“Saya tidak butuh asuransi, nenek dan kakek saya dari dulu tidak pakai asuransi sehat-sehat saja”.

“Saya juga tidak butuh asuransi, keluarga saya buktinya berkecukupan dan baik-baik saja”.

“Untuk apa punya asuransi, saya menjalani hidup dengan pasrah pada kehendak Ilahi saja”.

“Jangan sekarang deh bikin asuransinya, besok-besok aja, kan masih banyak waktu”.

Mungkin kita pernah mengatakan satu dari pernyataan di atas ketika ditawari produk asuransi tertentu, atau ketika diajak berbincang-bincang tentang asuransi oleh teman dan kolega kita? Tentu keempat pernyataan tersebut bisa saja benar, tetapi yang harus kita ketahui adalah tidak ada seorangpun yang tahu jalan hidup kita. Kita hanya mampu menduga, merencanakan dan mempersiapkan diri akan segala hal buruk yang mungkin datang kepada kita.

Salah satu bukti yang menunjukkan jika kita telah melek finansial adalah persiapan. Ya, mempersiapkan diri dan keluarga sedari dini untuk kesejahteraan dan perlindungan. Persiapan tersebut adalah asuransi. Di Indonesia masih banyak yang bingung atau ragu dengan asuransi, bahkan belum sadar akan pentingnya asuransi di dalam hidup. Sebuah informasi menyebutkan bahwa pada tahun 2013, hanya sekitar 18 % dari total penduduk Indonesia yang memiliki perlindungan asuransi jiwa. Sementara itu risiko dan musibah yang tidak terduga bisa datang kapan saja, kepada siapa saja.

Bayangkan jika kita terlambat mengambil keputusan untuk memiliki perlindungan dalam bentuk asuransi. Penyesalan dan kekecewaan terus menghantui kita. Kenapa tidak dari dulu kita berasuransi, kenapa tidak mendengarkan saran dan masukan dari perusahaan asuransi, kenapa kita membenci agen atau sales asuransi dan terus saja pertanyaan ‘kenapa’ muncul di benak kita. Ketika itu datang, artinya sudah terlambat untuk menyesali semuanya.

Padahal asuransi sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan. Jika asuransi diibaratkan dengan ‘payung’ maka itu adalah bentuk persiapan kita sebelum datangnya hujan dan panas yang menyengat. Jika diibaratkan ‘mantel’ maka itu adalah bentuk perlindungan tubuh kita dari angin, hujan dan udara yang dingin. Jika diibaratkan dengan ‘tembok’ maka itu adalah bentuk pertahanan kita dari berbagai ancaman dari luar. Asuransi juga bukan sekedar bicara perlindungan tetapi juga investasi. Jika saat ini kita memiliki tabungan dan tidak diinvestasikan dengan baik yang terjadi adalah tabungan akan habis dimakan waktu, nilai uang sekarang dan uang di masa yang akan datang tentu berbeda. Jika saat ini kita memiliki aset (tanah, rumah, mobil dan lain-lain) jika tidak dikelola dengan baik maka akan habis untuk biaya-biaya perawatan dan perbaikan saja. Apalagi jika terjadi sesuatu hal yang menimpa diri kita maupun usaha kita, maka tabungan dan aset akan menjadi sasaran empuk yang siap dihabiskan untuk menyelesaikan masalah yang menimpa kita.

Masalah tersebut adalah risiko (kerugian finansial, usaha bangkrut, uang sekolah anak yang terus meningkat, biaya rumah sakit yang tidak murah, dipensiunkan dini dari perusahaan, dan lain-lain) dan musibah (sakit, kecelakaan, kematian, kehilangan harta benda, kebakaran, gempa bumi, gunung meletus), yang bisa datang kapan saja pada kita. Musibah tidak dapat menunggu dan tidak bisa dihindari, satu-satunya cara adalah mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Sementara itu risiko dapat dihindari selama kita ahli finansial, tetapi tidak semua orang paham finansial, ini yang jadi masalahnya. Semakin kita siap semakin kita mampu melewati segala risiko dan musibah yang mungkin datang. Jadi jelas, kita semua butuh asuransi bukan karena kita memiliki kemampuan secara finansial tetapi karena kita sadar bahwa asuransi adalah sebuah kebutuhan yang kini tak dapat dipisahkan dari hidup kita. Ketika kita sadar kita membutuhkan asuransi, itu artinya kita perlahan-lahan telah melek finansial. Ini adalah awal yang baik dan selanjutnya adalah realisasinya.

Untuk merealisasikannya kita memerlukan informasi tentang produk asuransi seperti apa yang sesuai dengan kebutuhan kita. Produk asuransi yang dapat memberikan kesejahteraan dan perlindungan keluarga. Saat ini ada berbagai macam produk asuransi, jika salah memilih bukan untung malah buntung. Karenanya sebaiknya kita melakukan proses seleksi yang baik agar mendapatkan manfaat sesungguhnya dari produk asuransi yang kita pilih tersebut.

Salah satu produk asuransi yang bisa menjadi pilihan untuk kesejahteraan dan perlindungan keluarga adalah produk dalam bentuk simpanan dan investasi yaitu Sun FortuneLink. Keunggulannya adalah premi yang terjangkau mulai dari Rp 300.000 per bulan. Artinya bagi yang merasa asuransi itu hanya untuk orang yang berpenghasilan besar, maka itu salah besar. Produk Sun FortuneLink dari PT Sun Life Financial Indonesia ini membuktikan bahwa siapapun tanpa memandang status dan golongan sangat mungkin untuk memiliki asuransi.

Selain itu bagi yang ingin memilih jenis produk asuransi syariah, Sun Life Financial Indonesia juga memiliki produk Brilliance Hasanah Protection Plus. Kelebihannya adalah dikelola sesuai syariah dengan prinsip saling tolong-menolong, perjanjiannya jelas karena investasi kita hanya akan digunakan pada hal-hal yang halal sesuai syariah dan tersedia fasilitas Layanan Medis Darurat Domestik dan Internasional dari SOS International yang diberikan secara gratis untuk Kontribusi Tunggal mulai dari Rp100.000.000.

Kenapa memilih produk asuransi dari PT Sun Life Financial Indonesia?

Alasannya sederhana, tentu saja karena reputasinya baik dan RBC-nya tinggi . Menurut informasi yang saya peroleh, per 30 Juni 2013 , tingkat Risk Based Capital (RBC) PT Sun Life Financial Indonesia adalah 379 persen (konvensional dan syariah). Nilai yang jauh melampaui ketentuan minimal yang ditetapkan oleh pemerintah yakni 120 persen, dengan aset Rp 5,31 triliun. Kemampuan perusahaan dalam manajemen risiko keuangan sangat penting. Selain itu untuk produk Sun Life Financial Syariah, pada tahun 2014 perusahaan mendapatkan penghargaan peringkat 1 The Best Risk Management Islamic Life Insurance dengan aset di bawah Rp 150 miliar  serta peringkat 3 The Profitable Insurance dengan aset di bawah Rp 150 miliar, keduanya dari Karim Consulting Indonesia. Bagi saya, bukti-bukti ini sudah cukup untuk menjadi alasan kuat mengapa mempercayakan kesejahteraan dan perlindungan keluarga kepada PT Sun Life Financial Indonesia.

Sebagai penutup, hari ini tepat tanggal 18 Oktober 2014 adalah Hari Asuransi Nasional. Saya ucapkan selamat Hari Asuransi Nasional. Semoga dengan adanya peringatan Hari Asuransi Nasional ini, masyarakat di Indonesia semakin sadar asuransi sehingga semakin melek finansial. Bahwa yang namanya hidup pasti akan selalu ada masalah, dan masalah hanya bisa dilalui jika memiliki persiapan yang baik. Semakin kita melek finansial maka semakin siap kita dalam menghadapi masalah yang ada. Semakin kita cerdas memilih asuransi maka semakin kita terhindar dari risiko keuangan yang tidak diingini. Karenanya saya mengajak seluruh masyarakat di Indonesia untuk SARAN (Sadar Asuransi). Bukan hanya untuk kesejahteraan diri sendiri tetapi juga untuk perlindungan keluarga dan orang-orang yang kita cintai.

Sumber Referensi:

  • Sun Life Financial Indonesia. [internet]: diakses 18 Oktober 2014. Tersedia pada http://www.sunlife.co.id/indonesia/About+us/Sun+Life+Financial+Indonesia?vgnLocale=in_ID
  • Produk dan Layanan, Sun FortuneLink. [internet]: diakses 18 Oktober 2014. Tersedia pada http://www.sunlife.co.id/indonesia/Product+and+service/Savings+and+investments/Sun+FortuneLink?vgnLocale=in_ID
  • Sun Life Financial Syariah.[internet]: diakses 18 Oktober 2014. Tersedia pada http://www.sunlife.co.id/indonesia/Product+and+service/Sun+Life+Shariah?vgnLocale=in_ID
  • Masyarakat Indonesia Belum Sadar Asuransi. [internet]: diakses 18 Oktober 2014. Tersedia pada http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/05/03/11072991/masyarakat.indonesia.belum.sadar.asuransi

 Tulisan ini diikutsertakan dalam Sun Anugerah Caraka Kompetisi Menulis Blog 2014