Saya kaget sekaligus penasaran, berita yang saya baca barusan di sebuah media online (voaindonesia) benar-benar membuat saya kaget ‘Cryopreservation’.

Cryopreservation pada Tikus (Dok. cosmobio.co.jp)

Cryopreservation pada Tikus (Dok. cosmobio.co.jp)

Ada yang menyebutkan cryopreservation pada manusia terutama pada pegawai perempuan ini ada hubungannya dengan persaingan SDM (Sumber Daya Manusia). Perempuan yang sekarang ini tidak kalah cerdasnya dibanding kaum pria ternyata menarik perhatian kedua perusahaan itu, sampai-sampai memikirkan sebuah cara agar pegawai perempuan tetap bisa maksimal dalam bekerja di perusahaan. Selain memberi izin cuti hingga 4 bulan bagi pegawai perempuan setelah melahirkan, kebaikan lainnya yang diberikan oleh kedua perusahaan tersebut adalah fasilitas untuk melakukan cryopreservation.

Cryopreservation atau yang dikenal dengan istilah pembekuan sel termasuk sel telur pada suhu di bawah -139 derajat celcius. Emm, jujur saya sendiri baru saja mendengar istilah tersebut. Mungkin ke depannya kita akan semakin akrab dengan istilah tersebut terutama kaum perempuan di Indonesia. Saya sih tidak tahu persis niat di balik temuan teknologi ini yang kini merebak ke bidang kesehatan. Yang saya tahu sel telur secara alami sudah ada pada kaum perempuan jelas untuk proses pembuahan dengan sel sperma. Atau dengan kata lain, sel telur adalah syarat mutlak terciptanya sebuah janin, generasi berikutnya dalam peradaban dunia.

Jika dilihat dari sisi positifnya, cryopreservation mungkin dapat membantu kaum perempuan yang sedang dalam kondisi kesehatan yang buruk terkait dengan terciptanya keturunan. Atau mungkin bisa jadi dimanfaatkan untuk menyimpan sel telur dalam jangka waktu tertentu karena sesuatu hal yang kita tidak ketahui. Atau kalau pernah mendengar istilah ‘no preservation‘ dalam kemasan minuman atau makanan yang artinya tanpa pengawetan. Saya pernah mendengar istilah tersebut pada sebuah iklan susu anak-anak. Artinya preservation pada sesuatu yang akan dikonsumsi memang kurang baik untuk tubuh.

Lalu, pertanyaannya adalah bagaimana dengan sel telur seorang perempuan yang dibekukan untuk kemudian dipakai kembali untuk proses pembuahan dengan sel sperma seorang laki-laki, apakah akan masih sama kualitasnya, apakah masih akan sama seperti dulu ketika tidak dibekukan/diawetkan??

Jika dilihat dari sisi kemanusiaan, sebagai perempuan saya cukup terkejut dengan temuan teknologi cryopreservation ini. Ada sekelumit ketakutan dan keresahan mendengar isu SDM dimana perempuan tentu dituntut memiliki kemampuan dan jam kerja seperti kaum pria umumnya. Ada hal-hal yang menurut saya tidak bisa disamakan dengan kaum pria. Karena normalnya perempuan memiliki sel telur dan itu ada di dalam tubuhnya bukan di tempat lain atau dibekukan karena alasan yang tidak urgent sama sekali.

Meskipun demikian, menghadapi cryopreservation ke depannya, saya mengajak kaum perempuan untuk bijak dalam mengambil keputusan. Apapun alasannya, selain alasan medis yang urgent, saya rasa hal tersebut perlu dipertimbangkan berulang-ulang sebelum melakukannya. Biaya cryopreservation memang tidak murah sekitar US$ 10.000 atau senilai Rp 120.000.000 (jika kurs saat ini 12.000) sementara biaya simpan sel telur beku dalam setahun US$ 500 atau senilai Rp 6.000.000 (jika kurs saat ini 12.000). Ini jelas tidak mungkin bagi golongan menengah ke bawah. Namun kedua perusahaan tersebut baik Apple maupun Facebook, bersedia menanggung biaya tersebut jika pegawai perempuan mau melakukannya untuk menunjang kinerjanya dalam bekerja di perusahaan.

Kemajuan teknologi bak pisau bermata dua, jika tidak dimanfaatkan dengan baik bisa jadi membahayakan diri sendiri atau masyarakat lainnya atau peradaban manusia yang akan datang. Sebaliknya jika bijak memanfaatkan tentu akan berdampak positif bagi kehidupan manusia dan bumi.

Sudahkah anda siap menghadapi era cryopreservation?