Cover Buku Bahagia Ketika Ikhlas (Dokpri)

Cover Buku Bahagia Ketika Ikhlas (Dokpri)

Judul Buku : Bahagia Ketika Ikhlas

Penulis : Rena Puspa

Penerbit : PT Elex Media Komputindo

Cetakan : I, 2014

ISBN : 978-602-02-4557-7

Eh sudah nikah? terus udah punya anak? suami kerja dimana? lah terus kamu kerja dimana sekarang? swasta atau PNS?

Pertanyaan seperti itu bertubi-tubi menghampiri saya ketika sudah menikah dan memiliki anak. Apalagi ketika saya jawab saya ibu rumah tangga yang bekerja dari rumah alias working at home mom (kenal istilah ini setelah membaca buku Bahagia Ketika Ikhlas). Sebagian besar bingung dengan jawaban saya itu, lalu terus menanyakan kenapa, kenapa dan kenapa. Kenapa saya harus memilih pekerjaan yang seperti itu?

Buku Bahagia Ketika Ikhlas karya Rena Puspa ini hadir bertepatan dengan banyaknya kegalauan kaum perempuan terutama yang sudah menikah dan memiliki anak dalam menempatkan posisi mereka dalam menjalankan hidup. Sekarang memang cukup banyak buku yang membahas tentang peranan perempuan dalam rumah tangga namun hanya sedikit yang memberi solusi bagaimana agar peranan tersebut menjadi sebuah kebahagiaan yang hakiki di dalam hidup bukan sekedar menjalankan tugas dan kewajiban semata.

Buku ini tampil ‘girlish‘ dengan balutan warna pink lembut yang mencirikan buku perempuan ‘cewek banget’-lah. Jadi wajar kalau baru pertama lihat saya langsung jatuh cinta dengan soft pink di cover plus gambar seorang perempuan yang sedang menemani anak kecil di dalam stroller. Meskipun saya tidak tahu itu ibunya atau pengasuhnya, hehe. Karena kalau dilihat sekilas tanpa membaca sub judul di cover kita belum bisa memastikan siapa sosok perempuan di gambar tersebut. Barulah setelah membaca sub judulnya saya kemudian paham bahwa perempuan di dalam gambar tersebut tentulah menggambarkan seorang ibu yang sedang menjalankan tugasnya. Senyuman perempuan dan anak di gambar tersebut menunjukkan betapa keduanya sangat senang dan bahagia.

Ketika membuka lembaran demi lembaran buku ini dari bagian awal, kita akan disuguhi dengan tulisan berwarna hitam dan pink yang senada dengan warna cover buku secara keseluruhan. Kata ‘ikhlas’ dicetak lebih tebal dengan warna pink lebih besar dibandingkan dengan kata ‘bahagia’ itu sendiri. Saya mulai bertanya-tanya sepertinya buku ini akan memberikan saya sebuah pemikiran baru tentang konsep ‘ikhlas’ sebagai ibu dalam berumahtangga.

Buku ini terdiri dari 6 bab dimana pada bab 1-3 kita diberikan cukup banyak pemahaman tentang perempuan, profesi ibu hingga berbagai penyebab gangguan stres pada ibu baik secara hormonal maupun eksternal. Sedangkan pada bab 4-6 kita diajak untuk berpikir tentang bagaimana menjadi ibu yang apa adanya alias original mom bukan supermom, kemudian bagaimana meraih bahagia dan sukses sebagai ibu. Buku ini sekilas seperti sebuah riset penelitian ilmiah karena biasanya memang pada riset ilmiah, dimulai dengan kata pendahuluan lalu diikuti berbagai tinjauan atau review beberapa artikel atau buku yang terkait kemudian menuju pembahasan dan kesimpulan. Tidak berbeda jauh dengan cara penuturan sebuah riset ilmiah, begitulah cara penuturan buku Bahagia Ketika Ikhlas ini namun dibalut dengan sisi kewanitaan yang tetap membuat penasaran untuk dibaca. Sepertinya buku ini memang sudah matang dan siap untuk disuguhkan pada pembaca.

Desain halaman pada buku ini diberi pattern polkadot pink dan abu juga dibubuhi dengan grafis love dengan warna pink senada. Manis, itulah kesan yang saya tangkap ketika akan memulai membaca isi dari buku ini. Semakin menarik karena di tiap lembar ada sisipan quote yang berasal dari isi di tiap halaman buku yang memberikan kesan adanya sebuah penekanan yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca.

Bab demi bab saya baca dengan seksama. Saya cukup lancar membacanya, mungkin karena saya juga seorang ibu jadi saya bisa membaca dengan cepat tanpa harus berpikir panjang tentang kata per kata di dalamnya. Pada bab 1, penulis banyak bercerita tentang prosesi ibu dimana tidak ada kata ‘pensiun’ selama menjabat profesi tersebut. Ada berbagai tantangan dalam menjalankan profesi tersebut karenanya seorang ibu harus mau belajar untuk bisa menjaga amanah yang telah diberikan.

Jika tantangan datang tanpa dibarengi dengan benteng ilmu yang kokoh, maka stres akan mudah sekali hinggap (hal. 2)

Masih pada bab 1, penulis juga menjelaskan pentingnya konsep diri dalam aktualisasi diri seorang ibu. Karena selama ini banyak dari kita menganggap aktualisasi diri itu adalah yang di luar rumah padahal sebenarnya pemahaman konsep diri itulah yang penting sebagai dasar dalam kita mengaktualisasikan diri apakah kita akan memilih menjadi full time mom, working mom atau working at home mom. Semua bergantung bagaimana kita memandang diri kita sendiri.

Dengan konsep diri yang kuat, maka sebagai ibu apapun entah itu working mom, working at home mom atau full time mom masing-masing akan merasa aktual dengan dirinya dan ruang lingkup kehidupannya masing-masing (hal. 5)

Sementara pada bab 2, penulis menceritakan bagaimana besarnya pengaruh hormon terhadap tingkat stres seorang ibu. Pada dasarnya seorang perempuan mulai dari hamil, melahirkan hingga menyusui sudah mengalami yang namanya perubahan hormon. Hormon progesteron dan estrogen mampu membuat seorang calon ibu sensitif, emosi dan peka yang dominan. Penulis juga berbagi beberapa solusi untuk meredam hal-hal tersebut. Saya sendiri pernah merasakan hal tersebut dimana saya mudah tersinggung dan sensitifΒ  mulai dari masa kehamilan bahkan sampai proses menyusui. Sayangnya dulu saya tak pernah tahu buku yang bisa memberi saya informasi tentang hal-hal tersebut, namun kita patut bersyukur kini ada buku yang juga memberikan berbagai informasi dan solusi dalam melewati masa-masa tersebut agar kita sebagai calon ibu dan ibu mampu menjalankannya dengan kesiapan mental dan spiritual.

Diri kita adalah pemimpin tubuh kita, termasuk juga memimpin saat si hormon sedang bekerja jadi jangan sampai hormon yang justru berbalik memimpin kita dan menguasai diri kita, sehingga rasa gelisah akibat stres itu malah menguasai diri kita (hal.36)

Pada bab 3, saya dibawa dalam suasana ‘seolah-olah’ saya pernah mengalami beberapa hal di dalamnya semacam de javu. Saya pernah mengalami stres juga dalam mengasuh anak dan mengerjakan pekerjaan rumah yang sepertinya terus berulang dan tak pernah tuntas dikerjakan. Mulai dari kondisi rumah yang seperti kapal pecah, anak yang terkadang rewel, cucian yang menumpuk, memasak di pagi hari, mengelola keuangan dan lain sebagainya. Baru kali ini saya membaca buku yang di dalamnya juga diselipkan berbagai tips untuk para ibu dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan tersebut bahkan tips mencuci baju, menyetrika dan memasak pun ada. Saya membaca bab 3 ini sambil tersenyum-senyum membuat saya teringat akan kejadian-kejadian yang sama yang pernah membuat saya sedikit stres juga.

Saya suka sekali dengan judul bab 4 pada buku ini “Being me -menjadi ibu yang apa adanya”. Seperti sebuah pelipur lara, setelah kita disuguhi tentang penyebab stres di 2 bab sebelumnya, lalu penulis memberikan kita kata-kata yang menghibur hati dimana menjadi ibu yang apa adanya atau original mom itulah yang seharusnya setiap ibu lakukan. Penulis memberikan 5 cara agar kita bisa menjadi original mom, yaitu : jujur pada diri sendiri, komunikasi dengan suami dan anak-anak tentang pilihan kita, memiliki hobi dan berolahraga, lakukan ‘me time‘ dan terus belajar serta memperluas pergaulan. Saya rasa saya cukup setuju dengan 5 cara tersebut, meskipun pada bagian olahraga rasanya masih belum bisa dilaksanakan dengan baik.

Hampir sampai pada penghujung buku ini, yaitu bab 5. Penulis berusaha mengingatkan kembali kepada semua ibu tentang konsep ikhlas. Selama ini kita terjerumus dengan konsep ikhlas yang salah dimana ikhlas yang diartikan adalah yang menerima saja semua yang terjadi dalam hidup meski menyisakan kekecewaan mendalam. Padahal ikhlas harusnya ‘tanpa penumpukan sampah-sampah masalah di dalam hati’. Saya ambil istilah sampah masalah dari buku ini. Dimana-mana sampah itu bau, kotor dan bahkan bisa menjadi penyebab penyakit. Ini berbabahaya mungkin sama dengan konsep ikhlas dimana seharusnya ikhlas dijalankan dengan sepenuh hati agar tak ada penyakit hati di dalam diri seorang ibu. Dengan kemampuan mengelola hati menuju ikhlas kita pun menjadi mampu menghargai diri. Pada bab ini, lagi-lagi penulis berbagi tips dan trik sederhana ikhlas bagi seorang ibu termasuk pengalaman pribadi penulis dalam menyembuhkan baby blues syndrom dengan metode Quantum Ikhlas.

Penerimaan yang tulus akan kelemahan saya membuat saya lebih fokus pada kelebihan saya dan ini menular pada anak saya, sehingga secara perlahan kelebihan yang dia mulai miliki keluar maksimal (hal. 137)

Masuk ke penghujung cerita, bab akhir dari buku ini yaitu bab 6. Kita akan disuguhi konsep sukses dan bahagia versi penulis. Saya sepakat bahwa kita terkadang meraih kesuksesan tanpa sadar telah membuang kebahagiaan. Saya juga menilai bahwa sukses tak sama dengan bahagia karena itu saya lebih memilih bahagia baru sukses. Dalam bab ini, penulis mengajak kita menyelami perbedaan keduanya dan membawa sebuah pernyataan dari sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW yaitu Ali bin Abi Thalib dimana ‘kebahagiaan adalah sesuatu yang dapat mengantarkan kepada kesuksesan (surga)’ sebagai kunci dari kebahagiaan dalam hidup.

Pada bagian akhir buku ini, penulis juga secara sekilas me-review tulisan dari bab 1 hingga bab 5. Di dalamnya juga penulis menyampaikan bagaimana seorang ibu dapat meraih ikhlas baik itu memilih sebagai full time mom, working mom dan working at home mom. Lengkap dengan pemaparan singkat tentang kelebihan dan kekurangan pilihan-pilihan tersebut.

Yakinkan dalam diri bahwa jalan bahagia dapat kita wujudkan tanpa harus menjadi seorang supermom yang tanpa cela, justru sebaliknya cukup menjadi original mom lengkap dengan segala kekurangannya namun kita percaya dengan kekuatan super milik Allah, maka keluarga sukses yang bahagia dapat kita wujudkan (hal. 182)

Quote tersebut menutup buku Bahagia Ketika Ikhlas ini dengan manis. Pesan yang kuat dan sarat makna bagi siapapun terutama bagi para ibu, calon ibu juga kaum perempuan agar lebih banyak melihat peranan ibu sebagai sebuah rasa syukur, menjalaninya dengan sabar dan ikhlas serta menghiasinya dengan doa.

Secara keseluruhan buku Bahagia Ketika Ikhlas ini layak untuk dibaca terutama bagi calon ibu dan ibu yang merasa tidak bahagia dalam menjalani perannya. Karena buku ini sukses memberikan gambaran yang menarik dan rasa percaya diri terlepas dari apapun itu pilihan seorang ibu full time mom, working mom atau working at home mom. Kalau ibarat buah, buku ini seperti strawberry, rasanya menyegarkan dan juga memberi banyak manfaat.

Being Mom - Be an original mom not supermom (Dokpri)

Being Mom – Be an original mom not supermom (Dokpri)