Ketika semua anak sedang menikmati masa indah di usianya, saya dan adik-adik saya malah harus rela menunggu Bapak yang tergolek lemah di sebuah Rumah Sakit di Bandung. Sedih, pasti. Miris, apalagi. Saya memutuskan untuk jadi kakak yang baik untuk adik-adik saya. Saya bercita-cita akan menjaga Ibu dan menyayanginya lebih besar lagi dari yang sebelumnya. Kala itu, saya masih duduk di bangku SD kelas 3. Bronchitis menggeroti tubuh Bapak.

Begitu banyak kisah berharga dalam hidup kita. Diantaranya bahkan sangat sulit terlupakan karena meninggalkan kenangan yang begitu mendalam. Tidak pernah terpikir oleh saya akan menjadi warga Bandung selama kurang lebih 3 tahun. Saya, kedua adik laki-laki saya dan ibu akhirnya memutuskan pindah sementara di Bandung.

Setelah ibu rajin berkirim surat untuk bapak, kami anak-anaknya diminta untuk menuliskan balasan surat-surat tersebut. Kala itu, berkirim surat adalah cara berkomunikasi dengan bapak yang paling disukai oleh kami sekeluarga. Kami bisa menulis dengan tangan-tangan mungil kami, menyampaikan isi hati kami dan yang paling penting menuliskan apa yang ibu perintahkan di dalam tulisan tersebut. Saya masih ingat betul, kalimat penutup yang selalu ada di dalam setiap surat untuk bapak, “Pak, jangan selingkuh ya, jangan mau sama perempuan lain, kami semua sayang Bapak”.

Di usia yang masih kanak-kanak, tentu hal itu masih sulit saya terima. Saya dengan senang hati membantu ibu untuk menuliskan kalimat itu. Hanya itu. Beberapa waktu kemudian, akhirnya bapak meminta kami semua pindah ke Bandung, tinggal di Bandung selama bapak berada disana. Bapak disekolahkan oleh pemerintah, dulu namanya tugas belajar di sebuah kampus di Bandung, Politeknik ITB. Bapak adalah seorang lulusan STM dan bekerja di Departeman Pekerjaan Umum sejak lulus STM. Karena ingin mendapatkan kehidupan dan karir yang lebih baik, tentu saja perihal disekolahkan itu membuat gembira kami semua, terutama ibu.

Singkat cerita, kami pun pindah sekeluarga ke Bandung bersama kak Lin, anak tertua dari kakak ibu saya. Naik bis ekonomi ALS (Antar Lintas Sumatera), perjalanan jauh sekali 3 hari 2 malam dari Sumatera Utara menuju Jawa Barat. Kami melewati perjalanan pertama terjauh saat itu.

Akhirnya kami sampai di Bandung. Tahun 1993 tepatnya, mata kami berkeliaran menyaksikan seperti apa kota Bandung itu. Di terminal, begitu banyak orang lalu-lalang. Semuanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Kami dijemput bapak. Bapak terlihat sehat saat itu. Tidak ada yang aneh dengan kondisi fisik bapak, hanya tubuhnya terlihat mengurus. Mungkin karena tidak ada ibu yang mengurus makannya, pikirku.

terminal-Cicaheum-rodame-com

Penampakan Terminal Bus Cicaheum Tahun 2011 (Sumber Gambar : bandungview.info)

Saya pun masuk sekolah. Kedua adik laki-laki saya masih balita. Saya pun menjadi murid pindahan di SD Negeri yang persis bersebelahan dengan terminal Cicaheum. Tak lama berselang setelah masuk sekolah, saya lupa tepatnya kapan, yang jelas saat itu kami berkumpul di sebuah rumah sakit swasta di Bandung. Kalau tidak salah ingat nama rumah sakitnya adalah Santo Yusuf Bandung. Bapak terlihat sangat kurus, hanya tulang-belulang yang berbalut kulit. Saya menangis. Sedih karena ketakutan. Takut bapak pergi, meninggalkan kami semua. Takut bapak meninggal. Takut sekali. Ibu saya tak henti-hentinya menitikkan air mata sambil terus memegang tangan bapak dan mengelus wajahnya.

“pak, kata dokter bapak kena bronchitis akut, bapak harus berhenti merokok, kami sayang bapak, kami tidak ingin kehilangan bapak, tolong berhenti merokok, demi aku dan ketiga anak kita”, seruan ibu dengan deraian air mata.

Kematian begitu dekat. Saya tidak menyangka kepindahan kami sekeluarga ke Bandung yang tujuannya untuk bersama-sama dengan bapak malah menjadi duka. Ibu terus berdoa sembari menasihati kami untuk saling sayang satu sama lain, selalu sayang dan mendoakan bapak yang sedang sakit.

Keajaiban pun datang. Entah sudah berapa lama bapak dirawat intensif di rumah sakit. Saya tak ingat pastinya. Namun, bapak akhirnya pulih kembali dan bisa berkumpul dengan kami sekeluarga. Keajaiban tak berhenti sampai disitu. Penyesalan karena merokok yang berlebihan di masa muda, rasa sakit yang pilu saat dirawat di rumah sakit, tangisan istri dan anak-anaknya, membuat bapak memutuskan berhenti total merokok. Hingga sekarang bapak masih bersama kami dan tidak sepuntung rokok pun diisapnya kembali.

Bandung, memang kota yang penuh kenangan. Bagi saya dan keluarga, kota Bandung bukan saja indah dan manis tapi juga sangat bersejarah. Bandung menjadi sebuah keajaiban. Titik balik berhentinya bapak merokok, kembalinya bapak dari ambang kematian.

Unforgettable Bandung, Unforgettable Memories

“Tulisan ini diikutkan dalam niaharyanto1stgiveaway : The Unforgettable Bandung”

Banner-giveaway-unforgettable-bandung-rodame