Saya seringkali merasa gagal jadi orang yang bermanfaat. Meski dulu saya cukup sering tertipu oleh mulut manis orang lain, masih saja saya berusaha berbaik sangka pada orang-orang yang katanya ‘memanfaatkan’ saya.

Memanfaatkan. Kata itu terasa penuh dengan konotasi negatif. Belakangan baru saya sadari. Semua yang saya alami itu adalah permintaan saya, doa saya. Saya selalu berdoa agar menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama. Namun, ketika ada orang lain yang membutuhkan pertolongan, kita terus-menerus menolongnya, orang lain justru menilai itu semua hanya ‘asas manfaat’ saja. Saya malah lebih banyak bersimpati daripada berempati. Bagaimana mungkin saya meminta untuk jadi orang yang bermanfaat? Padahal saya sendiri masih tak bisa berbaik sangka atas semua permintaan tolong dari orang lain. Ternyata menjadi seorang yang bermanfaat itu juga penuh cobaan ya.

Sampai suatu ketika seorang rekan kerja bercerita bahwa dia belum pernah melakukan belanja elektronik secara online. Sebenarnya kami tidak seumuran, dia jauh lebih muda dari saya. Namun, dia anak yang penuh rasa ingin tahu dan berani mencoba sesuatu yang baru. Dia agak shock melihat saya yang rajin sekali buka tutup situs belanja online melalui smartphone. “emang aman ya belanja online disitu?”, tanyanya. Dengan nada bersemangat, saya pun menjelaskan panjang lebar tentang situs-situs belanja online terpercaya, beberapa diantaranya bahkan gratis ongkos kirim.

Setelah penjelasan saya yang sepertinya cukup membingungkannya meski terkadang dia mengangguk juga pertanda sedikit paham, akhirnya dia memutuskan untuk mencoba belanja elektronik secara online.

Dia pun menunjukkan smartphone-nya mengalami kerusakan parah. Terkadang mati total, bahkan seringkali ketika mendadak diperlukan tidak bisa digunakan kembali. Karena baru saja gajian pertama, dia bersemangat ingin membeli smartphone baru. Maklum sebentar lagi dia akan menginjakkan kaki ke tiga negara. Hadiah dari lomba entrepreneurship baru-baru ini. Dia tak ingin melewatkan barang sekejab saja momen-momen berharga di tiga negara tersebut (Singapura-Hong kong-Cina). Saya pun menyarankan untuk membeli smartphone dengan merek tertentu. Selain harganya yang terjangkau, performanya pun tinggi, ditambah lagi ada layanan gratis ongkos kirim.

Di situs belanja online ini, selalu menggunakan kurir JNE. Kenapa saya tau? Sangkin seringnya belanja online dan pakai kurir JNE saya hafal ciri-ciri resi dari kurir JNE. Hihi. Selain itu, saya selalu menerima notifikasi lewat email dan SMS tentang status produk yang saya beli secara online tersebut. Jadi tidak kuatir akan ada penipuan. Teman saya pun akhirnya meminta saya untuk mengurus semuanya. Termasuk memberikan alamat saya, karena di daerahnya belum ada nomor rumah kuatirnya alamat dinilai tidak lengkap dan paling buruk barang pesanan bisa lama di jalan (tak sampai-sampai). Padahal dia butuh smartphone itu sebelum tanggal keberangkatannya yang hanya seminggu lagi.

Belanja online memang menggoda ya. Tak lama setelah memutuskan membeli smartphone baru secara online dia lantas ingin beli radio portable yang multifungsi. Dia bercerita pada saya, di rumahnya yang agak ke gunung itu tidak terdengar bunyi adzan berkumandang. Hingga terkadang dia kesulitan mengetahui sudah masuk waktu sholat apa belum. Demi niat untuk sholat tepat waktu, dia memutuskan harus punya radio tersebut. Luar biasa, sekarang dia sudah punya dua pesanan di waktu yang hanya berbeda hari dalam minggu yang sama. Dua-duanya adalah produk elektronik yang harganya lumayan dan dia termasuk ‘berani’ menitipkan uang dan proses belanja elektronik online untuk pertama kalinya ini kepada saya.

Fix. Saya pun menolongnya. Ini jelas bagian dari doa saya ‘menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama’. Saya rasa ini bukan ‘asas manfaat’ ini murni butuh pertolongan. Saya selesaikan proses belanjanya. Notifikasi status pesanan saya pun terus masuk ke email dan smartphone.

Hari kedua, hari ketiga, hari keempat, saya mulai gelisah. Dia mulai menanyakan pesanannya. Dengan tenang saya bilang untuk bersabar. Besoknya, dia juga bertanya, “sudah sampai mana pesananku?”. Karena saya sudah menyimpan resi pengiriman JNE dari email dengan sigap saya membuka aplikasi MYJNE di smartphone saya.

Saya memang baru saja mengunduhnya karena saya sangat sering belanja online terutama karena banyak juga titipan orang lain. Maklum, di daerah saya ini masih banyak sekali yang tidak paham cara melakukan belanja online. Selain itu, banyak kekuatiran yang menghantui mereka sehingga urung belanja online terutama dari segi pembayaran. Jadi saya pikir, akan lebih baik jika aplikasi MYJNE ada di smartphone saya supaya saya bisa cek status pesanan kapan saja sekaligus bisa buktikan kepada si penitip tentang status barang yang dipesan sudah sampai mana. Praktis dan jujur. Tidak ada kecurigaan antara saya dan penitip.

Nah, penasaran kan, bagaimana cara tracking pesanan di aplikasi MYJNE? Sebelumnya yuk saya ajak kenalan dulu dengan aplikasi MYJNE.

Aplikasi MYJNE adalah sebuah layanan yang dikelola oleh PT. Tiki Jalur Nugraha Ekakurir. Aplikasi berbasis android yang menghubungkan nomor telepon kita dengan seluruh kiriman yang dikirim melalui JNE. Ingat ya hanya JNE kalau kurir yang lain jelas gak akan bisa dan gak akan pernah bisa. Dengan satu nomor telepon yang sudah didaftarkan itu, kita bisa menikmati berbagai fitur-fitur istimewa lainnya seperti : MYTARIFF, MYSHIPMENT, MYLOCATION dan MYCOD.

Dimana kita bisa mendapatkan aplikasi MYJNE? Di Google Playstore yang ada di smartphone berbasis android. Lalu search ‘MYJNE’ kemudian silakan dipasang di smartphone masing-masing. Kalau sudah terpasang maka akan muncul icon bertuliskan MYJNE dengan logo wajah Joni. Itu artinya, aplikasi MYJNE sudah berhasil terpasang di smartphone kita. Kalau sudah begini, fitur-fitur lainnya siap dijelajahi.

myjne

Bukti Aplikasi MYJNE Sudah Terpasang di Smartphone Saya (Dok. Rodame)

Berdasarkan notifikasi dari situs belanja online tempat saya memesan barang milik teman saya yang dikirim melalui email, maka saya punya dua nomor resi yang satu resi smartphone dan satunya resi radio FM multifungsi. Nah, untuk mengecek status kedua pesanan tersebut, kita hanya perlu memasukkan nomor resinya ke kolom search airwaybill’ yang ada di aplikasi MYJNE. Satu-satu ya masukinnya, karena tidak bisa kalau mau tracking lebih dari satu resi secara bersama-sama.

1

Hasil Tracking Berkala (Dok. Rodame)

Selama pesanan itu belum sampai, selama itu juga saya bisa melakukan tracking. Saya bahkan bisa tracking persis di depannya agar ia melihat langsung status pesanannya.

Dan benar saja, setelah hampir seminggu kedua barang yang dipesan pun sampai ke alamat saya. Saya tak sabar ingin segera memberikan kepadanya. Berhubung itu hari Jumat, Sabtu adalah hari libur. Mau tak mau saya harus menyampaikannya sedikit lebih lama yaitu hari Senin.

Setibanya di kampus. Saya menunggunya. Ya, saya memang cukup sering jadi pembuka pintu ruang dosen pertama. Tak lama dia pun datang dengan wajah tersenyum sambil melihat dua buah paket besar di atas mejanya. Wajahnya sumringah.

myjne

Sry, Rekan Kerja yang Membuat Saya Jadi Bermanfaat (Dok. Rodame)

Terimakasih JNE, terimakasih aplikasi MYJNE, kini saya bisa jadi lebih berarti dan bermanfaat bagi sesama dengan kemudahan tracking pesanan melalui aplikasi MYJNE. Aplikasi MYJNE telah mengajarkan kejujuran antara saya dan si penitip. Status pesanan bisa dicek real time dan akurat. Selain itu, karena nomor resi yang dikirim oleh situs belanja online melalui email, saya hanya perlu ‘copy-paste’ nomor resinya langsung ke kolom ‘search airway bill’ di aplikasi MYJNE. Semua serba elektronis. Paperless. Ini juga bisa jadi kontribusi saya untuk ikut mengurangi penggunaan kertas di bumi tercinta ini. Ternyata JNE juga mendukung hidup go green ya.

Nah, untuk kamu yang masih penasaran dengan berbagai manfaat aplikasi MYJNE, yuk segera pasang aplikasinya di smartphone. Klik aja banner di bawah ini :

banner myjne