Masih ingat cerita saya di “Sudah Kenyang dengan ‘Bully’ [Bagian 1]“? ya, ini masih cerita tentang ‘bully‘ di kampung dimana saya dibesarkan. Saya lagi-lagi menjadi murid pindahan. Waktu itu pindahan dari Sumatera Utara sekarang saya anak murid pindahan dari Bandung. Saya pikir anak pindahan akan diperlakukan dengan baik, ternyata itu cuma mimpi saja.

Ceritanya tahun 1995, kelas 5 akhir setelah dinyatakan naik kelas 6, saya diantar Ayah saya untuk pulang ke Sumatera Utara, tempat dimana saya dibesarkan. Saya memang tidak lahir disana tetapi saya sebelumnya TK dan SD sampai kelas 3 disana. Kota Pematangsiantar namanya, sekitar 2-2,5 jam dari kota Medan, ibukota Sumatera Utara. Entah kenapa saya dimasukkan ke SD Negeri lagi oleh kedua orangtua saya. Bayangan saya, mungkin biaya masuk lagi ke SD swasta itu mahal, dengan keadaan yang pas-pasan mana mungkin bisa masuk lagi ke SD swasta tempatku sebelumnya TK dan SD kelas 1 sampai 3.

Akhirnya saya ditemani oleh Ayah saya, didaftarkan disana dan segera masuk di keesokan harinya di SD Negeri tersebut. Saya menggunakan seragam sekolah yang dari Bandung sebelumnya. Sudah sedikit kependekan roknya tapi saya tak berani minta macam-macam ke Ayah saya. Saya bersyukur masih ada seragam sekolah yang bisa saya pergunakan. Saya tinggal di rumah bersama adik dari paman dan keluarganya. Rumah kami memang dititipkan kepada mereka selama kami sekeluarga di Bandung. Mereka menjaga dan merawat rumah sambil menabung sedikit demi sedikit untuk membangun rumah mereka sendiri. Saling tolong-menolong, begitulah kira-kira. Saya dititipkan Ayah kepada keluarga paman dengan setidaknya untuk 1 tahun ke depan sampai kami sekeluarga bisa berkumpul kembali di rumah itu.

Saya pun berangkat ke sekolah. Kelas 6 adalah kelas paling senior di SD. Semua murid di kelas 6 merasa murid yang paling hebat. Saya hanya murid pindahan dari SD Negeri di Bandung. Meski saya berada di tempat dimana saya dibesarkan kenyataan tidak bisa mengubah bahwa saya tetaplah murid pindahan tidak lebih. Guru wali kelas saya ketika itu seorang Ibu, sudah cukup berumur dan syukurlah dia punya cucu yang juga lahir di Bandung dan kini sekelas dengan saya. Saya rasa keberadaan Eka yang asli Bandung waktu itu akan sangat membantu saya menyesuaikan diri lagi di SD Negeri ini.

Saya tidak pernah dipanggil dengan nama yang benar oleh teman sekelas saya. Mereka memanggil saya dengan sebutan aneh-aneh. Mulai dari ‘mata jengkol’ karena kata mereka mata saya besar seperti jengkol. Lalu ‘kutilang’ karena kata mereka badan saya kurus tinggi langsing. Lalu terkadang dipanggil ‘kutilang darat’ karena kata mereka saya ‘kurus, tinggi, langsing, dada rata. Entahlah apa maksud dari semua gelar yang mereka berikan kepada saya. Yang jelas saya sakit hati. Sangat kecewa. Kembali saya harus dijahilin dalam bentuk dan perlakukan yang berbeda.

Rambut saya dulu panjang, hitam dan rapi. Sampai kemudian, anak-anak di kelas menjahili saya. Mereka beramai-ramai menempelkan lem kertas di rambut saya, kepala saya sampai penuh lem, baunya bau lem dan lengket semua tak bisa diapa-apakan lagi. Saya menangis, mereka pun semakin menjadi-jadi. Bahkan terus mengejek saya dengan isakan tangisan saya. Kala itu, saya ingat kedua orangtua saya. Saya merasa sedih kenapa mereka membiarkan saya pulang duluan, kenapa mereka memasukkan saya ke sekolah mengerikan ini. Tapi lagi-lagi saya tak pernah menceritakannya juga kepada paman saya. Pulang ke rumah saya membersihkan kepala saya dengan sampo yang banyak berulang-ulang kali saya membilasnya sambil menangis tanpa suara, kuatir istri paman saya mendengarnya.

Besoknya, saya trauma pergi ke sekolah. Tapi saya tak punya pilihan, saya kasihan pada kedua orangtua saya. Saya seolah-olah mengantarkan nyawa saya ke sekolah itu, entah untuk dijahilin atau diejek oleh mereka. Setiap hari saya menerima ejekan, perlakukan yang tidak menyenangkan, bahkan lebih kejam lagi, beberapa orang anak lelaki berani melempari saya dengan kerikil-kerikil kecil sampai ada orang lain yang memarahi mereka baru mereka berhenti jika tak ada orang lain mereka lanjutkan melempari saya. Saya tak bisa melawan, menangis pun tak ada gunanya, berteriak pun tak kan mengubah keadaan. Saya hanya perlu berjalan cepat, sangat cepat agar sampai ke rumah dengan segera.

Beberapa teman perempuan sekelas akhirnya mencoba berteman dengan saya. Mereka sering kali meminta ke rumah saya, karena saya pikir mereka baik, akhirnya saya putuskan mengajak mereka ke rumah saya. Kali ini penilaian baik saya pun ternyata salah. Setibanya di rumah saya, rumah kebetulan sepi, mereka masuk ke kamar utama, kamar kedua orangtua saya yang dikosongkan, saya isi selama menunggu keluarga saya pulang. Mengacak-acak apa yang mereka lihat, membuka isi lemari, melompat di kasur, tertawa terbahak-bahak. Mereka mengomentari apa saja yang ada di rumah saya. Saya kaget bukan kepalang. Saya pikir mereka ingin bertamu baik-baik dan akan sopan ternyata itu semua bohong. Mereka menjahili saya dengan mengejek rumah dan isinya. Astaga! spontan saya marah, saya tarik mereka dari kamar utama itu, saya usir mereka keluar, saya tutup semua jendela setelah mereka pergi. Saya katakan, jangan datang ke rumah saya lagi!

Sejak itu tak seorangpun berani datang ke rumah lagi. Semua murid terlihat manis di sekolah, tapi saya sudah tidak percaya lagi kepada siapapun di kelas itu. Saya akan sendiri, tidak mengapa saya tak ditemani. Saya akan belajar sungguh-sungguh agar tak perlu bertemu dengan mereka lagi. Saya bertekad pindah rayon ketika masuk SMP nanti. Saya tidak mau masuk SMP di rayon yang sama, karena pastilah saya akan bertemu lagi dengan mereka semua. Tidak akan pernah!

Syukurlah saya bisa bertahan, kejadian ‘bully‘ itu membuat saya termotivasi untuk menjadi juara, untuk lulus dengan nilai terbaik. Benar saja, saya kala itu meraih NEM tertinggi di rayon tempat saya tinggal. Nilai hampir sempurna, NEM 45 koma sekian, jika dibagi 5 mata pelajaran kira-kira 9 koma sekian. Saya tidak menyangka, saya akan memperoleh nilai seperti itu. Berkat NEM yang tinggi itu saya akhirnya diterima di SMP Negeri yang tidak serayon dengan SD Negeri saya itu, saya berhasil pindah dari wilayah itu, meski jauh harus naik kendaraan umum, tapi saya senang dan lega sekali, bisa lepas dari mereka semua.

Apa yang bisa kita ambil dari kisah di atas? jujur saya baru tahu bahwa apa yang saya rasakan dulu adalah ‘bully‘. Sekarang banyak orang mengkampanyekan ‘stop bullying‘. Dulu saya sudah merasakannya. Saya tidak hanya asal bicara karena saya adalah salah satu korban ‘bullying‘. Anak tidak akan mau bercerita kepada orangtua tentang kejadian seperti itu. Karena ternyata anak di usia SD saja sudah bisa merasakan kasihan kepada kedua orangtuanya, sudah bisa membayangkan perasaan orangtua, bahkan tidak ingin membebani orangtua dengan kejadian yang dialaminya. Saya termasuk anak yang tidak suka menceritakan hal buruk baik di sekolah atau dimana saja kepada orangtua saya. Dan saya mungkin bukan satu-satunya yang seperti itu di dunia ini. Pesan saya, banyaklah berkomunikasi dengan anak, ketika dia diam, menyendiri, tanyalah apa yang dirasakannya saat itu, mengapa dia bersedih dan diam. Lalu, tanyakan apa keinginannya agar dia tidak bersedih lagi, agar dia tidak takut ke sekolah lagi. Dan temukan solusi terbaik untuknya, jika memang dia menghendaki pindah sekolah, tanyakanlah kemana dia ingin sekolah, sekolah seperti apa yang diingininya, teman-teman seperti apa yang diingininya. Dengan begitu, orangtua menjadi paham maunya anak, terbuka dan mau bercerita bahkan tentang kejadian buruk sekalipun yang dirasakannya di sekolah.

Sekali lagi, sekolah harusnya tempat yang menyenangkan untuk anak-anak. Bukan sebaliknya. Mari kita benar-benar memperhatikan keadaan anak-anak kita. Terutama sebagai Ibu, anak harusnya paling jujur pada ibunya, paling senang bicara dengan ibunya. Jika anak katakan untuk menjaganya dan tak bercerita pada siapapun, ibu berjanji melakukannya maka tepatilah janji itu, agar anak tak kehilangan kepercayaannya pada ibu. Berusahalah terus dalam mendekati anak sampai dia nyaman berbicara pada kita orangtuanya. Ternyata kita pun tak selalu bisa mengandalkan guru di sekolah, saya yakin sebenarnya hanya orangtua tempat paling dipercaya anak. Jadi, marilah kita sama-sama belajar dari kisah ini untuk terus mengawasi dan menjaga anak-anak kita terutama saat jauh dari kita orangtuanya.

Apakah kisah tentang ‘bully‘ yang saya alami hanya di SD saja? Tidak! karena saya masih mengalami ‘bully‘ di SMA. Nanti akan saya ceritakan di “Sudah Kenyang dengan ‘Bully’ [Bagian 3]”.