sumber gambar : Asianwiki.com

sumber gambar : Asianwiki.com

Ah saya emang gak bisa move on dari drama-dramaan, apalagi film Korea. Entah kenapa kalau nonton film Korea itu selalu menangis dan menohok hati kalau tentang keluarga. Berasa sensitif banget gitu, padahal ya emang filmnya keren sih dan bisa banget bikin hati meringis. Apalagi kalau bahas soal ibu. Siapa yang kuat nontonnya.

Kali ini saya mau review film Korea yang judul bahasa Inggrisnya itu “Miss Granny”. Lucu kan judulnya aja aneh, miss biasanya dipake untuk yang masih muda tapi granny kan istilah untuk orang yang sudah tua, alias memasuki masa tua atau mungkin lansialah. Pemeran utamanya siapa ayo tebak? siapa lagi kalau bukan Na Moon-Hee. Nenek yang satu ini pernah main juga di film Korea berjudul bahasa Inggris “Harmony” (nonton yang ini juga bikin gak berhenti nangis, perannya jadi seorang ibu yang jadi narapidana hukuman mati, wajib nonton nih !).

Pemeran di Film Miss Granny (sumber : dramaok.blogspot.com)

Pemeran di Film Miss Granny (sumber : dramaok.blogspot.com)

Di awal mulai itu lucu deh, perempuan diibaratkan seperti bola. Misal kalau masih muda perempuan itu seperti bola pada permainan sepakbola, semua laki-laki memperebutkan, kalau sudah tua seperti bola golf, akan dilemparkan sejauh-jauhnya bahkan kalau bolanya sampai tak terlihat juga gak akan dicari lagi, alias gak ada yang perduli tentang keberadaan di bola itu. Ceritanya sebenarnya kompleks tapi masih seputar keluarga. Si nenek (Oh Mal-Soon) punya anak namanya Hyun-Chul pekerjaan anaknya itu dosen Gerontologi (Inggris: Gerontology) yang berasal dari (bahasa Yunani γέρων, geron yang berarti berusia lanjut dan -λογία, -logy berarti ilmu) tentang perubahan pikiran dan tubuh yang terjadi selama proses penuaan dan masalah serta tantangan yang terkait.

Si nenek tinggal bersama sang anak dan menantu serta 2 orang cucunya. Suami si nenek meninggal karena perang di Jerman, jadilah dia single mother mulai hamil tua sampai melahirkan sang anak ‘si dosen gerontologi’ itu. Susah payah sang ibu membesarkannya karena anaknya punya penyakit kesulitan menelan ASI jadilah sering sakit. Meski hidup miskin dan mengais-ais sisa sayuran di pasar sambil menjaga sang anak, si ibu tetap berjuang membesarkannya sampai si anak seberhasil itu.

Masalah muncul setelah usia si ibu semakin tua. Banyak perilaku dan kebiasaan bahkan bau badannya seorang nenek tua saja bisa jadi masalah di keluarga atau lingkungannya. Meski begitu, dia tak pernah menunjukkan kesedihan dan kemarahannya karena perlakuan yang kurang baik dari menantu ataupun cucunya. Ketika sang menantu masuk rumah sakit karena mengkonsumsi obat secara berlebihan, semua keluarga berkumpul di rumah sakit. Apa yang dilakukan si menantu itu seolah-olah karena stres dan tertekan hidup bersama ibu mertuanya.

Ini momen yang juga paling sedih, ketika sang menantu meminta ibu mertuanya keluar dari rumah anaknya itu. Si anak kala itu hanya bisa menuruti istrinya seolah-olah dia lupa bahwa perempuan yang diminta keluar oleh istrinya itu adalah ‘IBU KANDUNG’-nya sendiri yang melahirkan dan membesarkannya penuh perjuangan. Konflik pun terjadi, sang ibu memutuskan untuk memotret dirinya untuk persiapan altar kematiannya kelak. Disini tak seorangpun yang tahu bahwa dia mempersiapkannya untuk itu.

Bertemu dengan sebuah toko semacam tempat foto dan cetak foto gitu. Lagi-lagi kakek tua yang melayaninya. Ketika sedang dandan si kakek tua itu nyeletuk “aku akan membuatnya menjadi muda kembali”, katanya. Si nenek malah senyum, dan menanggapinya dengan santai seolah-olah berharap itu akan terjadi. Sesudah selesai pemotretan, dia ingat janjian dengan cucu laki-lakinya pemain band yang belum pernah lolos seleksi band. Si nenek berlari sekencang mungkin sampai supir bis bingung. Bis yang dikejarnya ini menuju lokasi janjiannya dengan sang cucu laki-laki (Ban Ji-Ha).

Di bis itu semua berubah. Kisah fiksinya dimulai dari sini. Si nenek berubah menjadi muda lagi. Dia syok dan gak percaya sampai mau beli obat penenang di toko obat. Tapi semua orang memang melihatnya anak gadis bukan nenek-nenek. Setelah menenangkan diri akhirnya dia menikmati masa mudanya itu, dia melakukan banyak hal yang tidak pernah dilakukannya semasa muda, meraih impian jadi penyanyi di grup band cucunya. Ditaksir oleh seorang produser musik TV. Sayangnya, hanya 1 orang yang tahu dan akhirnya percaya bahwa si nona muda itu adalah nenek tua yang berubah karena difoto oleh si kakek di toko yang pernah dikunjunginya. Yang satu orang ini adalah kakek yang naksir sama si nenek namanya Mr Park, satu tempat kerja di kafe lansia, yang selalu memanggil si nenek dengan sebutan ‘Agassi’.

Suatu waktu saat akan tampil di TV, cucu laki-lakinya itu tabrakan butuh darah, dan yang punya golongan darah yang sama dengannya hanya 1 orang yaitu neneknya sendiri. Si nenek yang wajahnya jadi muda itu pun memutuskan untuk ke rumah sakit dan memberikan darahnya. Padahal kalau darahnya diambil dia akan kembali tua lagi. Lalu percakapan di bawah ini pun dimulai. Percakapan terakhir di film Miss Granny yang bikin air mata netes tes tes antara sang anak dan si ibu :

Anak (Hyun-Chul diperankan oleh Sung Dung-Li) : Tolong pergilah. Jangan lagi memakan makanan yang telah dibuang oleh orang lain. Jangan memakan hidangan laut yang telah berbau amis. JANGAN DEMI ANAK, menjalani hidup bagaikan seorang budak. Jangan mencari seorang suami yang pendek usia. Jangan melahirkan anak yang tidak berbakti sepertiku. Jangan, kumohon.. (sang anak menangis sedih membayangkan perjuangan sang ibu, menyesali apa yang telah dilakukannya, seolah-olah mengabaikan sang ibu yang semakin tua) Cepatlah pergi Ibu..
Ibu (Oh Mal-Soon diperankan oleh Na Moon-Hee) : TIDAK. sekalipun ada kehidupan setelah kematian, aku tidak akan bergeming. aku akan hidup seperti ini.  Sekalipun itu pahit dan melelahkan, aku tidak akan mengubah apapun. Dan hidup seperti itu. Dengan begitu, barulah aku bisa menjadi ibumu.
Kau adalah anak yang baik. (sang ibu menghapus air mata sang anak dan memeluknya erat sambil berkata ‘anakku’).

Film Miss Granny ini menurut saya menarik, ada pelajaran yang bisa diambil dari kisah fiksi ini. Bagaimana seorang yang tua dipandang di mata umum terutama keluarganya sendiri. Bagaimana seorang ibu mertua di mata menantunya. Bagaimana seorang anak harusnya berbakti pada ibunya. Bagaimana cucu-cucu harusnya menyayangi neneknya. Bagaimana seharusnya lingkungan memperlakukan lansia. Semuanya bisa kita dapat dengan menonton film Korea Miss Granny ini. Cinta, cemburu, impian, harapan, penolakan, perjuangan dan air mata semua ada di dalamnya.

Rating film Korea Miss Granny ini saya beri bintang 4 dari 5. Ending-nya cukup sulit ditebak. Pasti kaget, saya aja sampe gak percaya lihat ending-nya. Pokoknya wajib nonton ya!