Salak Sidimpuan Asli Desa Parsalakan Tapanuli Selatan-rodame-com

Salak Sidimpuan Asli Desa Parsalakan Tapanuli Selatan (Dok. Rodame)

Salak adalah salah satu buah asli dan menjadi ciri khas kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara. Itulah sebabnya kota Padangsidimpuan dikenal juga dengan sebutan ‘Kota Salak’. Bahkan di tengah-tengah kotanya berdiri tegak sebuah tugu yang diberi nama Tugu Salak. Hampir semua wilayah di kota Padangsidimpuan maupun kabupaten Tapanuli Selatan ditumbuhi oleh tanaman salak. Bahkan kota Padangsidimpuan yang bentuknya seperti palung dimana dikelilingi oleh perbukitan juga sudah ditumbuhi tanaman salak sejak masa nenek moyang. Kebanyakan menurunkannya ke anak-cucunya. Itulah kebun-kebun salak yang masih ada dan terus dirawat oleh petani salak hingga saat ini.

Sebut saja salah satu desa yang terkenal dengan penghasil buah salak yaitu Parsalakan dan Sisundung. Parsalakan dan Sisundung adalah salah dua desa di kabupaten Tapanuli Selatan yang merupakan penghasil salak terbesar di Indonesia. Menurut data Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Tapanuli Selatan, pada tahun 2012 tercatat Kecamatan Angkola Barat dimana desa Parsalakan merupakan kecamatan dengan jumlah salak tertinggi se-Tapanuli Selatan yaitu 280.670 ton dari total 301.314 ton. Ini adalah potensi daerah yang jika dioptimalkan dapat menjadi sumber penghasilan warga. Usia perkebunan salak yang ada disana bahkan ada yang sudah mencapai 60 tahun. Kebun salak tersebut sudah diturunkan dari nenek moyang dan masih terus dirawat dan berbuah hingga saat ini.

Desa Parsalakan dan Sisundung berada di perbukitan. Itulah sebabnya masyarakat sekitar terkadang menyebut petani salak ‘orang gunung’. Akses ke pasar tentu saja dilalui dengan jalan. Jalan yang bagaimana? Jalan yang masih belum memadai untuk mendukung usaha salak. Bahkan untuk transportasi buah salak dari sebuah kebun ke wilayah lainnya, dari sentra penghasil salak ke pasar juga ke calon pembeli jelas sangat membutuhkan infrastruktur yang memadai. Masalah utama petani salak saat ini adalah infrastruktur yaitu jalan yang bisa menghubungkan antar satu wilayah dengan lainnya sehingga kegiatan usaha salak menjadi efektif dan efisien.

Perkebunan Salak di Perbukitan Tapanuli Selatan (Dok. Rodame)

Perkebunan Salak di Perbukitan Tapanuli Selatan (Dok. Rodame)

Untuk mendukung potensi daerah tersebut diperlukan bantuan inovasi infrastruktur untuk desa Parsalakan juga desa Sisundung, diantaranya adalah :

Kebun Salak di Desa Sisundung (Dok.Rodame)

Kebun Salak di Desa Sisundung (Dok.Rodame)

Untuk mengatasi longsor ke jalan karena perkebunan salak berada di perbukitan, maka dibutuhkan penahan yang kuat. Penahan tersebut bisa berupa penanaman vetiver atau pembuatan dinding penahan tanah (retaining wall) yang kokoh. Longsor bisa sangat membahayakan sekaligus merugikan baik masyarakat yang hidup di desa Parsalakan maupun mereka yang menggunakan jalan tersebut untuk transportasi. Sampai sekarang belum pernah ada pembangunan retaining wall di desa Parsalakan, Sisundung dan sekitarnya.

Jalan Rusak di Desa Parsalakan

Jalan Rusak di Desa Parsalakan (Dok. Rodame)

Untuk jalan aspal yang sekarang rusak karena banyaknya kendaraan besar seperti truk yang melintas dibutuhkan tambalan aspal yang praktis dan cepat kering sehingga jalan aspal bisa cepat dipakai kembali atau dilewati berbagai kendaraan. Jalan aspal tersebut adalah jalan untuk transportasi termasuk membawa buah salak ke daerah lain untuk dipasarkan. Kalau jalan rusak, buah salak bisa rusak di jalan, jalan rusak juga menghambat kelancaran sampainya buah salak ke pasar atau pelanggan. Jika transportasi lancar maka buah salak dapat sampai dengan tepat waktu dengan kualitas yang terjaga. Pembeli pun akan puas karena buah salak berkualitas tinggi bahkan mungkin bisa diekspor hingga ke luar negeri.

Petani Salak Desa Sisundung Tapanuli Selatan-Rodame

Petani Salak di Desa Sisundung Tapanuli Selatan (Dok. Rodame)

Jalan di desa Sisundung lebih parah, karena jalannya sebagian besar bahkan belum beraspal. Wilayah perbukitan salak di desa tersebut menggunakan alat transportasi berupa kuda poni. Sementara itu, dengan jumlah petani salak dan produksi salak dari desa Sisundung yang tinggi tentu akan sangat makan waktu jika membawa hasil panen dengan menggunakan kuda poni. Jelas sekali akan memengaruhi proses pemasarannya sehingga buah salak lebih lambat sampai ke pasar atau pembeli. Dimana-mana yang namanya buah-buahan yang lebih fresh ya lebih bagus dan sehat. Semakin cepat sampai ke pasar akan semakin baik.

Masyarakat di kedua desa tersebut, hampir semuanya bergantung pada perkebunan salak. Dukungan pemerintah dalam hal ini bantuan melalui inovasi infrastruktur jalan menjadi hal yang saat ini paling dibutuhkan mengingat tingginya risiko penggunaan jalan di perbukitan areal kebun salak tersebut. Buah salak bersisik dan berduri sehingga bisa dibayangkan kalau panen dalam jumlah besar di perbukitan harus sangat hati-hati karena areal perkebunan salak dipenuhi buah dengan duri. Jika mengangkut terlalu banyak akan berat dan jika jalanan licin bisa tergelincir. Inilah salah satu risikonya. Keselamatan petani salak dan masyarakat sekitar juga menjadi faktor penting lainnya yang harus diprioritaskan oleh pemerintah.

Adanya Balitbang PUPR memberi angin segar untuk kami semua masyarakat di Sumatera Utara khususnya petani salak yang mayoritas di desa Sisundung dan Persalakan. Salak Sidimpuan atau yang dikenal dengan nama salak Sibakkua merupakan salak asli Indonesia dengan ciri dan rasa yang unik menjadi daya tarik untuk pengembangan salak ke depannya. Bahkan perlu diketahui bersama bahwa pemerintah telah menetapkan salak sebagai buah unggulan nasional.

Salak Sibakkua Hanya Ada di Tapanuli Selatan -rodame-com

Salak Sibakkua Hanya Ada di Tapanuli Selatan(Dok. Rodame)

Tentu saja untuk mendukung hal tersebut dibutuhkan dukungan semua pihak termasuk Balitbang PUPR sehingga petani salak di Tapanuli Selatan khususnya Kecamatan Angkola Barat (desa Persalakan, desa Sisundung dan sekitarnya) lebih sejahtera perekonomiannya. Selain itu, jika infrastruktur berupa jalan baik maka pemasaran akan lancar dengan demikian salak sidimpuan makin dikenal di Indonesia maupun mancanegara. Inovasi pada jalan yang merupakan infrastruktur utama dalam proses perpindahan salak dari petani ke pasar atau pelanggan menjadi hal yang mutlak dibutuhkan saat ini. Semoga saja Balitbang PUPR sebagai ‘inovator bangsa’ bisa ikut membantu terwujudnya harapan-harapan petani salak tersebut.

Sebagai masukan ke depannya, saya sangat berharap Balitbang PUPR dapat melakukan inovasi sains dan teknologi dalam upaya percepatan pembangunan infrastruktur khususnya pada jalan, guna mendukung tercapainya konektivitas nasional sehingga masyarakat di daerah sentra penghasil salak sejahtera, seperti :

  • Sebaiknya dibangun jalan yang bisa menghubungkan antar kebun yang satu dengan yang lainnya dimana petani salak besar biasanya terpisah antar bukit yang satu dengan yang lain. Jalan tersebut sebaiknya juga bisa dilalui kendaraan paling tidak roda empat untuk bisa memudahkan transportasi buah salak.
  • Karena sentra produksi salak di perbukitan, sebaiknya dibangun juga retaining wall untuk menjaga keselamatan petani salak dan masyarakat sekitar. Buah salak juga berduri, sepertinya harus dipikirkan juga Standar Keselamatan Petani Salak (SKPS).
  • Saya membayangkan ada jembatan antar bukit yang menghubungkan kebun petani salak yang satu dengan yang lainnya juga sangat bagus. Karena jaraknya tentu akan lebih pendek sehingga tidak makan waktu saat melakukan transportasi buah salak ke pasar atau calon pembeli.
  • Jika memungkinkan di perbukitan kebun salak dibangun sebuah gedung dimana disana dilakukan sortasi, pengemasan yang baik juga salak yang siap dimasukkan ke kendaraan yang akan mengantarkan salak kemanapun sesuai pesanan. Disana bisa dilakukan quality control sehingga buah salak yang berkualitas bisa sampai kepada pembeli.

Saat kita bicara soal kesejahteraan petani salak maka kita tidak bisa melepaskannya dari infrastruktur. Segala usaha jika tanpa infrastruktur yang memadai baik itu jalan, jembatan, gedung dll, saya yakin akan memengaruhi keberhasilan sebuah usaha. Sebagai sentra produksi salak terbesar di Indonesia, kabupaten Tapanuli Selatan dengan desa-desa didalamnya sudah seharusnya diperhatikan kebutuhan usahanya termasuk infrastruktur. Kesejahteraan petani salak akan sangat bergantung pada kematangan infrastrukturnya. Keberadaan Balitbang PUPR di Indonesia diharapkan dapat membantu pengembangan potensi daerah yang prospektif tersebut. Dengan berbagai masukan di atas, saya berharap ada perbaikan-perbaikan ke depannya sehingga usaha tani salak bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar.

Indonesia adalah negara kita bersama, karena itu kita adalah bagian darinya dan sudah seharusnya kita membangun daerah, mendukung pengembangan daerah juga mendukung semua hal yang bisa menyejahterakan masyarakat termasuk para petani salak di desa Parsalakan, Sisundung dan sekitarnya. Saya yakin kita bisa jika bersama-sama melakukannya. Mari memajukan potensi daerah dengan bantuan inovasi infrastruktur dari Balitbang PUPR, karena kesuksesan besar dimulai dari kesuksesan-kesuksesan kecil yang tercipta dari daerah. Saya yakin itu.