Duarrrr…..

Seketika itu langit menjadi gelap, ledakan begitu kuat dan asap hitam mewarnai langit kota Medan. Semua jaringan telepon masih terganggu, bahkan para penumpang terlihat porak poranda di tempat kejadian. Mungkin kita masih ingat kecelakaan pesawat pada salah satu maskapai penerbangan Indonesia waktu itu. Bahkan ada 105 penumpang dan 5 awak pesawat dinyatakan meninggal dunia seketika itu juga. Sungguh kejadian yang tak terduga dan sangat memprihatinkan.

Seorang teman tiba di kosan tempat saya ngekos masa kuliah dulu, ia tak henti-hentinya sujud syukur karena hampir saya ia menjadi salah satu penumpang di dalam pesawat naas tersebut. Maut memang tidak ada yang tahu, sungguh ia masih diberi kesempatan untuk selamat dari kecelakaan pesawat yang menggenaskan itu. Ia menceritakan bagaimana ia bertukar jadwal pesawat karena ternyata tiket hari itu sudah habis terjual. Dia yang tadinya kecewa dan kesal karena tak dapat berangkat saat itu akhirnya berubah menjadi tangis haru penuh syukur karena masih selamat.

Sebagai seorang perantau di kampung orang. Saya dan keluarga kerap kali menggunakan pesawat untuk bepergian. Menyeberangi selat Sunda, Jawa-Sumatera, sebuah perjalanan yang lebih mudah jika dilalui dengan pesawat. Jika menggunakan bus perjalanan bisa mencapai 3 hari 2 malam. Padahal ongkos, biaya makan hampir berimbang dengan ongkos pesawat belum lagi faktor cepat sampai dan kenyamanan tidak dapat dibandingkan dengan naik bus berhari-hari.

Tahun 2007 tepatnya di bulan Mei silam, saya menjadi salah satu mahasiswi yang lolos dalam program magang kerja ke Jepang. Impian yang tidak pernah saya bayangkan bisa terwujud sebelumnya. Saya dan teman-teman lainnya berangkat ke Jepang dengan salah satu maskapai terbaik di Indonesia yang memang memiliki rute ke Narita Jepang. Awalnya saya tak pernah terpikir bagaimana perjalanan nantinya, saya cukup percaya dengan kemampuan maskapai. Meskipun sekali lagi maut tak dapat diketahui oleh siapapun. Memang benar adanya, kenyamanan di pesawat selama terbang kurang lebih 7 jam sangat berpengaruh pada ketenangan kita. Kemampuan pilot dalam menerbangkan pesawat, keramahan awak pesawat dan semua fasilitas yang mendukung di dalam pesawat sangat menentukan ketenangan perjalanan jauh itu. Bahkan setelah setahun berlalu di Jepang, saya dan teman-teman juga menggunakan maskapai yang sama. Syukurlah semua selamat, perjalanan pun lancar tanpa kekurangan suatu apapun.

Itu adalah perjalanan terjauh yang pernah saya tempuh selama hidup saya sampai saat ini. Selebihnya adalah rute Jakarta-Padang, Jakarta-Pekanbaru, Jakarta-Medan. Biasanya jika akan mudik alias pulang kampung, kami sudah mempersiapkan tiket pesawat selain karena lebih murah terkadang masih banyak pilihan maskapai yang akan digunakan. Memang banyak cerita ketika kita melaksanakan sebuah perjalanan, meskipun naik pesawat tetapi musibah juga tak dapat dihindari. Mulai dari pesawat yang delay dan penumpang telantar, sampai kepada kehilangan barang dari bagasi.

Pernah suatu ketika, semua penumpang turun dari pesawat menuju tempat pengambilan barang dari bagasi, beberapa orang terlihat gelisah menunggui barang-barangnya. Iseng saya lalu bertanya, ternyata mereka sudah menunggu beberapa kali putaran tetapi barang-barangnya tetap tidak ditemukan. Bayangkan jika barang tersebut adalah barang berharga tentu akan sangat terpukul sekali jika kehilangan dan tidak mendapat jaminan kehilangan. Terbang malah jadi tidak menyenangkan karena semua menjadi berantakan.

Saya jadi teringat akan kolom asuransi yang selalu tertera ketika kita akan memesan tiket pesawat online. Terkadang kita cuek dan merasa tidak perlu menggunakan asuransi perjalanan tersebut. Padahal nominalnya tidak berat bervariasi sekitar 40.000-50.000 rupiah. Namun seringkali kita menganggap remeh hal tersebut tanpa berpikir panjang bagaimana kalau terjadi apa-apa selama perjalanan di pesawat. Seperti kasus kehilangan barang, delay atau mungkin kecelakaan. Penawaran asuransi di pemesanan tiket pesawat online dengan mudah kita acuhkan karena merasa hanya buang-buang uang alias mubazir.

Melihat beberapa kejadian sebelumnya, mulai dari kecelakaan pesawat di Padang Bulan Medan, Sumatera Utara hingga kejadian kehilangan barang ataupun delay pesawat sebenarnya bisa kita payungi dengan tindakan preventif. Adalah asuransi perjalanan. Salah satu perusahaan asuransi yang menawarkannya produk berupa asuransi perjalanan itu adalah Allianz. Saya sendiri baru tahu kalau ternyata asuransi perjalanan itu mampu menolong kita dari berbagai risiko perjalanan. Mulai dari penundaan atau pembatalan penerbangan pesawat, kehilangan atau kerusakan bagasi, sakit atau kecelakaan bahkan kehilangan dokumen perjalanan yang penting seperti paspor.

Kalau dipikir-pikir apalah arti nominal yang kita harus keluarkan untuk asuransi perjalanan itu dibandingkan dengan berbagai risiko yang mungkin terjadi pada kita selama perjalanan. Kesadaran, lagi-lagi ini masalah kesadaran. Mengubah mind set juga tidak kalah ternyata pentingnya agar kita senantiasa berpikir preventif. Merencanakan sebuah perjalanan mungkin akan lebih tenang bila kita juga mempersiapkan ‘payung’-nya. Saya semakin melek asuransi, karena ternyata asuransi ada pada setiap aspek kehidupan, termasuk dalam perjalanan.

Foto Dok. Rodame MN

Foto Dok. Rodame MN

Syukurlah sekarang ada asuransi perjalanan Allianz, setidaknya ada yang peduli pada keselamatan jiwa dan betapa berharganya perjalanan kita. Usut punya usut, sebuah maskapai di Indonesia yaitu Garuda Indonesia sudah tanda tangan kontrak terkait kerjasama travel insurance dengan Allianz loh.. (cek disini) jadi tambah tenang kan kalau akan terbang kemana saja. Allianz memang memilih kerjasama dengan maskapai yang tepat ya, apalagi Garuda Indonesia memang memiliki rute yang cukup banyak untuk penerbangan lokal maupun internasional. Berhubung sebentar lagi saya akan melakukan perjalanan yang lumayan jauh, sepertinya asuransi perjalanan dari Allianz ini perlu saya pertimbangkan.

So, Belum terlambat untuk sadar asuransi, persiapkan diri dengan asuransi perjalanan agar terbang kemanapun menjadi tenang.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Allianz Writing Competition 2014

banner allianz