seorang blogger sepuh Om Nher bilang ke saya. Bahwa seharusnya saya bangga dan bahagia. Karena tidak banyak anak mengucapkan kata pertamanya ‘ayah’. Hal itu berarti sang Ayah punya kedekatan batin dengan anak. Justru bagus sekali. Sebagai ibu, saya pun perlahan bisa menerima. Bahwa bukan cemburu yang harusnya saya rasakan melainkan rasa bangga dan haru karena insyaallah anak akan memiliki hubungan yang kuat dengan ayahnya.

Setelah lama melihat perkembangan Mikal, ternyata memang benar, meskipun dia jauh dari ayahnya tapi dia selalu ingat ayahnya. Ketika ayahnya merindukannya, dia pun terlihat gelisah dan terkadang rewel. Mungkin karena dia juga merasakan kerinduan yang sama. Waktu yang paling dirindukan adalah saat bermain dengan Mikal. Mikal pun demikian, kalau sudah bersama ayahnya, maunya diangkat kesana, digendong di atas kepala dan permainan lainnya.

Sampai saat ini, saya kemudian bisa mengambil pelajaran bagaimana peran ayah dalam mengasuh anak terutama dalam perkembangan kepribadian dan psikologi anak, diantaranya :

  1. Ayah adalah teman bermain : bagi anak, ayahnya teman bermainnya terutama untuk permainan yang sifatnya kegiatan fisik. Anak akan terlatih ototnya juga dalam mengkoordinasikan berbagai hal. Anak juga terlatih dalam memahami aturan, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan. Ayah berperan dalam mengelola emosi anak.
  2. Ayah adalah economic provider : bagi anak, ayahnyalah tempatnya meminta. Kodratnya memang ayah yang mencari nafkah untuk istri dan anak. Maka hal tersebut sangat wajar terjadi. Ayah bertanggungjawab atas pengasuhan anak meskipun ayah juga bekerja mencari nafkah.
  3. Ayah adalah problem solver : bagi anak, apapun masalahnya, kerumitan dan kesulitan yang dialaminya saat bermain dan melakukan hal-hal lainnya, ayahnya yang akan membantunya menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Ayah bisa mengajarkan bagaimana cara mengambil keputusan dan apa konsekuensinya jika tidak menurut.
  4. Ayah adalah leader : bagi anak, ayahlah pemimpinnya. Ayah yang menunjukkan arah dan jalan saat anak tidak mengetahui atau kebingungan. Karenanya ayah bisa mengajarkan bagaimana cara berperilaku yang baik dan mengajarkan cara memperbaikinya jika memang ternyata salah.
  5. Ayah adalah masa depan : bagi anak, ayah adalah penolongnya. Penolong dalam menghadapi dunia luar juga sebagai pelindungnya saat dibutuhkan.

Penelitian terkait peran ayah dalam pengasuhan anak juga sudah banyak dilakukan di luar negeri. Beberapa hasil dari penelitian tersebut diantaranya :

Lemahnya atau ketiadaan ayah dalam kehidupan sehari-hari anak berhubungan erat dengan perilaku tidak adaptif atau perilaku nakal (delinquency) pada anak (Nesbitt, 2012).

Anak yang mengalami relasi yang intensif dengan ayahnya semenjak lahir akan tumbuh menjadi anak yang memiliki emosi yang aman (emotionally secure), percaya diri dalam mengeksplorasi dunia sekitar, dan ketika tumbuh dewasa mereka akan dapat mampu membangun relasi sosial yang baik (Oliker, 2011).

Ayah yang terlibat aktif dalam pengasuhan anak di masa kecilnya akan mendorong anak lebih berprestasi secara akademis di masa dewasanya (Rosenberg, Jeffrey & Wilcox, 2006).

Keterlibatan ayah dalam pengasuhan selain penting untuk perkembangan anak ternyata juga akan berperan positif terhadap pasangannya (Waterston & Brenda, 2006).

Saya yakin masih banyak lagi penelitian yang menunjukkan bahwa peran ayah dalam pengasuhan anak juga penting. Dalam kenyataannya saya sendiri sebagai ibu mulai melihat pengaruh dari kehadiran ayah terhadap perilaku anak saya ‘Mikal’. Ternyata, banyak juga sisi positifnya ya. Karena itu, tak perlu cemburu lagi kalau anak juga memiliki kedekatan batin atau hubungan yang kuat dengan ayahnya. Justru harus didukung, ya kan?