Sudah baca tentang kisah saya di-bully di SD, ada di artikel yang berjudul “Sudah Kenyang dengan ‘Bully’ [Bagian 1]” dan “Sudah Kenyang dengan ‘Bully’ [Bagian 2]“. Kalau belum silakan dibaca dulu, ini masih lanjutan tentang apa yang saya rasakan selama sekolah. Jika 2 cerita sebelumnya adalah di SD, sekarang adalah di SMA.

Ceritanya, saya waktu itu masuk kelas unggulan di sebuah SMA melalui tes yang panjang dan ribet. Tidak menyangka bisa masuk ke sekolah favorit, kata kakak kelas SMA itu salah satu yang terbaik di Sumatera Utara. Berjuang mati-matian saya untuk bisa sehat dan memenuhi segala persyaratan yang diminta SMA tersebut hingga saya dinyatakan lulus.

Waktu itu tahun 2002, saya duduk di kelas 3 SMA. Posisi paling puncak dalam sejarah Sekolah Menangah Atas. Masa-masa itu harusnya berakhir dengan menyenangkan namun sayang itu tak semanis yang seperti saya harapkan. Saya mengalami sebuah tekanan yang sangat hebat. Saya sudah pernah menceritakan sebelumnya, tentang bagaimana saya dalam berteman, saya tak pernah memilih-milih dan saya merasa semua orang di sekolah layak menjadi teman saya, apapun latar belakangnya.

Saya berteman cukup akrab dengan beberapa teman yang kata siswa lainnya adalah ‘anak-anak nakal’. Bagi saya, mereka orang baik, hanya kenakalan remaja yang sepertinya normal ketika SMA, tidak lebih. Saya berulang kali diingatkan untuk tidak berteman dengan anak-anak di luar kelas unggulan ini. Ah! yang benar saja, batin saya memberontak, mengapa sampai berteman pun saya harus diatur oleh teman sekelas saya. Bukankah kita bebas menentukan pertemanan dengan siapa saja. Tapi alasan itu tidak berlaku bagi teman-teman sekelas saya ini (saya bahkan terkadang malas menyebut mereka teman sekelas saya ketika SMA).

Pada masa itu ada sebuah kejadian yang sedang heboh terjadi di asrama sekolah. Meski menurut penuturan kakak kelas itu adalah berita lama namun ternyata masih terjadi di asrama. Namanya ODB, singkatan dari Operasi Dinding Jebol, harusnya ODJ ya bukan ODB tapi populer dengan singkatan ODB kala itu. Suatu pagi saya dan teman dekat saya dari kelas unggulan yang berbeda piket membersihkan kamar mandi. Betapa terkejutnya saya, karena saya dan teman saya menyaksikan ada begitu banyak lubang di asbes kamar mandi lantai 3 yang biasa kami pakai untuk mandi mencuci dll. Saya tambah shock karena ada lidi yang keluar dari atas asbes seolah-olah sedang melubanginya untuk bisa memandang apapun yang ada di bawahnya. Saya dan teman saya bertekad untuk menutupnya diam-diam, membicarakannya pada teman-teman kelas 3 lainnya sambil memikirkan cara untuk menghentikan kejadian itu.

Kedekatan saya pada teman saya ini, tercium oleh teman-teman sekelas saya. Entah apa yang ada di benak mereka kala itu. Yang jelas mereka telah memfitnah saya, benar-benar kejam dan keterlaluan (sampai sekarang jika teringat fitnah mereka saya tak pernah bisa lupa, TIDAK PERNAH!). Mereka, siswi sekelas saya, menarik saya ke sebuah kamar dengan alasan akan berkumpul untuk membicarakan sesuatu hal. Saya ditipu, dibohongi. Mereka membentak-bentak saya, lalu satu per satu mulai melotot dan menarik kemeja sekolah saya. Saya seperti dikerumuni oleh siswi cerdas yang berhati setan kala itu. Mereka langsung memaksa saya untuk jujur dan mengakui bahwa peristiwa ODB yang terjadi itu adalah hasil persekongkolan saya dengan ‘anak-anak nakal’ yang mereka tidak sukai sejak awal.

Saya bingung, kenapa tiba-tiba ada tuduhan seperti itu? saya tak pernah mengerti maksud dari kejadian malam itu. Malam setelah saya disidang oleh siswi sekelas saya itu, saya menangis di kamar saya. Memohon kepada Tuhan untuk menunjukkan kebenaran dan menghukum mereka yang telah jahat kepada saya. Tuduhan itu tak berdasar dan kejam sekali. Saat saya harus fokus belajar agar lulus di PTN yang saya impikan justru saya dihadapkan dengan masalah seperti ini. Saya di-bully. Saya bahkan berniat bunuh diri malam itu. Apakah melompat dari lantai 3 kamar saya, atau mencari sebilah pisau. Saya ingin mati. Inilah yang saya rasakan. Mereka yang mem-bully saya tidak akan pernah tahu bagaimana dan apa yang saya rasakan. Hanya saya yang tahu! Mungkin karena kelelahan menangis saya akhirnya tertidur sampai pagi. Jika bukan karena seizin Tuhan dan karena memikirkan kebahagian kedua orangtua saya karena saya masuk sekolah yang ‘katanya’ favorit ini, saya sudah minta lepas dan keluar dari kelas unggulan ini. Tersiksa batin! itu yang saya rasakan.

Keesokan harinya, lagi-lagi saya disidang, dihakimi oleh semua siswa/i sekelas saya. Mereka sepakat untuk memaksa saya jujur dan mengakui bahwa saya telah bersekongkol dengan ‘ana-anak nakal’ itu. Lama-kelamaan saya mulai berpikir, sepertinya siswa di kelas saya ini menyembunyikan sesuatu, atau mungkin sebenarnya merekalah pelaku ODB itu tapi sedang mencari kambing hitam agar tak dituduh oleh siswi sekelas atau seasrama lainnya. Saya terus membela diri, karena saya memang tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan kepada saya. Saya berusaha menceritakan apa adanya, tetapi mereka mengancam saya. Saya tidak akan ditemani, tidak akan diajak bicara sampai saya mengakui semua yang mereka minta (tentu saya tak pernah mengakuinya).

Keesokan harinya mereka benar-benar mempraktekkannya. Tak seorangpun mau berbicara kepada saya. Saya dikucilkan, dimusuhi dan tidak dianggap ada. Hati saya menjerit ingin rasanya memaki mereka satu per satu. Saya tak pernah menyangka masuk ke SMA yang ternyata adalah mimpi terburuk dalam hidup saya. Tapi saya harus bertahan, ini impian kedua orangtua saya. Mereka bangga saya masuk SMA ini, padahal saya merasa tersiksa dengan ‘bully‘ yang harus saya hadapi sendiri.

Sampai akhir saya lulus dari SMA itu, saya tak pernah lupa wajah-wajah orang yang mem-bully saya. TIDAK PERNAH! saya bahkan tak pernah ingin mengingat mereka dalam kenangan saya selama SMA.  Saya memang tak menaruh dendam pada mereka tapi saya selalu berharap kelak mereka atau anak mereka mungkin akan merasakan apa yang saya rasakan waktu itu. Dan ketika itu terjadi, saya berharap mereka tahu apa yang mereka lakukan itu salah besar. Perilaku ‘bully‘ itu kejam, sadis dan tidak dibenarkan dengan alasan apapun. Karena orang yang di-bully itu cenderung mengingat semua kejadian secara detil jika orang tersebut tidak berada pada lingkungan keluarga yang baik juga tidak memiliki kemampuan EQ (Emotional Intellegence) yang baik bisa jadi kelak akan lahir generasi kasar, pendendam, tak berakhlak karena pernah menerima perlakuan buruk semasa sekolahnya.

Pelajaran yang bisa kita petik dari kejadian ini adalah kita tak pernah tahu apakah saat ini, atau dulu atau kelak anak kita akan menjadi korban dari ‘bully‘ itu. Kita hanya bisa membuat anak merasa nyaman dan terbuka dalam keadaan apapun kepada kedua orangtuanya terutama ibunya. Semakin dewasa anak semakin matang dalam berpikir sehingga mungkin saja dia menyembunyikannya karena tak ingin kedua orangtuanya bersedih dan susah hati atau sebaliknya bisa saja anak yang di-bully itu menyembunyikannya lalu menyusun rencana yang bisa membahayakan dirinya dan orang lain. Sebaiknya kita peka melihat perilaku anak kita terutama dalam menempatkannya di sekolah, sekolah apapun baik negeri, swasta, favorit, yang ‘the best‘ sekalipun tidak menjamin anak kita aman dari ancaman ‘bully‘.

Saya mengajak siapapun untuk menghentikan perilaku bully. Anda tak pernah tahu apa yang terjadi kelak, mungkin anda, anak anda, saudara anda bisa saja merasakannya. Bully adalah perilaku yang tidak dibenarkan karena bisa berdampak buruk kepada kedua belah pihak terutama pada anak korban bully. Curigalah ketika anak mulai berperilaku kasar, tidak sopan, asal bicara, tidak mengikuti pelajaran dengan baik di sekolah, mungkin ada sesuatu yang terjadi dengannya. Curigalah ketika anak mulai menjauh dari keluarga, suka berbohong, tidak senang berada di lingkungan keluarga, mungkin ada sesuatu yang disembunyikannya dari orangtuanya. Curigalah jika anak suka mengejek, suka menghina, suka membicarakan kekurangan atau kelemahan teman sekolah atau orang lain, mungkin ini jadi awal dia akan tumbuh menjadi seorang yang berperilaku kurang baik.

Bully itu biasanya diawali dengan kata-kata yang mengejek dan menghina baik fisik maupun mental. Lalu mulai berani berbuat yang tidak baik yang identik dengan istilah jahil. Kemudian berubah menjadi sebuah kebiasaan, karena ketika anak tersebut melakukannya tidak ada yang menegur atau peduli dengannya, dia menganggap perilakunya itu benar dan menyenangkan. Bully juga menular. Anak yang suka mem-bully biasanya hidup berkelompok, dia punya geng, kekuasaan sehingga merasa hebat ketika berhasil membuat anak lain menangis dan tersiksa akibat perilakunya dan gengnya.  Anak yang berteman dengan orang yang senang mem-bully akan secara langsung terpengaruh karena berada pada geng yang sama. Pengalaman saya menunjukkan bahwa anak yang suka mem-bully tidak pernah menunjukkan sikap menyesal atas apa yang dilakukannya itu.

Semoga kejadian yang saya rasakan ini tidak terjadi pada siswa/i lain di SMA tersebut, juga tidak terjadi di sekolah-sekolah lainnya di Indonesia, juga tidak menimpa anak-anak di muka bumi ini. Saya adalah korban bully. Saya tidak membenarkan perilaku bully. Saya berani membeberkan semua ini, supaya semua orang yang suka mem-bully bertobat dan sadar. Mungkin ada yang merasa pernah mem-bully saya secara tak sengaja membaca posting-an ini, saya tak menuntut anda mendatangi saya lalu meminta maaf, karena sejak saya di-bully di SD dan SMA, tak satupun memang pernah datang dan meminta maaf kepada saya secara langsung maupun tidak langsung. Ini bukti bahwa permintaan maaf dari orang yang mem-bully itu tidak perlu diharapkan karena tak mungkin terjadi. Saya hanya mengingatkan, bully bisa terjadi pada siapapun termasuk anda atau anak dan keluarga anda. Jadi bersikaplah baik kepada semua orang, jangan mencubit jika tak mau dicubit. Saya mungkin tak membalas dendam, karena bagi saya itu tak ada gunanya. Tapi jika terjadi pada orang yang pendendam, anda tak bisa mengontrol kejadian selanjutnya. Hati-hatilah dalam berperilaku!

Bagi yang pernah di-bully seperti apa yang saya alami. Dekatkan diri kepada Tuhan, agar tak salah arah. Jujur dan terbukalah kepada kedua orangtua atau paling tidak kepada ibu anda. Yakinlah ibu anda akan berusaha memahami anda dan apa yang anda rasakan itu. Jika tidak ada keluarga yang bisa anda ajak bicara maka paling tidak bicaralah pada diri anda sendiri, katakan bahwa anda mampu melewati semua ini, anda kuat dan anda akan berhasil melaluinya dengan atau tanpa dukungan siapapun. Abaikan hal-hal yang bisa membuat cita-cita anda terhambat. Cari hobi yang kegiatan positif yang bisa membuat anda kembali percaya diri. Belajar dan temukan kelebihan anda untuk terus mengembangkannya. Buktikan anda bisa berhasil, anda lebih baik daripada orang-orang yang mem-bully anda. Menjadi orang baik yang berhasil adalah cara terbaik untuk membalaskan kebencian dan kekesalan anda.

Saya adalah korban bully dan saya mampu melewatinya. Saya yakin, hal yang sama juga berlaku untuk anda, orang-orang yang sedang atau pernah di-bully. Jangan menyerah, anda tak sendirian. Saya yakin anda adalah orang baik dan akan kelak akan menjadi orang baik yang sukses. Memang baik jadi orang penting tapi jauh lebih penting jadi orang baik. Teruslah berusaha dan bangkit dan jadilah orang baik.