review buku mari bicara fakta

Judul Buku : Mari Bicara Fakta

Penulis : Susanti dkk

Editor : Wisnu Presetya Utomo

Cetakan : I, Januari 2014

ISBN : 978-602-8384-77-3

Jumlah Halaman : xiv + 148 halaman

Penerbit : Insist Press

 Buku ini terlahir dari sebuah kompetisi blog yang diselenggarakan oleh Blog FKPR (Forum Kesehatan Peduli Rakyat). Tujuannya ingin melihat fakta dari wajah sistem kesehatan di Indonesia. Buku ini berisi 15 cerita yang berupa kisah nyata para pemenang lomba blog yang terkait dengan morat maritnya pelayanan kesehatan di Indonesia juga sedikit kisah bahagia tentang JAMKESMAS dan dokter yang setia melayani masyarakat lewat akun twitter-nya.

Tidak banyak yang berani mengungkap fakta bagaimana sebenarnya pelayanan kesehatan di Indonesia. Karenanya buku ini layak diapresiasi atas keberanian para penulis dalam menceritakan berbagai pengalaman yang pahit. Selama ini kita lihat, banyak Dokter, tenaga medis dan pihak yang terkait bidang kesehatan tidak terima dengan kritikan dan protes masyarakat terkait pelayanan kesehatan, namun adanya buku ini semakin menguatkan memang itulah yang terjadi sebenarnya dan dirasakan oleh masyarakat Indonesia saat ini.

Berbekal kisah nyata ini, para penulis dengan gambling berbagi keterpurukan dan kesedihan mereka dalam menghadapi pelayanan kesehatan yang tidak memuaskan di Indonesia. Mulai dari kisah sandiwara di rumah sakit, bagaimana rumah sakit swasta dan rumah sakit pemerintah berbeda dalam memberikan pelayanan. Kisah ini menginspirasi masyarakat untuk cerdas dalam berobat tidak hanya menerima begitu saja apapun yang disampaikan oleh Dokter atau pihak rumah sakit.

Kisah menarik lainnya terkait pelayanan Jaminan Persalinan. Kita tahu sendiri, pemerintah saat ini sedang gencar-gencarnya mengupayakan agar angka kematian ibu dan anak ketika melahirkan menurun atau bahkan tidak ada sama sekali. Namun nyatanya bidan menipu dengan berbagai alasan, sehingga uang JAMPERSAL dikatakan hangus, padahal berdasarkan peraturan yang berlaku, selama kondisi melahirkan normal ataupun induksi semua ditanggung oleh pemerintah. Kebohongan demi kebohongan terlontar manis dari mulut para tenaga medis. Di balik beratnya menahan rasa sakit, bisa-bisanya bidan mempermainkan urusan uang JAMPERSAL.

Dan masih banyak kisah-kisah lainnya yang sangat menarik di dalam buku ini, terkait pengkhianatan kaum dokter, permainan resep, pendidikan kesehatan usia dini, anak kekurangan gizi yang tak tersentuh tenaga medis dan pemerasan oleh pihak rumah sakit. Namun syukurnya masih ada berita baik mengenai pelayanan kesehatan di Indonesia seperti bagaimana JAMKESMAS menjangkau banyak masyarakat miskin di Aceh, kisah suster Rabiah, gerakan rumah ramah rubella dan dedikasi dokter-dokter twitter.

Buku ini bisa memberi pandangan kepada pemerintah, seluruh bidang kesehatan di Indonesia juga pembuat kebijakan terkait kesehatan rakyat agar lebih memperhatikan semua fakta di lapang. Buku ini bicara dengan lantang dan tajam, artinya masyarakat sudah mulai berani menyampaikan kepada public dan Negara bagaimana sebenarnya yang dirasakan terutama dalam menerima pelayanan kesehatan selama ini.

Saya berharap dengan adanya buku ini, seluruh rakyat Indonesia menjadi lebih cerdas dan bijak dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan. Tidak serta-merta percaya sepenuhnya pada dokter atau tenaga medis karena bertanya tentang obat dan hal teknis lainnya adalah mutlak hak dari pasien. Jangan takut untuk berbicara, karena bukan berarti dokter, tenaga medis dan pihak rumah sakit tidak luput dari kelalaian dan kesalahan.

Semoga wajah sistem kesehatan di Indonesia semakin membaik ke depannya dan rakyat semakin bisa menikmati pelayanan kesehatan yang ‘sebenarnya’ dipermudah, diperlancar, terjangkau untuk diakses, aman dan terpercaya.