Tiada hari tanpa gorengan. Sepertinya pernyataan itu pantas disematkan kepada saya dan keluarga besar, karena setiap hari terutama di pagi hari, gorengan menjadi santapan pertama yang dicari. Mau goreng pisang, risol, bakwan atau kawan-kawannya akan segera habis dalam sekejab karena semua suka makan gorengan. Apalagi kalau dimakan selagi panas-panas dengan secangkir teh atau kopi. Pagi hari pun menjadi sempurna.

Gorengan Indonesia (sumber gambar: loveindonesia.com)

Gorengan Indonesia (sumber gambar: loveindonesia.com)

Tapi tahukah kita, darimana asal minyak untuk menggoreng berbagai gorengan yang menggoda itu? Di Indonesia, minyak goreng kebanyakan diperoleh dari minyak sawit (Palm Oil). Indonesia adalah negara penghasil minyak sawit terbesar kedua setelah Malaysia. Artinya, minyak sawit yang diolah menjadi minyak goreng itu berlimpah di Indonesia sehingga wajar kalau konsumsi makanan serba goreng menjadi kebiasaan orang Indonesia.

Minyak Sawit (sumber gambar : oilpalmindia.com)

Minyak Sawit (sumber gambar : oilpalmindia.com)

Sayangnya, kebiasaan konsumsi serba goreng itu kini berubah menjadi kebiasaan yang menakutkan. Setelah mengetahui bagaimana cara perolehan minyak goreng sawit itu, saya merasa ikut bersalah. Pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit ternyata juga dilakukan dengan cara membakar hutan sehingga membunuh orang utan dan gajah, merusak lingkungan, mencemari udara, menimbulkan asap yang berkepanjangan seperti yang saya dan keluarga rasakan di Padangsidimpuan, Sumatera Utara. Mengonsumsi makanan serba goreng kini menjadi perbuatan yang penuh dosa. Seolah-olah saya mendukung aksi oknum tak bertanggungjawab tersebut melakukan berbagai kejahatan secara terang-terangan.

Fakta menyebutkan, Indonesia adalah negara penyebab terjadinya deforestasi tertinggi. Indonesia juga disebut negara yang keji karena tega membunuh orang utan, gajah serta satwa maupun keanekaragaman hayati lainnya di hutan demi pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit di berbagai wilayah. Indonesia Palm Oil Advocacy menyebutkan bahwa tahun 2010, ada 10 juta hektare lahan di Kalimantan yang merupakan ‘rumah’ bagi orang utan kini berubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Sebanyak 70 % kematian gajah Sumatera karena diracun pemilik kebun kelapa sawit. Parahnya lagi, Indonesia bahkan dikecam sebagai negara yang merugikan banyak pihak, perusak hutan yang notabene paru-paru dunia dan penyebar asap hingga ke negara tetangga.

“Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga”, peribahasa itu kini cocok sekali dengan apa yang terjadi di Indonesia. Hanya karena ada oknum tak bertanggungjawab yang membakar hutan, Indonesia dan seluruh masyarakatnya kini dicap sebagai negara yang kejam. Produk turunan kelapa sawit Indonesia pun ikut ‘dimusuhi’ oleh negara lain.

Saya menolak untuk menerima begitu saja segala tuduhan tersebut. Selama ini saya dan keluarga sangat menikmati makanan serba goreng tanpa peduli dampak dari kebiasaan beli yang tidak baik. Saya tidak pernah memilih-milih minyak goreng yang akan saya pakai untuk menggoreng, selama halal dan layak dikonsumsi. Sebagai konsumen yang rutin membeli minyak goreng, tentu keamanan, kualitas dan harga menjadi prioritas saya. Namun, adanya berbagai isu dan pemberitaan tentang bagaimana perusahaan dan perkebunan kelapa sawit di Indonesia menghasilkan minyak sawit tersebut, membuat saya menambah prioritas lainnya demi mengubah kebiasaan beli minyak goreng yang tidak baik.

Apa saya harus mengganti minyak goreng yang berasal dari minyak sawit dengan minyak sayuran atau yang lainnya? Tentu tidak. Karena saya sudah jatuh cinta dengan minyak goreng sawit, saya juga suka aroma dan rasa hasil menggorengnya. Harganya pun cukup bersahabat di kantong. Bahkan minyak sawit disebutkan memiliki keunggulan dibanding minyak lainnya.

Infografis (ilustrasi : Rodame)

Infografis (ilustrasi : Rodame)

Untuk diketahui bersama, perkebunan kelapa sawit telah menciptakan lapangan pekerjaan, artinya banyak orang bergantung pada perusahaan dan perkebunan kelapa sawit. Bayangkan jika kita menolak menggunakan minyak sawit yang notabene melimpah di Indonesia dan memberi penghidupan pada begitu banyak orang, sama saja dengan membuat perusahaan merugi yang dampaknya bisa jadi pengurangan pekerja di perkebunan kelapa sawit, artinya lagi adalah pengangguran dan kemiskinan akan meningkat. Jadi, memboikot produk-produk yang mengandung turunan kelapa sawit bukan jalan keluar yang tepat. Konsumen yang bijak tidak perlu melakukan aksi boikot pada produk-produk turunan kelapa sawit. Beli yang baik itulah gaya hidup yang harus kita bangun sejak dini.

Apa maksudnya beli yang baik? Jadilah konsumen bijak dengan membeli produk-produk turunan dari kelapa sawit termasuk minyak goreng yang sudah berlogo RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) pada kemasannya. Kenapa diberi nama ‘Roundtable’? Karena filosofinya adalah memberikan hak yang sama pada setiap kelompok pemangku kepentingan (produsen kelapa sawit, pemroses atau pedagang kelapa sawit, produsen barang-barang, konsumen, pengecer, bank dan investor, LSM pelestari lingkungan atau konservasi alam dan LSM sosial), memfasilitasi kerjasama dan kepentingan berbagai pihak menuju tujuan yang sama dimana keputusan diambil berdasarkan konsensus. Inilah solusi yang realistis. Win-win solution, semua pihak sama-sama diuntungkan.

Infografis (ilustrasi : Rodame ; produk : rspo.org)

Infografis (ilustrasi : Rodame – gambar produk : rspo.org)

Kenapa harus berlogo RSPO?

Sederhana. Karena kita peduli. Kita peduli pada lingkungan. Kita peduli pada kesejahteraan hidup masyarakat pedesaan. Kita peduli pada kelestarian satwa langka (orang utan dan gajah Sumatera) dan keanekaragaman hayati. Kita peduli pada masa depan anak-cucu. Kita peduli pada nama baik bangsa dan negara. RSPO mendukung semua kepedulian kita itu. Selengkapnya lihat video berikut ini.

Karena penasaran, saya pun mengamati berbagai merek minyak goreng di minimarket dekat rumah. Tidak ada satupun yang memiliki logo tersebut. Saya kecewa. Niat untuk tidak terseret sebagai pembunuh semakin jauh. Saya juga mencari informasi di website rspo.org. Hasilnya, tidak ada minyak goreng yang berasal dari Indonesia yang sudah bersertifikasi RSPO. Lagi-lagi saya dibuat kecewa. Saya akhirnya menemukan secercah harapan. Baru-baru ini, ada minyak goreng yang sudah bersertifikat RSPO di Indonesia, yaitu minyak goreng bermerek Carrefour ECO Planet. Tapi saya harus menelan ludah lagi, karena tidak ada Carrefour di kota kecil seperti Padangsidimpuan ini. Minyak goreng berlogo RSPO masih menjadi barang langka. Ternyata tidak mudah menemukan minyak goreng yang ‘halal’ dari pembantaian satwa langka.

Minyak Goreng Bersertifikasi RSPO Pertama di Indonesia (sumber gambar : detik.com)

Minyak Goreng Bersertifikasi RSPO Pertama di Indonesia (sumber gambar : detik.com)

Saya mendukung ajakan untuk beli yang baik. Karena saya bukan pembunuh. Meskipun, saya kesulitan memperoleh minyak goreng yang baik, yang berlogo RSPO di kemasannya. Saya berharap, saya dan keluarga segera bisa menikmati makanan serba goreng dengan tenang tanpa rasa bersalah. Semoga dengan adanya campaign #BeliYangBaik (lihat video di bawah) makin banyak produsen minyak goreng yang sadar dan segera melakukan sertifikasi RSPO agar saya ‘si pecinta gorengan’ ini juga segenap masyarakat awam, tidak terseret sebagai pembunuh dan pelaku kejahatan.

Lagipula, kalau sumber dan proses pengolahan minyak sawitnya sudah benar kenapa harus risih. Buktikanlah dengan sertifikasi RSPO. Saya sangat siap jadi loyal consumer untuk minyak goreng berlogo RSPO. Bagaimana dengan anda?

Bukti Dukungan Saya, Kamu?

Bukti Dukungan Saya, Kamu?